Saturday, March 17, 2012

Refleksi Bincang Edukasi #5 di Bandung


Pagi – siang tadi, saya hadir di Bincang Edukasi di Bandung. Bertempat di Boemi Nini, sebuah tempat yang walaupun kecil suasananya nyaman dan ngendonesia sekali. Pengunjung kabarnya ada seratusan lebih, di luar perkiraan panitia yang menduga akan dihadiri sekitar 70-an pengunjung. Pengunjung duduk lesehan, sebagian di atas tikar di lapangan rumput. Asik. Di hari ini ada empat orang yang diminta berbagi secara singkat tentang visi dan proses menjalankan sesuatu dalam konteks pendidikan. Sebuah forum yang saya pribadi melihat sangat dibutuhkan sebagai wadah saling berbagi dan saling belajar untuk memperbaiki dunia pendidikan di Indonesia.

Sesaat sebelum giliran saya berbagi, saya baru menyadari kecermatan teman-teman kurator (Deta Ratna Kristanti dan Ardanti Andiarti) memilih para pembicara. Disadari atau tidak presentan (terlepas dari apa yang dibicarakannya) mewakili wilayah pendidikan yang berbeda. Puti bercerita tentang Rumah Mentari, bagaimana Puti dan teman-temannya menyentuh anak-anak yang seakan tidak tersentuh pendidikan yang semestinya. Rumah Mentari dikembangkan di daerah Dago Utara, bersama teman-teman volunteer – berbagi cahaya dan semangat untuk anak-anak untuk bisa belajar banyak hal. Kandi dan Komunitas Sahabat Kota beranjak dari keprihatinan atas kota Bandung yang tidak lagi ramah dan semakin berjarak dari warga kotanya – khususnya anak-anak. KSK menggerakan sesama muda melakukan hal positif menjadi fasilitator dan mendampingi anak-anak di Bandung untuk mengenal kotanya lebih dekat. Anyi dan Ibut datang dari sudut pandang yang sangat berbeda – bergerak dari bagaimana musik menjadi komoditi industri – bukan lagi sebagai media ekpresi dan mengapresiasi kehidupan – terutama dalam proses pendidikan anak-anak. Save Our Music – musik kitapun harus kita selamatkan. Sedangkan saya berbagi cerita bagaimana Rumah Belajar Semi Palar dibangun agar menjadi wadah pendidikan anak-anak secara utuh (holistik) – supaya anak-anak bisa berkembang dengan segala potensinya secara utuh – di dalam sebuah lembaga pendidikan formal (sekolah).

Dari sudut lain, segala keprihatinan yang mendorong teman presentan untuk melakukan apa yang dilakukannya sekarang di komunitas / institusinya seperti menjadi gambaran bagaimana dunia pendidikan di Indonesia memiliki masalah di berbagai sudutnya. Bahkan untuk anak-anak yang memiliki kesempatan bersekolah. Dunia pendidikan memang kompleks luar biasa. Sepintas tampak sederhana dan sangat terprediksi segala sesuatunya. Tapi dengan mudah kita menemukan sudut-sudut yang bermasalah, tidak terperhatikan, atau perlu dibenahi. Ibarat puncak gunung es yang bisa kita lihat / amati di atas permukaan, sementara kita tidak tahu apa yang tersembunyi di kedalaman lautan. Kita perlu mengatasinya bersama, bekerja sama mengolahnya dari berbagai arah. Kenapa forum-forum seperti ini jadi kebutuhan besar bagi banyak dari kita, semestinya karena memang pendidikan di Indonesia dalam banyak hal harus diperbaiki.

Satu hal yang menjadi kesamaan adalah teman-teman semua (termasuk Rumah Belajar Semi Palar) mengawali langkah dengan berpijak dari sebentuk keprihatinan. Saya yakin teman-teman presentan (Puti, Kandi, Anyi dkk.) ingin membagikan hal yang sama, apapun yang bisa kita lakukan, di manapun adanya, bagaimanapun caranya, sebesar atau sekecil apapun, mendidik, membangun orang lain adalah hal sangat bisa kita lakukan. Kalau kita punya secuil keprihatinan, kita perlu berhenti mengomel atau berkeluh kesah dan melakukan sesuatu yang nyata, melalui apa yang kita bisa.  Seperti kata Anyi, daripada kita berpikir mencari-cari apa yang mendorong kita harus melakukannya, kita perlu berpikir sebaliknya, hal apa yang membuat kita tidak berbuat sesuatu?

Saya pribadi berpikir, kalau pertemuan-pertemuan semacam ini bisa menyalakan sepercik semangat dan keyakinan dalam diri teman-teman yang hadir, memberikan seberkas inspirasi dan motivasi untuk mulai melakukan sesuatu – melalui pendidikan, forum ini sudah memberikan hasilnya. Sebesar apa hal yang dilakukan saya kira hal itu tidak penting. Kalaupun ada seorang yang terinspirasi untuk mendampingi satu orang di luar dirinya (misalnya seorang anak di lingkungan sekitar rumah tinggal kita) saya kira hal itu sudah luar biasa. Kita bisa menjadi cahaya cahaya buat lingkungan sekitar kita. Memang di akhir pertemuan saya dan beberapa teman sempat berbincang dan beberapa teman bercerita tentang apa yang sudah dan ingin mereka lakukan. Senang sekali saya mendengarnya.

