Friday, January 16, 2009

dari Kahlil Gibran

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu
Berikan mereka kasih sayangmu,
tapi jangan paksakan pikiranmu
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri

Patut kauberikan rumah untuk raganya,
tapi tidak untuk jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur
Pun tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur dan anak-anakmulah, anak panah meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya
Hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

~Kahlil Gibran~

Saturday, October 25, 2008

Pendidikan Katolik, Mau Kemana?

Makalah ini disusun untuk sharing di Dialog Pendidikan Katolik, di Grha Prakasita, Gereja St. Laurentius Bandung, Minggu 26 Oktober 2008. Pembicara lain adalah Kak Agus Moelyono, Romo Mudji Sutrisno, Suster Irene dan Suster Magda.


Mau Kemana? Ajakan merefleksi

Bertanya ‘mau kemana?’ kita bicara soal arah, orientasi, tujuan. Apakah tujuan kita benar, dan apakah langkah demi langkah kita membawa kita mendekat ke tujuan. Apakah kita terus menjaga bahwa kita setia terhadap tujuan kita, dalam hal ini mendidik anak-anak kita.

Saya kira adalah luar biasa penting untuk secara sadar terus melihat dan mengecek ulang arah perjalanan dalam mendidik anak-anak kita. Apalagi kalau bicara tentang pendidikan, karena sikap dan tindakan kita ikut menentukan masa depan, hidup dan kehidupan anak-anak didik kita. Apa langkah-langkah kita senantiasa berpihak pada kepentingan anak? Ataukah jangan-jangan kita sudah terbelokkan karena satu atau banyak hal, sadar ataupun tidak. Saat kita bisa sadar ada yang tidak benar, ada yang tidak beres, kita tentu bisa melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Kembali lagi, karena kita ikut menentukan hidup dan kehidupan anak-anak kita kelak. Lebih jauh, juga anak cucu mereka, masyarakat dan bangsanya nanti.

Siapa yang tahu arah, siapa yang bisa menentukan arah? Saya yakin juga bahwa kita masing-masinglah yang tahu. Caranya adalah dengan merefleksi diri, berkaca pada nurani kita. Jawabannya bukan ada di teori-teori pendidikan / metode pendidikan yang hebat-hebat, program atau kurikulum yang kita impor. Jawabannya ada di hati nurani kita masing-masing – jika saja selama kita berjalan, mendampingi anak-anak kita bertumbuh kembang kita senantiasa bercermin pada nurani kita yang jernih. Saya yakin arah kita akan selalu benar karena selalu dalam panduan-Nya.

Every man has a conscience, and finds himself observed by an inward judge which threatens and keeps him in awe… and this power which watches over the laws within him is not something which he himself (arbitrarily) makes, but it is incorporated in his being
~ IMMANUEL KANT, The Metaphysical Elements of Ethics ~


Conscience bahasa kerennya. Nurani kita sudah ditanamkan, menjadi bagian dari keberadaan kita sejak kita dilahirkan. Nurani kita, saya percaya adalah anugerah Sang Pencipta yang paling berharga, dan semestinya terus kita genggam selama kita hidup. Apalagi saat kita dalam perjalanan menumbuhkan manusia lain (anak-anak kita) sebagai manusia sejati. Seperti yang diucapkan Pak Harfan di filem Laskar Pelangi, “mendidik dengan hati”.


Cermin di Sekitar Kita

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk bercermin diri? Sebetulnya cermin kita luar biasa banyak, ada di mana-mana. Tinggal bagaimana kita melihat dan mengamatinya, dengan nurani yang jernih.

Di sini saya ingin mengajak kita semua mencermati cermin-cermin yang mudah kita temui :

  1. Cerminan semangat ajaran Yesus Kristus pada anak-anak kita,
  2. Masyarakat kita sebagai cermin,
  3. Apa Tujuan Pendidikan,
  4. Situasi dan Kritik atas Dunia Pendidikan Kita.



