Sunday, April 12, 2015

menantikan 'The Jigsaw of the Universe", sebuah catatan perjumpaan



Sudah lama saya gak mboseh... sejak sebulan yang lalu punya kesempatan (dan motivasi tambahan) lagi untuk membebaskan sepeda kesayangan dan mengeluarkannya dari tempat parkirnya yang berdebu.

Sejak sebulan lalu, saya berkesempatan mengajak anak saya bersepeda di jalanan kota Bandung untuk sebuah aktivitas komunitas rutin di Taman Balai Kota. Bagi saya ini adalah kesempatan juga untuk beraktivitas fisik dengan bersepeda sambil menikmati suasana akhir minggu kota Bandung. 

Dari Balai Kota, biasanya saya mengarahkan sepeda ke arah utara. Di bilangan Dago Simpang ada kediaman teman dekat saya Yusuf yang seringkali saya jadikan tujuan untuk singgah dan berbincang. Teman sejak kuliah ini memang teman mengobrol yang mengasikkan. Selain teman saya itu, ayahnyapun teman berbincang yang luar biasa. Oom Hadi, biasa saya memanggilnya adalah seorang akademisi. Beliau pakar geologi dengan minat dan wawasan yang sangat luas. Seorang yang saya yakini gemar berpikir dan merenungkan banyak hal. Nama beliau adalah MM. Purbo Hadiwijoyo. Isu-isu ke-bahasa-an adalah salah satu minat terbesar beliau. 

Di hari ini, kebetulan beliau sedang duduk membaca buku di teras depan rumahnya sambil berjemur di sinar matahari pagi. Sayapun segera menyapa beliau, setelah entah berapa lama kami tak saling jumpa. Luar biasa melihat beliau dalam kondisi kesehatan dan kebugaran yang luar biasa. Ya, beliau sudah berumur 92 tahun. Beliau masih ingat betul siapa saya, masih ingat siapa dan di mana ayah saya bekerja dan lain-lainnya. Beliau sedang membaca majalah-majalah berbahasa Jerman, dan sewaktu saya mengungkap kekaguman saya tentang kebugaran beliau, beliau langsung mengambil salah satu majalah yang sedang dibacanya yang (lihat gambar di atas) bertemakan tentang Fitness. 

Selain dulu mengajar, beliau juga senang menulis buku. Saya beruntung sudah beroleh beberapa judul buku langsung dari beliau. Yang tak kalah luar biasa, di usianya yang sekarang inipun beliau sedang menulis sebuah buku dengan judul yang sangat menarik buat saya "The Jigsaw of the Universe". Judulnya sendiri belum final, oom Hadi dan Yusuf putranya masih berdiskusi judul mana yang lebih pas, apakah Puzzle atau Jigsaw, tapi saya membayangkan isinya akan sangat menarik mengenali hal-hal apa yang ada di benak beliau. Lagipula kata kunci kepingan (puzzle) dan semesta (universe) sedang jadi wacana yang sedang sangat menarik minat saya beberapa tahun terakhir ini. 

Yang jelas pertemuan dengan oom Hadi hari ini sangat inspiratif buat saya. Betapa beliau masih sangat produktif dan kreatif di usianya yang sudah sangat lanjut. Selain juga kondisi fisiknya yang luar biasa... Saat ini tulisan2 pemikiran beliau sedang dituliskan dalam sebuah blog... yang ingin segera saya intip apa isinya. Sambil bercerita tentang itu Yusuf berkisah juga bahwa sayapun punya sebuah blog... hanya saja sudah sangat lama tidak terupdate - karena waktu dan perhatian yang terbagi untuk juga memelihara blog Rumah Belajar Semi Palar. Walaupun begitu toh perjumpaan ini jadinya memicu saya untuk kembali menghembuskan kehidupan - menuangkan catatan2 perjalanan di jurnal daring ini - yang sudah cukup lama terbengkalai. 

Terima kasih oom Hadi, semoga tetap sehat dan produktif, tetap berbagi kepada sesama... Buku yang sedang dituliskan, The Jigsaw of the Universe sangat saya nantikan untuk bisa saya serap wacana2nya melengkapi kepingan pemahaman saya tentang semesta dan kehidupan kita manusia di dalamnya... Salam hormat oom Hadi. 


Wednesday, March 11, 2015

To Forgive

Tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan berdiri di depan sejumlah banyak orang dan memimpin mereka menuju suatu tempat yang akupun belum pernah kenal sebelumnya.