Suatu kehormatan bisa berbagi di Bincang Edukasi. Sebuah forum terbuka untuk pendidikan Indonesia yang diinisiasi Kreshna Aditya dan teman-teman. Sungguh menyenangkan melihat bahwa semua yang hadir membawa sesuatu ke pertemuan tadi. Ada satu energi yang mengikat semua yang hadir tadi. Saya yakin apa yang mendorong semua yang hadir di forum tadi, mulai dari para pengunjung, kurator, presentan, adalah semangat untuk pendidikan Indonesia. Bagaimanapun caranya, sebesar apapun skalanya. Terima kasih buat semuanya.



Thursday, March 8, 2012

menuju Earth Hour 2012 : sebuah refleksi

Hari Minggu yang lalu, tanggal 4 Maret 2012, sekelompok manusia berkaos hitam bergambar huruf besar 60+ berkumpul di area Car Free Day - Dago. Tulisan ini bukan melambangkan usia 60 tahun ke atas, tapi kelompok ini berada di sana untuk mengampanyekan gerakan global Earth Hour... 60 menit dari waktu kita untuk sebuah langkah bersama membangun kesadaran tentang planet kita, planet bumi : Earth Hour.

Sederetan teks pendek di layar hape-ku yang aku terima dari seorang teman mendorong aku untuk menuju ke tempat yang sama. Pagi-pagi sepeda kesayangan aku siapkan dan menggoweslah aku ke Dago untuk bergabung dengan teman-teman di sana.

Sudah sejak tiga tahun ini aku bersama keluargaku di rumah ikut mematikan lampu - satu jam dari jam 20.30 sampai jam 21.30, seperti jutaan manusia penghuni bumi di banyak tempat di seluruh dunia... Sepertinya bukan hal sulit, tapi dilihat-lihat tidak banyak juga yang melakukannya. Banyak wajah-wajah penuh tanda tanya (dan curiga) yang muncul pada saat mereka bertemu dengan para volunteer Earth Hour ini. Tentunya ini menjadi alasan utama kenapa rekan-rekan dari berbagai komunitas - maupun individu berkeliaran di Dago membawa papan2 informasi dan mengajak pengunjung Car Free Day untuk paling tidak mulai mengenal apa yang disebut Earth Hour... 

teman-teman volunteer Earth Hour 2012

komitmen-komitmen yang diberikan untuk Earth Hour dan gerakan hemat energi...

Pak Sariban, tokoh lingkungan hidup kota Bandung yang membawa semangat luar biasa...
Buat aku pribadi, Earth Hour akhirnya bukan sekedar mematikan lampu. Waktu 60 menit ini setiap tahun ibarat menjadi momen perenungan, kontemplasi, tentang relasi aku sebagai manusia-satu individu penghuni planet bumi dengan planet bumi yang menjadi tempat berpijakku sepanjang hidup. Memang menjadi pas, saat kita mematikan lampu dan segala peralatan elektronik. Suasana menjadi hening, gelap... beralih dari suasana yang biasanya didominasi benderang cahaya lampu, kilau layar bergambar dan segenap suara yang muncul dari kotak kaca di ruang keluarga...

Saat kita mematikan lampu dan segala peralatan elektronik, seakan kita kembali ke situasi primitif saat  setiap malam setelah beraktifitas manusia berada dalam situasi hening, kontemplatif, di mana dengan segera manusia merasa kecil berada di tengah kebesaran alam semesta dan Sang segala Pencipta. Teknologi memang mudah membuat manusia menjadi pongah dan arogan, karena manusia menjadi mampu memotong jarak, menghilangkan waktu, membongkar keheningan, merasa kuat dan perkasa. Akibatnya, manusia jadi kehilangan kebijaksanaannya, lupa diri, lupa pada kedebuannya. Lupa bahwa manusia adalah hanya sebagian kecil dari kebesaran alam semesta dan penciptanya... 

Konon planet bumi-pun punya jiwa, punya spirit, apa yang dikenal sebagai Gaia. Bumi adalah sesuatu yang 'hidup'. Aku percaya itu. Karenanya apabila kita tidak cukup memberi perhatian untuk planet kita ini, relasi kita akan terputus, dan siklus kehidupan (circle of life) pada akhirnya akan terganggu juga. Global Warming adalah salah satu gejalanya. Aku sering mengistilahkannya sebagai bumi yang sedang sakit (meriang) - sedang demam. Karena kita semua, umat manusia melalui segala bentuk aktifitasnya terus memborbardir planet bumi sendiri dengan racun dalam berbagai bentuk limbah. Sementara organ-organ tubuh yang penting buat planet bumi terus kita hilangkan keberadaannya (fungsinya) - seperti gambar di samping ini. Hutan (paru-paru dunia) terus rusak, sampai suatu waktu bumi termasuk segala mahluk hidup di atasnya tidak bisa bernafas lagi... Melelehnya tumpukan es di kawasan Kutub Utara yang berfungsi sebagai regulator suhu bumi sekaligus meregulasi iklim bumi melalui pergerakan air laut di samudera-samudera di berbagai bagian bumi menjadi penyebab krisis iklim. Bencana alam yang semakin hari semakin kerap dan tidak terprediksi. Bumi kita sedang sakit.