Satu : Anak-anak kita : cermin teladan Yesus Kristus

Saat kita mendampingkan kata Katolik di sebelah kata Pendidikan rasanya kita sepakat bahwa kita mendasarkan diri pada ajaran Yesus Kristus. Bagaimana kita memaknai hal ini juga menjadi penting. Apakah pendidikan Katolik itu :

  1. Pendidikan yang mengajarkan agama Katolik, atau
  2. Pendidikan yang berjiwa Katolik, meneladan dan mengamalkan ajaran Yesus.


Cermin yang paling dekat untuk mengenali hal ini adalah melalui anak-anak kita. Setiap saat sehari-hari, dengan mudah kita bisa mengamati apakah sekolah-sekolah Katolik membawakan penghayatan tentang ajaran Yesus tentang cinta kasih.
Apakah suasana cinta kasih terbawa dalam suasana di kelas, muncul dalam interaksi antara guru dan anak? Ajaran Yesus yang terutama mengenai bagaimana mencintai sesama semestinya muncul dan terlihat jelas di anak-anak kita sehari-hari.


Apakah anak bisa menghayati dan memaknai hadirnya Yesus di kelas selama mereka belajar, berproses hari demi hari menjadi manusia (Katolik) seutuhnya? Apakah ada suka-cita dalam proses belajar mereka, apakah ada semangat mereka pergi ke sekolah. Ataukah sebaliknya, anak-anak belajar dalam tekanan atau ketakutan akan hukuman. Pertanyaannya, bagaimana anak-anak bisa menghayati bahwa Yesus adalah kasih saat keseharian mereka belajar tidak diwarnai semangat dan kegembiraan?


Dua : Masyarakat Kita Sebagai Cermin

Dalam situasi kita dan masyarakat kita hari ini, saya rasa sudah waktunya bertanya kembali apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Pendidikan Katolik. Paling tidak kita dapat melihatnya dari dua sudut pandang :

  1. Pendidikan untuk anak-anak kita orang Katolik, atau
  2. Pendidikan oleh kita orang Katolik

Sudut pandang ini sangat menentukan keluaran (output) dari segala bentuk ikhtiar kita. Pemahaman yang pertama saya pikir sangat mempersempit sudut pandang kita. Cermin kita jadinya kecil sekali sehingga kita tidak bisa melihat secara jelas apa yang ada dan sedang terjadi saat ini. Kemudian akan sangat sulit bagi kita untuk membayangkan tentang apa yang bisa dikontribusikan bagi masyarakat. Praktek pendidikan Katolik dengan sendirinya akan jadi eksklusif.


Tapi kalaupun kita harus bicara dalam konteks ke-Katolikan kita, mungkin ini bisa relevan saat kita berpikir dalam sudut pandang yang kedua : Pendidikan oleh kita, orang Katolik. Bagaimana kontribusi kita umat Katolik dalam konteks kemasyarakatan yang lebih luas. Apa yang kita (sebagai umat Katolik – penyelenggara pendidikan yang menyandang nama ‘Katolik’) sumbangkan untuk masyarakat.


Masyarakat kita adalah cermin kita yang paling besar. Bagaimanapun institusi pendidikan adalah salah satu kontributor terbesar dari segala situasi masyarakat yang nyata ada saat ini. Keberhasilan, pencapaian dan juga untuk segala permasalahan yang ada. Bagaimana masyarakat kita hari ini adanya termasuk segala permasalahannya, adalah juga merupakan hasil dari segala sumbangan kita semua termasuk umat Katolik di dalamnya.


Saya berpendapat kalau kita umat Katolik sejauh ini belum berperan mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat, artinya, kita masih menjadi bagian dari permasalahan. ‘If we are not part of the solution, then we are part of the problem’.


Yesus mengajar kita untuk menjadi garam dunia. Saya kira ini adalah jelas menggambarkan bahwa walaupun kecil, sedikit jumlahnya, kita bisa sangat berperan memberi ‘warna’, memberi rasa dalam kehidupan masyarakat.