Sejak aku dilahirkan sekian tahun pada tanggal ini dulu dari rahim ibuku, dari kasih sayang kedua orangtuaku... hari ini aku berdiri di depan dan menapakkan kakiku selangkah demi selangkah ke arah yang aku rasa benar. Karena di sanalah aku merasa nuraniku menuntunku.

...

Monday, February 9, 2015

Pendidikan itu bukan Ujian


Ini curhatan saya yang sedang dalam proses menyusun kisi2 buat Ujian Sekolah SMP... Begitu banyak ya - bahkan sangat banyak - yang ternyata harus kita ujikan kepada anak-anak kita di akhir suatu jenjang pendidikan. Kalau teman2 buka dan amati poin-poin SKLnya begitu berat target kompetensi bagi anak-anak kita. Dan itu harus kita ujikan apakah betul anak-anak kita sudah mencapai kompetensi itu. Kalau SKL itu kita paparkan kepada mereka, sebelum mereka mendaftar ke SMP misalnya, bisa-bisa mereka urung mendaftar sekolah...

Guru dan para birokrat tidak akan pernah bisa berempati beban seperti apa yang dihadapi anak-anak. Penyusun soal hanya menyusun 50 soal untuk mata ujian tertentu... dan selesai. Anak2 kita akan berhadapan dengan 4 mata ujian UN, - yang juga diulang di Ujian Sekolah ditambah sekian banyak mata Ujian Sekolah tertulis yang tidak diujikan di UN ditambah lagi Mata Ujian Praktek...

Kami sendiri merasa sebagai pendidik merasa sudah meyakini dari amatan proses mereka, sudah cukup banyak yang sudah mereka jalani dan sudah melampaui poin2 kompetensi itu, TANPA harus melampaui sesi khusus berhari-hari menguji ketercapaian kompetensi itu. Ujian Nasional, Ujian Sekolah, yang terdiri dari Ujian Praktek dan Ujian Tertulis. Sekilas berhitung, 4 minggu setidaknya akan dihabiskan untuk Ujian2 ini belum terhitung proses persiapan-persiapannya.

Di sekolah anak saya yang saat ini kelas 12 (swasta), dia harus berhadapan dengan 7 kali Pra UN, sebelum menghadapi Ujian sesungguhnya. Sungguh sangat mengerikan - kalau kita bilang bahwa inilah proses mencerdaskan - mendewasakan anak-anak kita.

Mudah-mudahan ini TAHUN TERAKHIR anak-anak kita sudah berhadapan dengan hal ini. Kuncinya memang ada di guru dan proses pembelajaran, bukan di ujian akhir.

Salam pendidikan, teman-teman. Terima kasih sudah membaca curhatan saya. Selamat beraktivitas.



Saturday, October 18, 2014

Cakrawala Harapan untuk Indonesia



Sejak beberapa hari yang lalu, peristiwa ini muncul di ruang waktu bangsa negara Indonesia. Sekilas tampak sederhana tapi gambar ini mensimbolisasikan terbukanya cakrawala harapan yang luar biasa besar bagi Indonesia. Bagi saya peristiwa ini adalah titik puncak proses demokrasi yang berjalan selama ini.
 Semoga segala ketulusan ada di belakangnya. Karena di atas ketulusan itulah bangsa Indonesia dapat berpijak dan melangkah maju ke dalam babakan baru berbangsa dan bernegara. 
Salam hormat saya untuk Prabowo dan Jokowi

Friday, September 19, 2014

Kurikulum 2013 : Kurikulum Gagal !

Kegagalan kurikulum 2013 adalah bukan perkara distribusi buku ataupun pelatihan guru, ia adalah kegagalan pemerintah memandang aktualitas dan potensi bangsa dan masyarakat Indonesia dan anak-anak bangsanya dari Sabang sampai Merauke! Kurikulum 2013 sejak digagas adalah sebuah kegagalan karena berpijak atas sudut pandang simplifikasi / penyederhanaan atas fakta kompleksitas yang dimiliki bangsa Indonesia sejak awal bangsa ini ada.

Kurikulum 2013 sebagai sebuah panduan penyelenggaran pendidikan di Indonesia sebetulnya telah gagal sebelum disahkan.