Manusia perlu kembali ke kesadaran mendasar bahwa ia adalah bagian dari jejaring kehidupan di bumi dan alam semesta ini. Manusia bukan penguasa planet bumi, bukan pemiliknya, ia tidak berdiri di puncak piramida kehidupan di planet bumi, tapi bagian dari lingkaran / jejaring mahluk hidup di dalamnya. Manusia dengan anugerah kecerdasannya, semestinya mampu menjaga dan memelihara bahwa lingkaran kehidupan semua mahluk di planet bumi ini tetap lestari, alih-alih menguasai dan mengekploitasi planet bumi dan segala isinya. Kalau direnungkan, manusia-lah satu-satunya spesies mahluk hidup yang meracuni dan merusak tempat hidupnya sendiri. Betapa arogannya kita umat manusia...
manusia adalah bagian dari lingkaran kehidupan di muka bumi ini...
Entah seberapa jauh Earth Hour ini bisa membangun kembali kesadaran kolektif kita mengenai keberadaan manusia di planet bumi ini. Kalau kita di seluruh muka bumi berhasil bersepakat, bergerak bersama untuk mematikan lampu dan peralatan listrik walaupun hanya satu jam, ini menjadi sebuah penanda yang menggembirakan. Bisa jadi ini juga mencerminkan kesadaran kita bersama tentang ketidak-bijakan kita mengenai pemakaian energi - yang melukai dan merusak tempat hidup kita sendiri. Kalau memang itu perkaranya, tampaknya kita masih punya harapan, planet bumi ini masih punya harapan. Mudah-mudahan.

Sunday, January 15, 2012

belajar etos kerja dari montir bengkel

Sudah hampir 3 minggu, AC mobilku rusak. Sadar betul sih pemakaian AC itu tidak ramah lingkungan, tapi ternyata kendaraan2 jaman sekarang tidak dirancang agar dapat digunakan tanpa AC. Begitu AC rusak, jendela ditutup di saat hujan turun, kaca jendela jadi berembun dan kita tidak bisa melihat keluar... Mobilku yang dulu, VW kodok tahun 68, aman-aman saja saat dikendarai tanpa AC (karena memang tidak ada AC-nya) saat hari hujan. One ingenious design, that Volkswagen.


Tapi ini bukan cerita tentang mobil. Sabtu kemarin aku membawanya ke satu bengkel kecil di Jln. Abdurrahman Saleh. Bukan Authorized Service Center, bukan bengkel resmi maksudnya, tapi penanda di depannya menyebutkan Service AC. Akupun ke sana di pagi hari dan disambut dua orang montir dengan pakaian khasnya (werkpak) menanyakan apa yang perlu dibantu.

Di awal sepertinya biasa-biasa saja. Cukup meyakinkan kelihatannya, tapi mulai berbeda saat mereka mulai membongkar bagian bagian dari komponen AC yang bermasalah. Dua montir ini, pak Enjang dan kang Toni, mulai memperlihatkan keahliannya. Tapi bukan sekedar keahliannya, tapi juga kehati-hatian mereka terhadap yang dilakukan. Teliti, berhati-hati, sabar... Etos kerja yang sudah tidak lagi banyak terlihat. Mereka menggunakan alat yang tepat untuk berbagai kegiatan. Sangat teliti, bahkan mereka mencatat, beberapa sekrup yang sudah tidak lagi lengkap. Hal yang sudah semakin sulit kita temukan.

Sehari kemarin, mereka kerja penuh, bahkan melewatkan waktu istirahatnya. Hal-hal kecil yang sebetulnya bukan pekerjaan mereka-pun sempat mereka perhatikan. Sekrup yang tidak ada dilengkapi. Jalur-jalur selang yang sudah berubah dikembalikan ke posisinya semula. Mereka bekerja sangat fokus. Profesional. Saluran-saluran AC yang dibersihkan tidak ada yang terlewat bahkan untuk posisi-posisi yang sulit dijangkau atau dikerjakan sekalipun. Mereka bahkan sempat menawarkan untuk membubuhkan pewangi kendaraan di dalam saluran AC untuk menghilangkan bau bensin yang dipakai untuk membersihkan saluran-saluran AC. Setelah selesai, semua bagian mobil yang kotor karena tangan-tangan mereka yang berminyak mereka bersihkan.