Dalam bingkai spiritualitas Katolik, kita perlu merenung, memaknai dan menghayati kenapa kita umat Katolik diberi tempat dalam bingkai kebhinekaan Indonesia yang luar biasa ini. Ini seharusnya punya makna yang sangat besar buat kita. Selanjutnya dalam praktek pendidikan, tentunya kita harus mengaitkan diri secara nyata pada konteks-situasi masyarakat yang ada dalam rangka memaknai hal ini. Kalau tidak demikian, kita seakan memisahkan anak didik kita dari situasi nyata kehidupan mereka dan dengan sendirinya pendidikan akan kehilangan salah satu maknanya yang terdalam.


Seandainya sekolah-sekolah Katolik ingin mendapat tempat dalam masyarakat, rasanya satu-satunya cara adalah dengan berperan dalam masyarakat. Output pendidikan Katolik harus secara nyata berperan mengatasi persoalan-persoalan yang ada. Tentunya program pendidikan sekolah harus terus berpijak pada situasi nyata, isu-isu yang ada dan terjadi hari demi hari di masyarakat. Kita tahu tidak sulit mendapatkan gambaran bagaimana situasi kita hari ini yang begitu ruwet. Padahal jawaban atas segala permasalahan kita ada di pendidikan.

At the desk where I sit, I have learned one great truth. The answer for all national problems – the answer for all the problems of the world – comes down to a single word. That word is “education”.
~ Lyndon B. Johnson ~


Tiga : Apa Tujuan Pendidikan? Mencari kembali orientasi pendidikan.

Saya mendapat masukan ini dari salah satu rekan orang tua di Semi Palar, mengutip pernyataan Prof. Jacob Soemardjo, sebagai berikut :

… format sekolah saat itu sebenarnya untuk menunjang sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Hasil akhir pendidikan adalah untuk menyediakan tenaga administratif menengah di pemerintahan yang patuh. Itulah sebabnya dibuat penyeragaman bentuk tulisan, disiplin ketat dan lain-lain yang tujuannya agar lulusan dapat menjadi pegawai negeri yang penurut.

Nah sekarang semua sekolah harus merumuskan tujuan lulusannya itu untuk jadi apa. Kalau jaman Orba supaya jadi rakyat yang penurut dan memiliki pemikiran yang seragam supaya gampang dikendalikan. Boleh banyak bekerja, tapi tidak boleh banyak berpikir. Itulah sebabnya sangat disukai model ulangan multiple choice yang hanya menyediakan satu jawaban yang benar. Juga penyeragaman segala macam hal (kaus kaki, topi, pakaian, sepatu, tas, buku catatan) sebetulnya juga mengkondisikan murid supaya tidak punya pendapat sendiri…


Saya kira dua alinea di atas bisa menyadarkan kita tentang betapa pentingnya kita menempatkan tujuan pendidikan sebagai arah/orientasi kita. Situasi jaman yang berubah sedemikian cepat, menuntut perubahan-perubahan dalam pola kita mendidik anak-anak kita. Apa yang dulu dianggap baik, tidak serta merta cocok saat dihadapkan pada kondisi yang sudah (banyak) berubah.

Refleksinya apakah kita sudah bisa mendefinisikan, individu seperti apa yang kita harapkan muncul dari penyelenggaraan pendidikan Katolik? Karakter, ciri khas orang Katolik seperti apa yang ingin kita munculkan di masyarakat?

Apakah selama ini kita memang menghasilkan individu – anggota masyarakat yang peduli dan membawakan hal-hal positif di masyarakat. Atau, sebaliknya, adakah mereka hanya sibuk dengan diri sendiri (dan kelompoknya) dan kurang peduli terhadap segala situasi dan permasalahan aktual yang ada di masyarakat.

