Friday, September 23, 2011

4 tahun komunitas Bike2Work Bandung


Hari ini ulang tahun ke empat Bike2Work Bandung. Sudah cukup lama saya berkenalan dan menyatakan diri bergabung dan mendukung gerakan ini. Gerakan yang buat saya pribadi sangat keren dan sangat visioner. Situasi iklim bumi kita yang sekarang ini tidak keruan - dengan apa yang didefinisikan sebagai Global Warming dan lain sebagainya, memang menuntut tindakan nyata dari kita semua - setiap individu manusia untuk melakukan sesuatu - merubah gaya hidup dan perilaku sehari-hari untuk bisa menghentikan krisis yang sekarang ini terjadi.

Manusia, kalau kita pikirkan, memang spesies yang paling cerdas di muka bumi ini. Ciptaan Tuhan yang paling luar biasa. Tapi juga paling (maaf kalau kasar) : BRE***EK!  ditulis dengan huruf kapital, tanda seru dan cetak tebal. Di seluruh muka bumi ini tidak ada lagi makhluk selain manusia yang menghasilkan limbah dan merusak lingkungan hidupnya sendiri. Makhluk hidup lain hidup berdampingan (coexist) di muka bumi ini dalam kesetimbangan. Manusia-lah yang karena keserakahan, kemalasan, dan segala ketidak-peduliannya akhirnya merusak lingkungan hidupnya dan kita sampai di titik di mana manusia membahayakan kelangsungan hidupnya sendiri. 

Kembali bersepeda (dan berjalan kaki) adalah gerakan paling masuk akal dan sangat bisa dilakukan oleh kita semua, saat ini juga. Komunitas, gerakan dan kampanye Bike2Work menjadi salah satu hal yang perlu kita dukung dan kita dorong bersama agar semakin masuk menjadi bagian dari pola hidup kita semua khususnya masyarakat kota Bandung.

Jum'at sore itu saya mampir di Cikapayang dan bertegur sapa dengan rekan-rekan yang bersepeda sepulang kerja dan mengenakan atribut khas Bike2Work. Sudah cukup lama saya tidak mampir ke sana, dan menyenangkan sekali bertemu dan berkenalan dengan wajah-wajah baru mulai dari para profesional, mahasiswa dan pelajar yang berkumpul untuk satu gerakan dan kesadaran yang sama.

Dari Taman Cikapayang, kita bergerak ke Plaza Dago untuk seremoni kecil di sana dan melanjutkannya dengan konvoi keliling kota Bandung. Empat tahun saya yakin bukan waktu yang pendek, bukan proses yang mudah bagi sebuah komunitas. Apalagi untuk sebuah komunitas yang seakan bergerak melawan arus. Melawan arus karena selagi dinamika peradaban sedang bergerak meningkatkan industri, teknologi dan segala hal yang mendampinginya, kelompok kecil ini ingin mengajak kita semua melangkah mundur. Daripada berkendaraan, ayo bersepeda. We have to go backward, to move forward!

Buat saya pribadi, saya juga masih harus terus memperkuat komitmen diri untuk lebih konsisten lagi bersepeda, berjalan kaki atau berkendaraan umum. Banyak hal menyangkut pola hidup kita yang perlu dirubah. Dari mana kita mulai, tentunya dari kesadaran. Kesadaran bahwa hal tersebut adalah hal penting yang perlu dilakukan.

Terima kasih untuk teman2 di komunitas Bike2Work yang terus konsisten dengan gerakannya dan menjadi inspirasi besar buat saya untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan.