Di akhir hari, setelah pekerjaan semua selesai, mereka baru bercerita, "biasana mah dinten Sabtu tos beres tabuh tilu-an, Pa." sementara waktu sudah menjelang 5 sore. Yang menarik buat aku, hari itu bos mereka tidak ada di tempat sejak awal sampai selesai mereka mengerjakan semuanya. Tidak ada yang mengawasi, tapi mereka melakukan pekerjaan dengan cara bekerja yang buat aku cukup mengagumkan.

Jadi ya begitulah, satu hari itu walaupun aku harus 'nongkrong' di bengkel seharian, aku belajar sesuatu dari teman2 baru, dua orang montir yang setelah satu hari menjadi teman ngobrol dan jadi guruku hari itu. Semoga aku ingat pengalaman hari ini, saat menyalakan kembali AC mobil yang sudah kembali jadi dingin.

Saturday, January 14, 2012

menerima, belajar dan berbuat


Menerima, to accept atau nrimo (boso jowo) rasanya jadi kata kunci dari seluruh proses yang aku jalani selama membawa Rumah Belajar Semi Palar sampai di titik ini. Kata kedua yang sejak dulu berusaha aku pegang adalah belajar. Pertama, pembelajaran adalah sesuatu yang berjalan sepanjang hayat. Ditambah lagi, bahwa Semi Palar menjadi pilihan untuk memfasilitasi pembelajaran anak-anak tentunya hal belajar menjadi esensi dari segala apa yang kita lakukan di dalamnya. Seperti kata Bpk. Komaruddin Hidayat, “guru (pendidik) yang berhenti belajar harus berhenti mengajar”. Kalimat ini adalah oleh-oleh para kakak (Kak Caroline, kak Wienny dan kak Taufan) dari Konferensi Guru Nusantara bulan November 2011 yang lalu di Jakarta. Lalu belajar apa? Nah ini sangat berkaitan dengan kata pertama ‘menerima’. Menerima bahwa segala sesuatu yang masih belum, kurang atau tidak semestinya, semuanya adalah bahan pembelajaran buat kita. Untuk menerima, tentunya kita harus sangat terbuka terhadap hal-hal tersebut. Setelah mampu menerima, kita baru punya peluang untuk belajar. Kemudian setelah belajar dengan mengolah, memahami dan menghayati tentunya kita harus belajar untuk berbuat – melakukan sesuatu.

Menerima kemudian aku sadari berkaitan erat juga dengan hal mensyukuri. Hal ini juga menjadi bahan renungan dan banyak obrolan di jeda akhir tahun ini. Pada saat kita tidak menerima suatu situasi, akhirnya memang tidak mungkin juga kita mensyukurinya. Kalau kita yakini bahwa segala sesuatu yang terjadi membawa makna (everything happens for a reason) tentunya segala sesuatu peristiwa itu baik adanya. Akupun semakin menghayati bahwa segala proses yang berjalan sudah ada yang mengaturnya; akhirnya semua kembali ke sejauh mana aku bisa menghayati situasi-situasi yang ada, dan melangkah.

Biasanya kita hanya bersyukur atas hal-hal yang baik yang kita terima atau alami.  Jarang sekali kita mensyukuri hal-hal yang sebaliknya. Kesadaran kita akan kekurangan yang ada adalah pijakan luar biasa yang disediakan bagi kita untuk melangkah maju. Kita juga sering lupa mensyukuri hal-hal yang biasa. Hal-hal sehari-hari yang rutin dan senantiasa ada di depan kita sering lepas dari perhatian kita. Kita mudah sekali untuk ‘taking things for granted’. Tapi sepertinya begitulah manusia. Kalau direnungkan kembali, bahwa Semi Palar – dengan segala kekurangannya – di tahun ini masih diberi kesempatan untuk sehari-hari memfasilitasi anak-anak yang semangat belajar untuk terus berkembang – menemukan bintang mereka masing-masing, adalah sesuatu yang luar biasa. Dan selama eksistensinya, menerima, belajar dan berbuat adalah jadi kata-kata kunci yang terus harus dihayati.

Aku meyakini, segala kesulitan dan tantangan yang ada adalah satu paket dengan pilihanku di titik awal perjalanan ini, bahwa ini adalah arah perjalanan yang aku ambil. Aku berdoa semoga semua teman2 yang juga memilih untuk melangkahkan kaki di jalan yang sama : menjadi pendidik di Semi Palar bisa menghayati hal yang sama juga.
Catatan pendek ini aku jadikan posting pertama di tahun 2012. Semoga semua yang berjalan di tahun ini bisa aku jalani berdasarkan keikhlasan menerima, belajar dan berbuat.

Thursday, December 8, 2011

Guru, Prajurit dan Ulama


Tulisan ini terinspirasi dari obrolan beberapa minggu lalu di kediaman Abah Iwan bersama Abah, kang Erik, kang Aat, mas Ipong, dan mas Imam Suryantoko. Saya kebetulan mampir ke tempat Abah dalam rangka minta kesediaan beliau sharing di Semi Palar kepada orang tua – sebagai para pendidik.