Banyak sekali pakar yang mendefinisikan tujuan pendidikan. Kita pasti sudah menetapkan tujuan pendidikan di lembaga kita - biasanya indah dan ideal, tapi seringkali dalam pelaksanaannya hari demi hari, langkah-langkah kita menjauh dari tujuan itu.


Di bawah ini saya cantumkan satu pernyataan pendek tentang tujuan pendidikan:

The aim of education should be to teach us rather how to think, than what to think –
Rather to improve our minds, so as to enable us to think for ourselves,
Than to load the memory with the thoughts of other men.

~ James Beattie ~


Empat : Situasi dan Kritik atas Dunia Pendidikan Kita

Saya tidak tahu sejauh mana kita semua peka mengamati / mengikuti segala bentuk kritik terhadap pendidikan yang ada di sekitar kita. Entah kenapa, saya mengamati saat ada kritik tentang dunia pendidikan yang muncul, kebanyakan dari kita seperti otomatis menempatkan diri “kritik itu bukan untuk saya”. Beranikah kita menengoknya dan menggunakannya untuk bercermin. Saya juga tidak tahu, sebanyak apa kita (sekolah dan guru-guru kita) membaca tulisan, buku-buku dan mencermati fenomena pendidikan yang terus bermunculan hari demi hari:

  1. Sekolah-sekolah alternatif :
    kalau sekolah-sekolah yang ada dinilai menjalankan fungsinya dengan baik, apakah sekolah-sekolah alternatif perlu muncul? Apakah sekolah-sekolah Katolik pernah menengok apa, kenapa dan bagaimana sekolah-sekolah alternatif itu sebetulnya. Kenapa bermunculan? Kenapa dulu tidak ada itu namanya sekolah alternatif?

  2. Les? :
    kita tahu anak-anak kita lebih cerdas dari kita, lalu mengapa mereka butuh les? Kalau di sekolah-sekolah anak belajar dengan baik, kenapa les-les pelajaran perlu ada dan menjamur di mana-mana? (Fenomena terakhir yang paling mengejutkan saya adalah hadirnya ‘Bimbel TK’. Waduh!)

  3. Tulisan dan buku-buku kritik pendidikan :
    Saya coba kutip beberapa judulnya : Matinya Pendidikan, Neil Postman; Sekolah itu Candu, Roem Topatimasang;
    In Memoriam Guru, Dr. Suroso ; Kapitalisme Pendidikan, Francis Wahono; Lebih Baik Tidak Sekolah, Sujono Samba; Selamat Tinggal Sekolah, Yusran Pora dan masih banyak lagi.

    Semua ini merupakan ungkapan dari mereka-mereka yang lebih dahulu berani bercermin, dan mengungkap hal-hal yang yang selama (mungkin) melenceng di dunia pendidikan kita. Kita sangat bisa belajar dari mereka. Berani melihat dari sudut pandang yang berbeda.


Penutup

Dalam refleksi, yang bicara adalah nurani, bukan logika. Sehingga kita perlu mengolah dengan rasa bukan pikiran kita. Saat kita merefleksi diri, yang menjadi penting adalah benar atau salah. Bukan soal kalah atau menang, bukan urusan kompetisi, bukan perbandingan, bukan ukuran, bukan lebih atau kurang. Seperti yang diungkapkan oleh Krishnamurti, pendidikan sejati adalah persoalan batin, nurani.


…Pendidikan sejati berarti bahwa batin manusia, batin Anda, bukan saja mampu menjadi pandai dalam matematika, ilmu bumi dan sejarah, melainkan juga tak akan pernah, dalam keadaan apa pun, terseret oleh arus masyarakat. Oleh karena arus yang kita sebut kehidupan itu sangat kotor, tak bermoral, penuh kekerasan, serakah. Arus itulah budaya kita.
Maka masalahnya ialah bagaimana melaksanakan pendidikan yang benar, sehingga batin dapat menahan segala godaan, segala pengaruh, kebinatangan dari peradaban dan budaya kita. Kita telah sampai pada satu titik dalam sejarah, dimana kita harus menciptakan suatu budaya baru, kehidupan yang sama sekali lain, tidak berdasar pada konsumsi benda-benda dan industrialisasi, melainkan suatu budaya yang berdasarkan sifat religius yang sejati. Nah, bagaimana kita menghasilkan, melalui pendidikan yang benar, suatu batin yang sama sekali lain, suatu batin yang tidak serakah, tidak dengki? Bagaimana kita menciptakan suatu batin yang tidak ambisius, yang luar biasa aktif dan efisien, yang memiliki penglihatan sejati terhadap apa yang benar dalam kehidupan sehari-hari; justru itulah agama".