Saturday, July 2, 2011

Catatan Apresiasi untuk Komunitas Sahabat Kota | program Legenda Hutan Kareumbi

Menjemput Rico di stasiun saya merasa gembira sekaligus haru. Buat saya sebagai orangtua Rico, keikut-sertaan Rico di program ini adalah langkah besar buat Rico, karena ini pertama kali dia berkegiatan di alam, bersama teman-temannya (yang bukan semata teman sekolah), berkemah di luar kota Bandung tanpa didampingi orangtuanya, bersama pendamping yang relatif baru dikenalnya juga. 
Di tempat parkir, seperti biasa pertanyaan klise muncul? Gimana Co? Seru? Seru banget katanya, lalu dia melanjutkan ‘Hiks…’, saya spontan tanya “lho kenapa;  katanya seru?”. “Abis, sudah berakhir, besok ga ada lagi!”, ujarnya. Di perjalanan saya tanya lagi, “Co, dari skala 1 – 10 kegiatan ini kamu beri nilai berapa?” Berpikir sebentar lalu dia menjawab : “9,5!” Wah hebat! Hampir nilai sempurna. Dia melanjutkan: “tau ga yang 0,5 kemana?... soalnya waktu aku tidur dua temen yang tidur di sebelah aku heboh banget. Aku ditendang-tendang, dan mereka sampai menjajah tempat aku tidur… Aku sampe ga bisa tidur semaleman”. Saya hanya tersenyum dalam hati, karena banyak pengalaman yang didapatnya, bahkan sampai sewaktu dia tidur-pun…
Sambil makan malam, Rico-pun banyak berceloteh bercerita tentang pengalamannya yang saya yakin sangat istimewa buat dia.

Saya jadi ingat saat dulu pertama kali saya ikut kemah ke daerah Pangalengan sewaktu pramuka dulu (Siaga) – kurang lebih seusia Rico. Saya membayangkan ia membawa perasaan campur aduk sebelum berangkat (ragu, takut, khawatir, excited juga) dan bagaimana perasaan bangga, senang dan percaya diri sesudah menjalani semua petualangan itu. Hal-hal itu masih membekas sampai hari ini, dan jadi salah satu kepingan penting yang membentuk diri saya sekarang ini.  Dari sudut pandang ini, saya merasa yakin seyakin-yakinnya, petualangan Rico dan teman-teman yang dibawakan oleh teman-teman KSK akan menjadi kisah tak terlupakan dan akan menjadi kepingan penting dalam prosesnya menjadi individu yang utuh.
Saya mau mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya buat teman-teman KSK dan rekan penyelenggara (NTOTC Wanadri dan pengelola Kareumbi) secara khusus kepada kakak-kakak fasilitator yang mencurahkan waktu, perhatian, energi dan banyak hal lainnya untuk mewujudkan petualangan yang keren dan pastinya sangat berkesan buat Rico dan teman-temannya. Walaupun saya mengikuti dari luar saya punya kesan dan apresiasi mendalam buat teman-teman secara pribadi sebagai orangtua, sebagai sesama pendidik dan sebagai pengelola Semi Palar (kebetulan beberapa teman2 kecil Smipa ikut dalam program ini).
Lembar penutup yang teman-teman sampaikan kepada orangtua mungkin saya baca secara berbeda, karena apa yang teman-teman tuliskan betul-betul sejalan dengan apa yang sedang saya bangun bersama kakak-kakak di Semi Palar, dengan Apa yang kami istilahkan sebagai pendidikan holistik.  Tentang ekspresi diri, kepekaan sosial, relasi alam lingkungan, kreatifitas, mengolah rasa dan refleksi diri, dan bagaimana memahami eksistensi diri di tengah semesta yang diciptakan Tuhan untuk kita semua. Dari sisi ini saya merasa bingah pisan (bahasa Sunda-nya sangat senang) karena merasa punya teman seperjalanan.
Baru saja Jum’at kemarin (1 Juli 2011) saya berkesempatan bertemu dengan mas Anies Baswedan dan mendengarkan beliau menggariskan hal-hal penting tentang pendidikan – tentang bagaimana kita semua memegang JANJI (bukan cita-cita kemerdekaan) untuk mencerdaskan bangsa kita. Memenuhi janji bisa kita mulai dari hal-hal kecil yang baik – seperti yang sudah dilakukan teman-teman KSK di Legenda Hutan Kareumbi juga lewat program-program lainnya selama ini. Saya merasa terharu juga bahwa saya punya teman2 muda yang di tengah pragmatisme hidup yang melanda masyarakat kita, masih ada teman-teman semua yang mau berlelah ria berbagi kebaikan dan kebahagiaan untuk adik-adiknya – dalam masa liburan pula.