Abah berkisah bahwa masyarakat Baduy Dalam, misi hidupnya adalah "tapa saendeng-endeng kanggo bangsa jeung nagara"; (mudah-mudahan saya tidak salah tulis). Terjemahan bebasnya kira-kira, bertapa seumur hidup bagi bangsa dan negara. Buat saya ini sesuatu yang luar biasa mengetahui ada sekelompok kecil masyarakat tradisi yang secara sadar menentukan – secara kolektif – pilihan hidupnya adalah untuk keberlangsungan suatu bangsa. Dalam pola pikir masyarakat modern, sekilas hal ini akan tampak konyol, bahkan bodoh, tidak masuk akal.

Obrolan kamipun berlanjut, sampai akhirnya muncul semacam kesimpulan, bahwa semestinya ada tiga komponen bangsa yang seharusnya berperan seperti masyarakat Baduy Dalam itu : Guru, Prajurit (militer) dan Ulama. Kalau ketiga komponen bangsa ini bisa kuat, kokoh, mereka inilah yang akan menjadi pilar utama konstruksi sebuah bangsa agar bisa menjadi bangsa yang kuat dan besar. Tapi kemudian tantangannya menjadi luar biasa, ibarat apa yang diungkapkan masyarakat Baduy Dalam sebagai "tapa saendeng-endeng kanggo bangsa jeung nagara". Perlu ada kesadaran diri luar biasa bahwa apa yang dilakukan sebagai pilihan hidup adalah bukan untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk kepentingan individu, tapi untuk orang lain untuk lingkaran di luar diri mereka… Seperti mas Anies Baswedan (pendiri gerakan Indonesia Mengajar) mengistilahkan para guru sebagai orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

bersambung...

Saturday, November 26, 2011

surat wasiat Baden Powell

Pramuka-Pramuka yang kucinta :
Jika kamu pernah melihat sandiwara "Peter Pan", maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikianlah halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri …………..
Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah !

Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !

Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam janji Pramukamu meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi - dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.

Temanmu, Baden Powell

Tuesday, November 15, 2011

foto :: merentang di atas air




merentang di atas air

di mataku, suasana ini memunculkan komposisi yang keren. entah apanya... 
apakah kontrak bayang-bayang pepohonan terhadap arus sungai di bawahnya, 
pantulan sinar matahari di atas batang-batang bambu.  
atau memang momen yang ada saat aku di sana yang mendorongku untuk merekam gambar ini...
ciwangun, 29 Maret 2011

Wednesday, November 9, 2011

ibarat membangun Tembok Besar Cina

"Siapa yang tahu, berapa waktu yang dibutuhkan untuk membangun - menyelesaikan Tembok Besar Cina?", pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Anies Baswedan, dalam sebuah forum di bulan Juli lalu di Gedung Indonesia Menggugat. Hadirin mulai melontarkan jawaban "30 tahun!", "100 tahun!"... Jawaban yang betul, ternyata adalah 300 tahun. Luar biasa! Kalau kita perhitungkan satu generasi adalah 30 tahun, berarti pembangunan Tembok Besar Cina perlu waktu 10 generasi. Perlu beberapa dinasti kerajaan untuk menuntaskan satu bangunan luar biasa ini, satu-satunya objek di bumi yang konon bisa terlihat dari luar angkasa.

Apa yang ingin disampaikan mas Anies? Ilustrasi Tembok Besar Cina, ternyata mengandung banyak poin penting di dalamnya. Pertama, adalah keyakinan besar pada bangsa Cina pada waktu itu bahwa bangsanya akan tetap ada, tetap eksis di generasi demi generasi setelah mereka perintisnya sudah tiada. Ada perspektif ke masa depan yang sangat panjang, ada keyakinan tentang kejayaan bangsa mereka yang dihayati oleh semua yang ikut terlibat dalam proyek besar tersebut saat itu. Mas Anies mengajak kita yang hadir untuk membayangkan apa yang dipikirkan oleh mereka yang bertugas memasang batu pondasi bangunan tembok tersebut. Kita bisa bayangkan bahwa mereka mestinya paham bahwa mereka tidak akan menyaksikan bagaimana tembok tersebut akan selesai nantinya. Walaupun demikian, batu demi batu tetap dipasangkan, generasi demi generasi tetap menjalankan tugas berat ini untuk kejayaan bangsanya... Mungkin cukup banyak dari mereka yang melakukannya di bawah paksaan, tapi membayangkan prosesnya tetap ini adalah karya luar biasa. Mestinya kita juga bisa menyimpulkan bahwa ini juga menggambarkan kesetiaan dan keyakinan teguh terhadap apa yang disebut proses. Proses yang berjalan selama 300 tahun.

Pendidikan saya kira sangat sejalan dengan ilustrasi ini. Apa yang dilakukan para pendidik (guru, orang tua) terhadap anak-anak kita adalah proses yang luar biasa panjang. Apa yang kita lakukan adalah membantu anak menemukan dan meletakkan keping demi keping bagian kecil dari bangunan individu yang wujudnya baru nampak di sekian tahun mendatang. Seperti apa kita hari ini adalah hasil dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh para pendidik kita dulu.