Salah satu aspek menjadi kemunduran terbesar (dan sangat besar) dari Kurikulum 2013 adalah berubah kembalinya pengolahan kurikulum secara lokal - di level sekolah (KTSP) menjadi kurikulum yang distandarisasi pemerintah. Salah satu aspek fundamental yang menjanjikan keberhasilan pendidikan - apalagi pendidikan nilai atau karakter adalah bagaimana pemerintah memberikan ruang dan kepercayaan bagi setiap kelompok masyarakat untuk mengelola pendidikan berdasarkan konteks lokalitasnya masing-masing.

Oleh Sang Pencipta, Indonesia diberikan keberagaman sebagai anugerah yang luar biasa yang perlu dijadikan modal besar dalam mengelola pendidikan anak-anak bangsa. Kompleksitas dan segala kerenikan lokal di masyarakat setempat harus punya peran besar dalam menyelenggarakan pendidikan putra-putrinya di manapun ia berada.

Sebagaimanapun hebatnya kurikulum, tak akan ia mampu menyentuh kerenikan itu terkecuali ia mampu mengenali secara memadai kompleksitas bangsa Indonesia sebagai sebuah potensi yang kemudian dijadikan olahan dan bagian integral dari desain kurikulum itu...

Kesalahan yang sangat sederhana, tapi sangat mendasar... Prihatin!

Tuesday, July 22, 2014

Catatan Pendek di 22 Juli 2014


Setelah perhitungan suara disahkan KPU, kini saatnya mulai bekerja. Bapak Jokowi dan JK, hari ini bukan akhir justru awalan. Setelah memilih, dan ternyata bapak bwrdua menang, saya juga akan terus menjaga suara dan kepercayaan yang dititipkan kepada bapak berdua untuk merealisasi segala janji visi dan misi yang Bapak-bapak bawa selama masa kampanye. Saya kira kami semua para pemilih akan tetap kritis, awas dan terbuka seperti saat kami mengawal suara kami sampai ke penghitungan suara final di KPU. Suara kami bukan untuk pemilu kemarin tapi untuk 5 tahun mendatang. Suara kami bukan untuk bapak berdua tapi untuk Indonesia yang lebih maju. Saya yakin bapak berdua mencalonkan diri untuk bekerja bukan untuk berkuasa. Setelah nanti dilantik, bapak berdua akan memegang amanah dari seluruh rakyat Indonesia.

Semoga lima tahun ke depan saya dan puluhan juta rakyat Indonesia tidak menyesali pilihan yang diambil di bilik suara 9 Juli lalu. Semoga kita semua bisa tersenyum dan bersyukur bahwa hari kemarin 22 Juli betul-betul menjadi hari bersejarah saat seorang yang datang dari antara kita, dari rakyat biasa dengan segala kesahajaannya bisa membawa perubahan dan kemajuan besar bagi Indonesia seperti yang bapak bapak janjikan dan kita semua imajinasikan...

Akhirnya semoga saya dan semua pendukung Bapak berdua juga siap dengan komitmen kami untuk bekerja sama bergandengan tangan untuk membangun Indonesia melalui bidang keahlian kami masing masing tentunya di bawah kepemimpinan Bapak-bapak... Semoga...

Tuhan memberkati kita semua, Tuhan melindungi Indonesia.

Monday, June 30, 2014

[seputar pilpres 2014] seandainya Jokowi JK kalah...


seputar Pilpres 2014 #1
dari wall fb : 29 Juni 2014

Kalaupun... kalaupun karena penyebab apapun Jokowi JK kalah dalam pilpres kali ini, kita semua bangsa Indonesia telah mencapai hal yang luar biasa di dalam proses demokrasi di Indonesia.

Baru kali ini kita menyaksikan bagaimana masyarakat belajar untuk tidak menyandarkan diri kepada partai politik. Kita menyaksikan bagaimana pendukung Jokowi berkumpul di berbagai tempat, mengekspresikan diri lewat berbagai ungkapan kreativitasnya. Mendukung tanpa pamrih, tanpa iming-iming apapun, hanya karena berpegang pada harapan masa depan bangsa yang lebih baik. Individu yang berkumpul dengan tulus dan memberikan segala pengorbanan dan dukungannya untuk sosok sederhana yang dipercaya bisa membawa harapan bagi mereka. Dukungan dana kampanye hingga puluhan milyar, ada petani menyumbang beras, pemulung bantar gebang menyumbang 2 juta rupiah, pedagang menyumbang ribuan gelas dawet buat pendukung jokowi, ada yang membuat video, menggubah lagu, menggambar komik, membuat testimoni, menulis ribuan blogpost, memvisualkan visi misi Jokowi JK... semua tanpa pamrih. Semua wujud bentuk dukungan yang tulus. Kita lihat bagaimana pendukung Jokowi di mana-mana di seluruh Indonesia bahkan di kota-kota seluruh dunia bisa berkumpul tanpa membawa-bawa identitas partai apapun. Berkumpul bergandengan tangan hanya untuk menitipkan kepercayaan kepada sang pembawa harapan. Luar biasa!