~ J. Krishnamurti ~


Lalu apa yang perlu kita miliki saat berrefleksi, agar pandangan kita terhadap cermin kita bisa jernih? Saya kira ini dicontohkan juga oleh Yesus Kristus lewat sikap rendah hati dan jujur. Buat manusia modern ini memang sesuatu yang kian sulit kita lakukan. Situasi kehidupan masyarakat kita hari ini seakan mengharuskan kita bersikap sebaliknya.


Seringkali, ego kita-lah yang segera muncul saat kita harus berhadapan dengan kritik atau kegagalan kita. Menghadapi kritik, yang muncul adalah alasan-alasan defensif dan segala bentuk pembenaran diri atas kesalahan / kekurangan kita. Saat kita bisa rendah hati dan jujur, bercermin secara jernih, kita tahu apakah kita benar ataukah sebaliknya memang ada kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.

Akhirnya yang menjadi penting senantiasa kita pegang teguh sebagai penyelenggara pendidikan, adalah mentalitas pembelajar, apabila dipahami secara ekstrim adalah merasa senantiasa bodoh. Supaya kitapun senantiasa belajar dan belajar dan tidak pernah berhenti belajar. Saat kita rendah hati, kita akan terus merasa ada yang lebih baik, dan ada yang lebih baik lagi.

Menentukan arah Pendidikan Katolik, adalah satu tantangan yang maha besar. Tapi kalau kita masing-masing terus bercermin diri dan meyakini apa yang kita lakukan adalah benar, jangan-jangan sebagian tugas kita mencari arah Pendidikan Katolik sudah selesai.

Selamat bercermin diri…

Sunday, September 28, 2008

hutan

... Mungkin sebab itu, ketika hutan ditebang, waktupun berubah.
Bagaikan sepetak tanah yang gundul, di mana jalan akan direntang dan pasar akan dibangun, waktu pun terhantar, datar, siap diukur.
Tamasya itu - hutan yang hilang, waktu yang dirampat - tak lagi punya tuah.
Ia hanya punya harga. Ia hanya punya guna. Tiap jengkal telah tercampak, menyerah ke dalam rengkuhan kalkulasi manusia. Waktu yang menakjubkan, juga "puak yang perkasa dan damai" itu. - ungkapan Marcel Proust tentang pohon-pohon - pun tak dilahirkan kembali.

Hutan, saya kira, adalah wilayah penghabisan di mana Kegaiban masih belum hilang, di mana Misteri belum dipetakan. Itu sebabnya, dulu, raja-raja yang uzur menyingkir ke dalamnya sebagai pertapa, untuk - seperti Destrasastra, disertai Gandari dan Kunthi dalam bagian terakhir Mahabharata - menantikan mati. Para penguasa yang mengubah diri jadi resi itu tak lagi berniat menaklukkan dunia. Mereka datang ke rimba menemui kembali pohon-pohon.

dari Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad : hal. 103

Friday, September 26, 2008

Bike 2 Workers ngumpul di Cikapayang


Kumpul-kumpul Jum'at Sore Komunitas B2W.
Jum'at sore hari ini dari Semi Palar saya mampir sebentar ke kediaman kang Aat. Kami ngobrol-ngobrol sebentar tentang Babakan Siliwangi dan lain sebagainya, lalu meluncurlah saya melintasi Pasupati dan turun di Taman Sari. Di depan saya ada seorang mbak memboseh sepeda lipat dengan tag Bike2Work di bawah sadelnya. Ternyata tujuan kami sama. Ke Taman Cikapayang, bekas SPBU Dago.