Saya teringat dialog dengan kak Marisa Moeliono - teman diskusi kami di Semi Palar khususnya mengenai bidang psikologi. Beliau merespon pertanyaan kami kurang lebih begini :"kak Marisa, kita di kelas sudah melakukan ini, itu, memberi tahu, mengajak diskusi, mengingatkan, tapi kok di anak-anak sepertinya tidak ada perubahan?". Respon kak Marisa saat itu sederhana, "kakak-kakak, kita itu harus sabar... apa yang kita lakukan hari ini, hasilnya mungkin baru muncul setelah anak-anak SMP atau SMA, bahkan setelah mereka dewasa nanti. Kita hanya harus yakin bahwa setiap hal positif apapun yang kita lakukan akan melengkapi mereka. Dan apa yang kita berikan sebagai pendidik, akan muncul kelak pada waktunya". Intinya, saya kira adalah bahwa kita harus terus memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan tugas pendidikan kita bagi anak-anak... Kita lakukan, tanpa harus banyak berharap atau menuntut bahwa kita ingin bisa melihat hasilnya saat ini juga. Karena pendidikan ini adalah sebuah proses, karena apa yang kita lakukan bagi anak-anak adalah membantu mereka membangun diri mereka sendiri...

Dalam kesempatan lain, sebuah obrolan di dalam sebuah forum yang berbeda menyinggung persoalan, ini di mana saya dan teman-teman membahas bagaimana pemerintah mengelola kebijakan2 pendidikan yang memayungi segala upaya penyelenggaraan pendidikan di negeri ini... Ganti menteri ganti kebijakan. Sebuah pola yang sudah kita kenali sejak dulu. Hal ini menggambarkan bahwa memang para pemimpin bangsa ini tidak punya visi. Pemimpin kita tidak tahu, mau membangun apa di negeri ini. Atau, kalaupun punya visi, tidak mampu memimpin segenap lapisan bangsa yang dipimpinnya untuk bergerak menuju ke visi tersebut. Mau dibawa ke mana bangsa ini. Apa yang selalu dilakukan adalah membongkar kembali apa yang sudah dibangun sebelumnya. Belum ada hasilnya, begitu ganti pengelola, kebijakan juga otomatis diganti. Akibatnya, bangsa ini tidak pernah jadi apa-apa karena tidak pernah membangun apa-apa.

Mas Anies bilang, bangsa kita ini  adalah orang-orang yang senangnya gunting pita. Senang upacara dan peresmian doang. Kerjanya nol besar... Mengutip kata-kata Dahlan Iskan, pada hari pengangkatannya menjadi Meneg BUMN, dia bilang begini, "Saya sudah titip kepada para Direktur BUMN, dalam 3 bulan ke depan, harus mengurangi jumlah rapat-rapat, membuat laporan dan lain sebagainya sampai 50%. Jangan sampai kita berpikir kalau sudah rapat dan membuat laporan, kita itu sudah bekerja. Lebih baik waktu yang digunakan untuk rapat-rapat dan membuat laporan itu kita manfaatkan untuk bekerja." Keren! Uraian itu datang dari seorang Dahlan Iskan yang dalam jangka waktu 3 tahun mampu memutar-balikkan performansi PLN dari situasi semrawut dan perlu disubsidi kiri kanan, menjadi badan usaha yang profesional dan profitabel. Luar biasa. Ini sebetulnya menandakan kita bisa, kalau kita mau...

Siang tadi, di sebuah forum tentang Pendidikan Nilai yang diselenggarakan oleh romo Ferry Sutrisna, saya berkenalan dan berbincang dengan Bpk. Teguh Purwanto. Beliau sekarang bekerja di Departeman Kehutanan, sebagai kepala biro Ekowisata dan Jasa Lingkungan. Seorang yang saya lihat punya visi luar biasa. Beliau memandang bahwa bangsa Indonesia punya potensi luar biasa. Beliau bercerita bagaimana setelah Bom Bali I dan II, sektor pariwisata nyaris ambruk karena hampir 70% wisatawan asing berhenti masuk Indonesia. Tapi beliau dan timnya yakin penuh bahwa Indonesia bisa bangkit dengan mengandalkan diri kita sendiri. Dan dalam prosesnya ini memang terbukti. Saat ini beliau sedang bekerja membangun pariwisata di banyak tempat di Indonesia, salah satunya di Jawa Barat adalah Kawah Putih, yang dalam waktu singkat menjadi sangat populer bahkan ke manca negara. "Potensinya besar, tapi harus dibangun dengan kerja sama banyak pihak." katanya. Saya tanya, "minat asing bagaimana pak?" Beliau bilang, "Kita sedang fokus untuk membangun kerja sama dengan swasta nasional. Minat asing memang banyak, tapi kita tidak ingin seperti Bali yang sekarang 70% sudah dikuasai asing". Acung jempol buat Pak Teguh. Saya sepakat. Kita harus yakin dengan diri kita sendiri...