Menyaksikan semua ini harus dengan rasa, dengan nurani. Angka-angka tidak ada artinya karena dengan mudah bisa dimanipulasi. Fakta-fakta bisa dijungkirbalikkan dan diputar-putar pemaknaannya. Ayo tinggalkan logika dengan segala pembenaran-pembenarannya.

Saksikan dengan nurani, dan kita akan bisa menangkap ada sebuah jalinan luar biasa yang sedang dibangun oleh bangsa Indonesia satu individu dengan lainnya dengan calon pemimpinnya. Hal ini ada dan sedang terjadi di antara mereka yang meletakkan pilihannya untuk nomor 2, Jokowi dan JK.

Teman-teman semua, kemajuan Indonesia adalah bukan terletak pada bahu Jokowi dan JK saja. Mereka tidak ada artinya. Saat kita mencari-cari kelemahan mereka sebagai manusia, begitu mudah menemukannya.

Tapi merefleksi ini semua, lihatlah bagaimana begitu banyak dari kita masyarakat Indonesia yang siap (bahkan sudah) bekerja bahu membahu untuk membangun bangsa dan negara yang kita harapkan bersama.
Karenanya saya kira, apa yang diusung oleh Jokowi JK sudah tercapai : Jokowi JK adalah kita!

Tuhan Memberkati Indonesia! — feeling hopeful.

Tuesday, February 18, 2014

[KaBAMb] memilihkan buku bacaan

KaBAMb : Kawanku Bertanya Aku (berusaha) Menjawab.

Dialog ini terjadi melalui beragam media komunikasi. Awalnya personal, tp aku pikir bisa saja bermanfaat bagi rekan rekan lain yang punya pemikiran atau pertanyaan serupa. Jadi akupun mwmutuskan untuk memindahkannya ke sini. Pertanyaan ini datang dari rekan saya Suni, aktivis pendidikan dari Rumah Edukasi di Bandung melalui WhatsApp.

Malam pak andy..
Mau tanya referensi buku. Aku mau beli buku buat ponakanku kelas 2 SMP (cow) dan 4 SD (cew). Mereka bs dibilang ga pernah baca buku slain buku pelajaran. Kira2 buku apa yg bs menarik perhatianny agar mrk bs terus membangun kesenangan baca.

Hi Suni. Wah pertanyaan sulit nih. Sy ga bisa jawab langsung. Yg pasti kt harus tau minatnya apa. Hal2 apa yang disukainya. Kemudian harus dilihat tingkat pemahaman bacanya. Pilih buku yang sesuai minat lalu narasi bacaannya jangan terlalu mudah ataupun terlalu sulit. Idealnya sedikit di atas kemampuan baca mereka supaya mereka tertantang. Ada kesulitan tapi mereka harus merasa bisa mengatasinya. Sy pikir sih kalau mungkin ajak mereka ke toko buku dan dampingi saat memilih. Bantu dgn pertanyaan2 tentang minat agar mereka bisa menentukan pilihan.

Saturday, December 7, 2013

[berbagi gagasan] Kartu Pesepeda Bandung

Sejak awal, sudah terbaca jelas visi Pemkot Bandung di bawah pimpinan Ridwan Kamil untuk menjadikan kota Bandung ramah pesepeda. Sasaran-sasarannya saya kira sangat jelas dan logis, salah satunya untuk mengurangi kepadatan kendaraan bermotor pada saat yang sama mengurangi konsumsi BBM dan emisi CO2 yang hari demi hari bertumpuk dan meracuni kita sendiri warga kota Bandung.

Belajar dari kota-kota terbaik di dunia, seperti Melbourne, Copenhagen, Amsterdam, mereka punya budaya bersepeda dan pejalan kaki yang sangat tinggi. Ruang kota nyaman dan tertata baik, dan memang memanjakan warga pejalan kaki (pengguna angkutan umum) dan pesepeda dengan segala fasilitasnya.