Di sana sudah ada beberapa teman yang sudah saya kenal, kang Tiyo, gegedugnya B2W, lalu Rizki (Greeners) dan beberapa lainnya. Ada mungkin sekitar 6-7 sepeda dan beberapa skate-boarders dan pesepeda free-style yang hebat-hebat atraksinya. Ga lama teman-teman pesepeda bermunculan. Wah menyenangkan sekali.
Kamipun berkenalan dan ngobrol seputar pengalaman kita dalam perbosehan. Sore kemarin saya berkenalan dengan 4 orang pendatang baru, teman-teman yang sama-sama baru pertama kali dateng dan kumpul di Cikapayang, hanya karena satu kesamaan, kita sama-sama menunggang sepeda.

Buat saya teman-teman ini adalah pejuang lingkungan hidup. Mereka-mereka yang tidak berkontribusi membuang karbon ke atmosfir planet ini. Ada yang bahkan bersepeda setiap hari ke tempat kerja. Salah satunya Stefan teman baru yang masih duduk di bangku SMP. Dia bersepeda setiap hari ke sekolah. Luar biasa.

Mengingat apa yang pernah saya baca / lihat di kota-kota besar di dunia. Amsterdam, Melbourne, Copenhagen, dan banyak lagi. Kota-kota ini sangat ramah pesepeda. Tentunya kualitas hidupnya luar biasa karena kepadatan kendaraan bermotor tentunya sangat dibatasi.

Ini jadi mimpi saya, suatu hari Bandung jadi kota nyaman buat bersepeda dan pejalan kaki. Apa bisa?
Kenapa tidak?

Sunday, September 14, 2008

How to Save the Climate by Biking Culture


Salah satu jawaban dari Krisis Iklim Global (Global Climate Crisis) adalah bersepeda!
Itu kata abah Iwan. Wah kenapa saya ngefans berat sama abah salah satunya adalah karena beliau adalah salah satu pesepedah yang paling konsisten yang saya tau. Dan dia bukan bersepeda karena pengen gaya atau pengen beken, karena beliau cinta alam lingkungan, sadar betul dan berusaha berbuat sesuatu untuk lingkungan hidup.

Lagu-lagu gubahan beliau-pun bicara betul soal itu, dan yang hebat abah bukan hanya ngomong, beliau juga mempraktekkan apa yang diungkapkannya.

Saya hadir hari itu karena ingin ketemu sama komunitas Bike To Work. Dan jadi lebih spesial karena hari itu ada pemutaran filem Greenpeace. Komplit lah. Hasilnya saya, Lyn dan anak-anak berangkat ke BEC untuk mengikuti kampanye ini.

Hari ini cukup spesial buat saya. karena akhirnya saya bisa berkenalan sama teman-teman dari Greenpeace, komunitas Bike To Work dan majalah Greeners, selain juga ada Abah Iwan dan sidekicknya Abah: kang Erick. Saya punya secuplik gagasan dan impian untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda di kota Bandung yang harapannya memang menarik lebih banyak pesepeda ke jalan2 di Bandung - dengan demikian mengurangi pengguna kendaraan bermotor lalu mengurangi konsumsi BBM dan emisi CO2 dan selanjutnya dan selanjutnya...

Untuk apa? untuk masa depan anak cucu kita yang lebih baik. Bandung di tahun kemarau tahun 2007 mengalami suhu tertinggi sepanjang sejarah : 34 derajat celcius. Luar biasa! Ini sih suhu kota Jakarta. Saya sering bercerita kepada anak-anak bahwa dulu waktu kecil tidak mungkin kita keluar rumah tanpa jacket dan celana panjang. Tidur tidak bisa tidak harus pakai selimut. Sore hari, kabut pasti menutup kota Bandung. Sekarang?