Kamis pagi setelah anak-anak berangkat, saya juga berkesempatan untuk berbincang bebas dengan Saska – sambil sarapan bubur ayam J. Ini perbincangan yang menarik buat saya juga sehubungan dengan bagaimana apa yang dilakukan teman-teman semua. Seperti yang diungkap mas Anies pula : “kita harus berhenti meratap, dan melakukan hal-hal nyata dengan berpijak pada harapan”. Indonesia adalah negara hebat, bangsa yang besar! (Yang bobrok adalah para politisi dan birokrasinya… dan memang itu-lah yang tampil di layar kaca). Teman-teman semua adalah salah satu buktinya. Saya betul-betul berharap bahwa idealisme dan semangat berkarya yang membawa teman-teman mampu menciptakan program pembelajaran yang bermutu seperti kegiatan kemarin tidak pernah luntur. Semoga teman-teman semua tidak berhenti berkarya dan terus memperoleh energi baru untuk menjaga idealisme teman-teman terus menyala… bangsa kita sangat butuh itu. 

Thursday, May 5, 2011

Puisi Paskah | Ulil Ashar Abdalla

                                                 
                                                                                               Ulil Absar Abdala

Ia yg rebah, di pangkuan perawan suci, bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yg lemah, menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku, tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus mengingatkanku:
Bahkan Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu –
mereka semua guru-guruku, yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!
Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan.
                                                                                                

Thursday, March 24, 2011

dari de Mello : rendah hati



...kepada seorang pengunjung yang mengaku pencari kebenaran, 
Sang Guru berkata,
"Apabila Kebenaran yang Engkau Cari,
maka ada satu hal yang harus kau miliki lebih dari segala hal"

"Ya, itu aku tahu.
Semangat tak kunjung padam mau mencarinya"

"Bukan!, ketersediaan tak habis-habisnya mau mengakui
mungkin ada kesalahan!"

~ dari sejenak bijak, anthony de mello, sj ~

Wednesday, March 16, 2011

support Earth Hour 2011 : Go Beyond The Hour



Don't forget to switch off the lights : March 26th 2011, 20.30-21.30 and more.
[Don't forget to register your participation : CLICK HERE]

This Earth Hour : Go Beyond The Hour!

Tuesday, March 1, 2011

Jump, Stripe dan Croc… kisah binatang2 di Savanah

Suatu sore, sepulang sekolah Rico (waktu itu dia kelas 4) menyodorkan selembar kertas kepada kami… "Pah, Mah ini aku bikin cerita… Bagus ga?"
Apa komentar kami tidak ingat, tapi ada hal yang menarik dalam ceritanya, terutama di baris-baris terakhir… Buat kami ini luar biasa, bagaimana dia menggambarkan pemikirannya tentang perbedaan dan ke-aku-annya di dalam kisah ini… Aku upload cerita ini jadi satu catatan yang berharga dalam prosesnya menemukan diri.

------

Suatu hari, seekor kangguru bernama Jump melompat tinggi di Savanah mencari teman-teman baru yang bakal diajaknya main lompat-lompat bersama.