Menyambung tulisan di atas, bangsa yang besar dibangun dari individu yang berkualitas. Bukan dari sistem ekonomi atau banyaknya industri yang dimiliki, bukan juga dari angka2 penghasilan perkapita, atau angka-angka statistik yang bisa dimainkan dan dimanipulasi. Individu yang berkualitas dan berkarakter dan cinta bangsanya hanya bisa dibangun lewat pendidikan, di sekolah dan di keluarga. Sekali lagi, kalau kita mau, kita bisa membangun sesuatu yang luar biasa seperti dulu kita punya kerajaan Majapahit, seperti candi Borobudur... sesuatu yang seperti Tembok Besar Cina... Karena sebetulnya, kita mampu.


Saturday, November 5, 2011

Memandang Situasi (Permasalahan) Pendidikan di Indonesia


Pendidikan: satu kata ini punya bobot dan kompleksitas luar biasa tertanam di dalamnya. Sangat sulit apabila kita mencoba menguraikan atau mendefinisikan apa yang direpresentasikan oleh satu kata ini. Sama halnya seperti saat kita bicara tentang manusia. Kompleks, luar biasa kompleks. Kata ‘pendidikan’ di dalam benak saya mencakup di dalamnya kata-kata besar lainnya seperti : masa depan, manusia, proses, holistik, budaya dan masih banyak lainnya. Pendidikan sama sekali bukan satu hal yang sederhana, mudah diolah dan bisa dengan sekejap dipahami. Dengan demikian, apabila pengelolaan pendidikan tidak dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati secara tepat dan sesuai dengan kompleksitasnya, semestinya pendidikan juga berpotensi memunculkan banyak masalah. Walaupun dari sisi sebaliknya, pendidikan berpotensi menyelesaikan berbagai masalah kalau pertama-tama ia bisa dipandang secara tepat dan menyeluruh (holistik). Cara pandang, paradigma atau mind-set menjadi pijakan yang menentukan bagaimana kemudian kita bisa mengambil sikap dan tindakan (action) dalam konteks mengelola pendidikan.

Sejauh pengamatan selama ini, di republik ini tampaknya hampir segala permasalahan didekati dan dipandang dengan sudut pandang yang simplistik dan parsial. Hal ini sepertinya terjadi di semua level, dari pembuat keputusan dan penentu kebijakan (level birokrasi), lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, masyarakat, guru, orangtua murid. Masing-masing tampaknya punya kesulitan untuk memandang persoalan pendidikan secara tepat.  

Contoh sederhana – situasi yang sejak dulu kita alami – adalah bagaimana pemerintah memberlakukan Kurikulum Nasional, di mana segala sesuatunya distandarisasikan. Mulai dari materi – kurikulum, buku pegangan, tema, panduan pembelajaran, segala sesuatu ditentukan pemerintah – dengan sudut pandang meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini dilakukan tanpa meninjau lebih dalam substansi dan implikasi dari apa yang ditetapkan. Secara sepintas standarisasi merupakan solusi yang tepat untuk membangun pendidikan yang berkualitas. Tapi implikasinya luar biasa besar, karena di dalam pendidikan, banyak permasalahan yang perlu ditelaah sesuai konteksnya, banyak hal yang sifatnya kualitatif, dan tidak bisa dengan mudah distandarisasi. Contohnya, saat keberhasilan pendidikan hanya dipahami sebagai jumlah peserta didik yang lulus sekolah formal, memegang ijazah atau melek huruf - sesederhana itu - maka akan banyak hal penting bahkan esensial yang kemudian hilang dan terabaikan. Bahayanya, kita semua merasa proses pendidikan sudah berhasil dijalankan dan hasilnya seakan berkualitas, tapi karena substansi pendidikan yang sesungguhnya tidak tersentuh tentunya dengan segera bisa disimpulkan bahwa upaya pendidikan yang dijalankan adalah gagal.

Seragam nasional - salah satu contoh favorit saya - adalah salah satu contoh pendekatan simplistik. Kebijakan ini diterapkan pemerintah untuk ‘menghilangkan persepsi perbedaan’ di kalangan siswa. Tujuannya adalah supaya semua pelajar – di manapun juga – tampil serba sama. Walaupun kita tahu bahwa hakekatnya, perbedaan itu tetap ada dan sangat perlu dipertanyakan apakah perbedaan itu perlu dihilangkan? Apakah kecerdasan para siswa bisa dikelabui dengan cara ini, tentunya tidak. Secara substansial, kalau bicara pendidikan, semestinya yang dilakukan para pendidik adalah mengajak peserta didiknya untuk menerima dan menghargai perbedaan. Bagi mereka yang lebih mampu, kepekaan sosial dan empati adalah hal yang perlu ditumbuhkan. Sebaliknya bagi para murid yang secara ekonomi memang terbatas atau tinggal di pelosok, tantangan pendidikan bagi para guru adalah bagaimana membangun percaya diri dan keyakinan bahwa dengan belajar dan berusaha mereka bisa maju dan menjadi cerdas dalam konteks kehidupannya di desa.