Menuju ke sana memang tidak mudah, tapi layak diperjuangkan. Memotivasi berbagai lapisan masyarakat untuk bersepeda saya kira menjadi salah satu kuncinya. Saya sendiri yang sejak tahun 2006 berusaha memaksimalkan diri bersepeda untuk bepergian di Bandung mengalami kendala besar dalam hal keamanan bersepeda di jalan raya. Lambat laun memang kita akan terbiasa dan akan menemukan cara untuk mengatasi situasi lalu lintas yang sangat padat dan sangat menantang bagi para pesepeda. Bagaimanapun ini akan menjadi kendala terbesar bagi para pemula, dewasa, apalagi anak-anak.

Yang saya kira penting dilakukan sejalan dengan segala kampanye dan gerakan yang sudah digaungkan adalah bagaimana  membangun persepsi masyarakat bahwa Pemkot Bandung serius dengan gerakan ini dan mendukung mereka yang sudah dan ingin bersepeda di kota kita ini - yang notabene banyak sekali sumbangsihnya terhadap upaya menjadikan kota Bandung nyaman bagi segenap warganya.

Salah satu yang terpikirkan oleh saya adalah apakah mungkin PemKot Bandung menerbitkan sejenis kartu tanda pesepeda bagi setiap warga Bandung yang menggunakan sepeda. Kartu Tanda ini dikaitkan dengan semacam jaminan keamanan dalam bentuk 'asuransi' saat pesepeda tersebut mengalami kecelakaan di jalan raya. Pemkot dapat mengalokasikan sejumlah dana dan sebuah sistem di mana kalau terjadi kecelakaan di jalan raya, pesepeda dapat segera dibawa ke klinik / rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Pemegang kartu mendapatkan sticker yang dapat ditempelkan di sepeda / helmnya sebagai tanda bahwa ia adalah bagian dari program ini kemudian perlu segera ditolong. Selanjutnya Pemkot yang akan membayarkan sejumlah biaya untuk pengganti biaya pengobatan tersebut. Mekanismenya tentu perlu diolah lebih lanjut, tapi gagasan utamanya adalah seperti yang saya ungkapkan di atas tadi.

Saya kira hal ini akan menjadi gestur yang sangat jelas bagi warga Bandung dan akan membangun persepsi bahwa seluruh warga kota melalui pemkotnya mendukung penuh warga kota untuk bersepeda dan ikut menjaga dan keselamatan para pesepeda. Manfaatnya, sekali lagi akan kembali bagi kenyamanan warga Bandung secara keseluruhan. Bagi para pesepeda Bandung, tentunya hal ini akan menjadi penambah motivasi, mengingat sudah cukup banyak catatan peristiwa kecelakaan yang menimpa para pesepeda Bandung. Bagi yang berpikir akan mulai bersepeda hal ini tentunya akan menjadi dorongan besar. Bagi para orangtua, tentunya akan lebih legowo mendorong anak-anaknya pergi ke sekolah dengan bersepeda.

Demikian gagasan dan pemikiran ini saya sampaikan - sebagai masukan bagi kang Emil dan jajarannya. Selanjutnya semoga bisa diolah lebih lanjut dan apabila memang memungkinkan direalisasi, tentunya ini akan jadi berita yang sangat menggembirakan bagi kita semua warga Bandung. Terima kasih.

Salam Bandung Juara.

gagasan ini disampaikan kepada Pemkot Bandung melalui situs BandungJuara.com | kolom Aspirasi | 8 Desember 2013

Sunday, November 10, 2013

menjadi pahlawan... [refleksi hari pahlawan]

Dalam perjalanan saya lebih dari sepuluh tahun terakhir, di bidang pendidikan, saya memang banyak berjumpa dengan berbagai sosok guru... Yang berjuang bersama - di sekolah kecil yang disebut Rumah Belajar Semi Palar maupun juga para pendidik yang saya temui di luar Semi Palar. Dulu di bangku sekolah, guru sempat mengajari kita semua sebuah lagu berjudul Himne Guru, yang lirik awalnya adalah "Terpujilah wahai engkau Ibu, Bapak Guru." Saat sekarang mengelola sebuah sekolah, entah kenapa ada perasaan tidak pas dengan gagasan mengajarkan lagu tersebut kepada murid-murid di sekolah. Terasa seperti ada sebuah 'narsisme' saat kita sebagai pendidik mengajarkan anak-anak kita lagu tersebut - terlepas bahwa lagu itu lagu yang lirik dan isinya cukup baik. Tapi ya entah, kok perasaan itu cukup kuat muncul dalam diri saya.