Saya spontan bingung saat ada orang yang bilang bahwa tidak ada itu yang namanya Pemanasan Global? HAH??? Bagaimana bisa?

Saat saya bisa keluar rumah dengan berjalan kaki atau bersepeda, saya merasa senang bahwa paling tidak saya memilih untuk tidak menyumbangkan emisi karbon untuk aktifitas saya hari itu. Soal kenyamanan? Itu jadi nomor dua. Buat saya masa depan anak-anak tentunya harus jadi nomor satu.

Matematikanya sederhana, kalau setiap orang di Bandung bisa memilih untuk tidak bekendaraan sekali saja dari 5 hari aktifitasnya, tingkat polusi / emisi karbon dari kendaraan bermotor bisa berkurang hingga 20%. Dampaknya pasti terasa. Untuk Bandung yang lebih sehat, manusiawi dan masa depan yang lebih cerah, kenapa tidak? Atau apakah kita sudah sedemikian egoistik dan tidak peduli?

Saturday, September 13, 2008

Save Babakan Siliwangi

Beberapa hari lalu aku terima email tentang isu BakSil ini di mailbox-ku.
Spontan terpikir : "Buset!, kemaren kan udah, ga bosen-bosen ya yang coba-coba menduduki Babakan Siliwangi". Sepintas aku cerita sama anak-anakku. Yang kecil pengen tau lebih jauh, katanya : "kenapa sih pah?" "Ini... ada hutan kota mau dijadiin mall, pohon-pohonnya mau ditebangin."

Ga lama aku dapet telepon dari temanku Rizki, redaksinya Greeners. Katanya ada kumpul-kumpul
teman-teman yang peduli sama Babakan Siliwangi, kegiatannya mau bersih-bersih dan mau ngobrol-ngobrol soal itu. Sebentar kemudian saya online untuk ikutan ngisi 'online-petition : save Babakan Siliwangi'. Anak-anak ikut ngumpul di depan komputer. Sabtu, 13 September sekitar jam 2 an, yang ikutan ngisi petisi sudah ada 1446. Komentar-komentarnya mereka ikut baca. Lalu kita masuk ke blognya untuk liat-liat. Di halaman depannya ada foto udara kawasan itu, Sabuga dan sekitarnya. Terlihat jelas sabuk pepohonan di area Babakan Siliwangi itu.

Lalu aku bilang sama anak-anak, sore nanti aku mau ke sana. Mau apa? tanya mereka. Mau liat2 dan kumpul-kumpul sama temen-temen yang mau mencegah hutan itu di rubah jadi mall. Spontan mereka bilang "Aku mau ikut!'. Sore harinya jam 4 akhirnya kitapun menuju ke sana. Sesampainya mereka-pun
mulai mengamati pepohonan yang ada di sana, lengkap dengan apresiasi mereka yang khas anak : "wah yang itu tuh pohonnya bagus!" "waah pohonnya gede-gede ya!" "mana sih yang mau dijadiin mall?" Baru hari itu juga akupun ikut mengamati betul situasi yang ada di sana. Aku hanya bisa tarik nafas mengimajinasikan pepohonan yang sekarang asri ada di sana digantikan oleh dinding-dinding beton tak bernyawa.

Setelah parkir yang terlihat hanya sekelompok teman-teman pesepeda dari komunitas Bike to Work. Setelah keliling sebentar akhirnya kami mencari-cari tempat kumpul dan ketemu di salah satu saung restoran lama yang masih berdiri. Ada kelompok teman-teman di sana. Seorang teman seniman, Gustaff, ada juga uwa Endang (kalau tidak salah pemangku adat di beberapa daerah di Jawa Barat.