Bagai satu kepingan dari satu gambar besar kehidupan bangsa dan bernegara, masyarakat pedesaan juga punya posisi dan kepentingan eksistensinya tersendiri – seperti halnya masyarakat yang hidup di perkotaan. Anak-anak yang tinggal di tepi rimba harus belajar dan menyadari adalah menjadi tugasnya untuk menjaga kelestarian rimbanya. Apakah setiap anak Indonesia harus paham bagaimana mengerjakan soal2 kalkulus, tentunya tidak. Sebaliknya kita butuh anak-anak Indonesia yang betul-betul memahami bagaimana seluk beluk rimba di tempatnya tinggal, bagaimana keragaman hayatinya, dan bagaimana menjaga kelestariannya agar membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan banyak orang. Bahwa anak-anak tersebut tidak bisa berbahasa Inggris atau mengoperasikan komputer, tentunya itu tidak membuat mereka menjadi lebih bodoh dan tidak bernilai.

Masalah dan kebutuhan pendidikan bagi anak jalanan, bagi anak di kota besar, bagi anak2 rimba ataupun yang hidup di gunung – dan sebaliknya di pesisir, tentu berbeda. Berbeda karena kebutuhan dan situasi kehidupan mereka berbeda. Kita tentu sepakat bahwa pendidikan adalah hak untuk semua, tapi apakah sasaran dan tujuan pendidikan harus disamakan untuk semua? Tentunya tidak. Tujuan pendidikan, kalau bisa didefinisikan sederhana sebagai upaya meningkatkan kemampuan individu mengolah kehidupannya menjadi lebih baik, tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan para peserta didiknya. Bisa dibilang, upaya pendidikan dimanapun harus dimulai dari sudut pandang dan pijakan yang sangat lokal. Bagi anak jalanan, kehidupan jalanan tentu adalah pijakan dasarnya – konteksnya. Bagi anak di desa, kehidupan di desa adalah situasi kehidupan nyatanya dan ini mutlak menjadi konteks pembelajarannya agar proses belajar anak2 berakar dan punya makna. (Dalam prosesnya, di satu titik tertentu bagi peserta didik tertentu, konteks pembelajaran bisa dan perlu berkembang menjadi lebih luas, bisa menjadi nasional, bahkan global.)

Sejauh apa yang saya pahami lewat diskusi dengan teman2, berkunjung ke beberapa sekolah maupun komunitas / kelompok non formal, dari mengalami, mengamati dan berusaha memahami seujung kecil dari samudera pendidikan, saya yakin persoalan pendidikan tidak mungkin diatasi dengan pendekatan atau cara pikir simplistik. Tidak ada cara mudah atau sederhana di dalam pendidikan. Kenapa demikian, jawabannya mudah. Karena manusia secara individual adalah entitas ciptaan Tuhan yang maha kompleks. Tempatkan manusia di dalam konteks sosial dan ekologinya, di dalam masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya, kompleksitasnya dengan sendirinya menjadi berlipat-lipat. Sistem pendidikan yang dibangun – dalam skala nasional, tentunya menjadi sangat kompleks.
Dalam skala lokal, sebetulnya bisa sangat sederhana. Saya kira penyelenggaraan pendidikan justru akan lebih berhasil apabila pemerintah berperan mengelola segala kerenikan lokalitas masyarakat kita dalam satu sistem pendidikan yang sifatnya memberdayakan lokalitas setiap daerah. Belum lama ini, Departemen Pendidikan Nasional kembali berubah nama menjadi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kebudayaan daerah yang begitu kaya dan beragam adalah sumber luar biasa bagi proses pendidikan masyarakatnya. Konsep-konsep otonomi pendidikan bisa sangat nyata diwujudkan di sini.

Buat kita, penting untuk kita sadari bahwa kita semua adalah output / keluaran dari proses pendidikan simplistik yang selama ini kita terima. Masyarakat kita adalah masyarakat yang pola berpikirnya simplistik, dan oleh karenanya tidak pernah pikir panjang – dan sulit berpikir komprehensif – sebagai hasil pola pendidikan yang dulu kita terima. Ke-instan-an sebagai salah satu dampaknya adalah suatu pola yang jadi biasa. Ingin serba cepat dan tidak sabar berproses. Kemudian soal dampaknya, bagaimana nanti… Hal itu yang terus terjadi. Dikombinasikan dengan budaya yang serba mementingkan kemasan dan penampilan, lengkaplah sudah kelemahan mendasar masyarakat kita. Saat pola pikir ini juga dibawa dalam pola-pola membangun sistem pendidikan bagi bangsa ini, kita akan terus terperangkap dalam situasi yang serba sama, terjebak dalam pusaran permasalahan bangsa yang itu-itu juga. Saya kira kesadaran ini penting dibawa oleh siapapun yang mengelola pendidikan dalam berbagai skala dan tingkatan, dari mulai pemerintah sampai keluarga. Dari kesadaran itulah kita punya harapan untuk bisa keluar dari pola pikir simplistik yang terus menjebak bangsa kita dan menghambat kita semua untuk maju.