Hari ini peringatan hari Pahlawan 10 November. Kita mengenang jasa-jasa para pahlawan kita yang memungkinkan kita hidup dalam situasi hari ini. Sebuah posting pendek di grup fb - Rumah Belajar Semi Palar dari seorang murid berbunyi "Selamat Hari Pahlawan". Entah kenapa saya tergelitik untuk meresponnya. Mungkin ada hubungannya dengan apa yang tertulis di atas tadi.

Merefleksi Hari Pahlawan yang diperingati hari ini, kata 'ikhlas' menjadi satu kata yang ingin saya ulas di sini. Kalau dipikir, keikhlasan menjadi sirna saat kita sendiri yang mengatakannya. Sebuah kata yang tidak bisa kita sebutkan atau kita gunakan untuk melabeli apapun yang kita lakukan. Teringat sesuatu yang disampaikan pemateri di satu sesi kuliah ECF (Extension Course - Filsafat) di Unpar beberapa waktu lalu, bahwa saat kita berkata "Ngga kok, saya ngga minta apa-apa, Tuhan tahu apa yang saya lakukan" - apa yang sepertinya ikhlas juga akhirnya pupus nilai keikhlasannya - karena kita menyimpan harapan Tuhan tahu apa yang kita lakukan. Kita masih mengharapkan imbalan. Sepertinya kita perlu belajar dari para pahlawan kita - yang bahkan sampai mengorbankan jiwa raganya - bahkan dengan pengetahuan bahwa mereka tidak akan menikmati hasil perjuangan itu, proses itu - perjuangan itu tetap mereka lakukan, jalan itu tetap mereka ambil.

Saat ini banyak hal begitu lebur dengan segala teori, sistem, jargon dan cara berpikir modern - yang setelah dipikir-pikir justru sangat terbelakang. Dalam pola pikir masyarakat modern, saat kita bekerja, kita banyak mengukur apa yang kita lakukan dengan profesionalisme. Supaya profesional, harus dihargai dong... supaya berkualitas, ada harganya dong yang harus dibayar, dan seterusnya - dan seterusnya. Di jaman sekarang ini, hal-hal yang diwarnai keikhlasan - yang notabene nilainya tinggi (tidak terbayarkan) memang sudah sulit ditemukan. Di sebuah forum di Gedung Indonesia Menggugat - beberapa waktu lalu - kang Tjetje sempat menyampaikan, dulu kalau pimpinan mengatakan harus pindah tugas, kita segera bergerak - siap melaksanakan tugas. Sekarang apa yang diributkan adalah Biaya Perjalanan Dinas lah, ini lah, itu lah... Dulu mempertanyakan hal-hal tersebut - seperti istilah kang Tjetje adalah HINA!

Orang sering lupa bahwa mereka yang betul-betul bekerja dengan keikhlasan-lah - yang sungguh-sungguh sepenuh hati merekalah yang akhirnya memunculkan performa dan profesionalisme yang tinggi. Pada saat yang sama karena mereka tidak berhitung dan tidak mengukur, dedikasi dan integritasnya justru melimpah tidak terukur. Sebagai catatan, sama halnya dengan keikhlasan, dedikasi atau integritas-pun adalah sesuatu yang tidak berbunyi / kosong saat kita sendiri yang mengucapkannya sendiri - bagaimanapun cara mengungkapkannya...

Saya beruntung masih bisa bertemu dengan mereka yang betul-betul bekerja dengan dasar keikhlasan - beberapa di antaranya menjalani profesi sebagai guru. Kalaupun bukan guru, buat saya mereka adalah guru karena sangat menginspirasi. Bagi saya mereka adalah pahlawan, dan saya tidak perlu menyebut siapa namanya, karena saya yakin mereka ini-pun tidak peduli... Banyak peristiwa di hari-hari ini yang mendorong munculnya catatan refleksi ini. Jujur ada kegelisahan saat keikhlasan semakin langka ditemukan hari-hari ini. Karena saat inspirasi juga sulit ditemukan, dari mana anak-anak kita kelak mendapatkan keteladanan?

Peringatan Hari Pahlawan - 10 Nopember 2013 - pukul 10 malam...