Gustaff bicara tentang 'bunuh diri ekologi', setelah bercerita sedikit tentang sejarah kota Bandung. Kota yang sedianya hanya dirancang untuk 400.000 penduduk. Yang menarik, uwa Endang bercerita bahwa dulu, di Jawa Barat, masyarakat Sunda punya kebiasaan ritual tahunan yang tidak pernah terlewatkan : yaitu meruwat (selametan) sumber air, mata air, sumur, sungai dan lain sebagainya.
Air yang memang sumber kehidupan memang ditempatkan jadi sesuatu yang dimuliakan. Itulah sebabnya banyak sekali nama daerah di Jawa Barat dimulai dengan awalah 'Ci'. (Cibadak, Cipaganti, Cihampelas, Ciamis, Cilaki, Cibarengkok dan lain sebagainya)

Sebuah penghormatan, di mana air memang sumber segala kehidupan di suatu daerah . Uwa Endang menambahkan. Kita hidup itu dari alam. Daging, darah, tulang dan kulit kita adalah berasal dari makanan dan minuman yang semuanya berasal dari alam. Kalau alam kita rusak, bagaimana bisa menyehatkan diri kita?

Catatan terakhir yang saya ingat, uwa Endang bilang, para pengambil keputusan, para birokrat dan business man, tidak akan merasakan dampak dari segala keputusannya. Saat alam kita nanti rusak, anak cucu kita-lah yang akan mengalaminya. Betapa betul kata-katanya...

Akhirnya kitapun beranjak pulang. Si kecil tanya : "Udah pah? Udah selesai? Katanya mau ngumpul?" Ya ini ngumpulnya, udah selesai, nanti temen-temen ini pengen ngomong ke pa Walikota supaya hutan ini tidak jadi diganti bangunan. "Temen-temen yang ngumpul ini, menurut kamu mereka gimana? Mereka yang peduli atau gimana?". "Ya yang peduli", sebentar kemudian dia menambahkan...
"Kok cuman segini yang peduli?". Akupun terkejut mendengarnya, dan tidak bisamenjawab... Pertanyaan yang luar biasa dari seorang anak berusia 8 tahun...

Dalam perjalanan pulang, aku hanya bisa berpikir, apa yang bisa aku lakukan? Karena paling tidak aku berhutang untuk anak-anak saya. Dan seharusnya ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk mereka...

Sunday, September 7, 2008

Makam Junghuhn, satu sudut yang terlupakan



Gambar ini aku ambil waktu sesepedahan ke Lembang hari Minggu 7 September
Hari itu aku pilih lewat jalan raya biar ga terlalu cape :-). Aku mboseh sama Hanin.

Sesampainya di Lembang entah kenapa iseng mengambil jalan ke arah Jayagiri.
Di suatu pertigaan aku lihat ada tanda bertuliskan Makam Junghuhn. Berbelok-lah kami ke sana.
Masuk jalan itu sekitar 500 meter, di hadapan kami ada sepetak hutan pinus di belakang pintu pagar terkunci. Kami liat-liat sekeliling, sebentar kemudian ada seorang Bapak yang menegur dan mengajak kami masuk lewat jalan berputar di belakang rumah-rumah di sana. Dan akhirnya kami bisa masuk ke dalamnya.

Suasananya enak banget. Asri. Udaranya segar. Dan di tengah-tengah tempat itu berdiri sebuah monumen yang menandai tempat Wilhelm Junghuhn dimakamkan. Sekeping sejarah Jawa Barat ada di sana.

Sayangnya tempat itu kurang terawat dan pastinya kurang diapresiasi. Minimal sebagai tempat kita memutar balik pikiran kita saat orang-orang seperti Junghuhn ikut membangun peristiwa2 di tempat tinggal kita dalam putaran waktu masa lalu kita.

Pabrik kina yang ada di jalan Cicendo - Pajajaran, jangan-jangan tidak akan berdiri kalau Junghuhn tidak mulai membudidayakan tanaman kina. Dan kata seorang ibu yang tinggal di sana kulit kina juga dipakai sebagai salah satu bahan untuk membuat minuman Cola... Well what do you know?