 
Setelah melompat cukup jauh, dia bertemu Stripe, si anak Zebra, Jump menanyakan kalau Stripe bisa melompat. "Wah, sayang sekali aku tak bisa melompat, Jump, tetapi aku bisa berkamuflase dengan belangku ini." "Oh, bagus sekali!, sebaiknya kau membantuku mencari teman, Stripe." Stripe setuju, lalu mereka bersama-sama pergi mencari teman. Setelah itu mereka bertemu Croc, si buaya yang sedang berjemur, wah ternyata Croc juga tak bisa melompat, tetapi bisa menyelam dalam sekali. Jump kelelahan mencari teman sepanjang hari, ia juga tak sabar ingin segera main. Akhirnya Stripe mengusulkan bahwa "kita mengadakan lomba talent saja, mau tidak?", katanya, semua setuju.

 
Langsung mereka bermain, terus Stripe berkamuflase di padang rumput, Croc menyelam ke dalam air dan Jump melompat tinggi ke udara. Dari peristiwa itu, Jump sadar bahwa dia itu istimewa, banyak hal yang dia dapat lakukan tetapi tidak bisa dilakukan yang lain. Maka sayangilah dirimu, teruslah berusaha dan semangat!


 

Tuesday, February 22, 2011

Yang Tampak dan Yang Tak Kasat Mata

Kelihatannya kita manusia sangat berpegang pada segala sesuatu yang tampak, yang terlihat, yang kasat mata. Kita hanya terbiasa melihat apa yang yang terlihat. Sepertinya kalau tidak terlihat maka sesuatu itu tak menjadi penting. Sudut pandang yang sepertinya wajar di kehidupan manusia modern yang memang semakin materialistis (bendawi).

Sejauh ikhtiar membangun segala sesuatu di Semi Palar, banyak hal yang kita bangun memang bukan sesuatu yang sifatnya kasat mata. Apa yang kami coba bangun bersama oleh para fasilitator (kakak guru) adalah bukan sesuatu yang kasat mata. Pendidikan, kami yakin adalah sesuatu yang terdapat di dalam (inside) diri anak-anak kita.

Dibandingkan banyak sekolah-sekolah lainnya, sepertinya sekolah Semi Palar tidak menawarkan apa-apa. Apa hasilnya tidak tampak jelas secara gamblang. Anak-anak di Semi Palar tidak punya angka-angka yang dibawanya pulang sebagai simbol sukses (atau gagal) dalam proses belajarnya. Catatan perkembangan yang disampaikan kepada orangtua, tampaknya juga tidak mudah dipahami dan dihayati. Rumit, kata beberapa orangtua. Tidak seperti angka-angka yang jelas, dengan gamblang mengukur tingkat keberhasilan dan prestasi anak. Tidak seperti piagam penghargaan atau piala juara kelas. Bukan juga melalui piala lomba dan kejuaraan-kejuaraan yang dilakukan. Kalaupun ada karya-karya atau rekaman kegiatan yang ditampilkan, hal-hal tersebut tetap bukan sesuatu yang jelas dan terukur. Mungkin karena kita sendiri tidak pernah belajar untuk mampu mengapresiasi sesuatu, menghayati proses yang terkandung di dalam sebuah karya.

Pembelajaran sejati, semakin lama semakin kami hayati, berpusat di hati nurani. Di lubuk sanubari… mungkin di situ letaknya. Dan justru karena itulah dia tidak kasat mata. Tidak muncul secara fisik. Karakter yang kami coba bangun dari hari ke hari, yang kami istilahkan sebagai cerdas hati dan cerdas pikiran, fungsinya memang sebagai pondasi. Lagi-lagi, pondasi adalah bukan sesuatu yang terekspos. Pondasi seperti kita ketahui adalah bagian dari sebuah bangunan yang terletak di dalam tanah. Seberapa tinggi bangunan bisa berdiri dan kokoh menjulang tergantung dari seberapa kuat pondasinya tertanam dan mencengkram tanah. Ibarat juga akar tanamanlah yang menentukan seberapa kokoh pokok tanaman tumbuh tinggi menjulang atau membuat bunga mekar berwarna atau buah-buahan subur bergantungan di ranting-rantingnya.

Dalam situasi ini, saat masyarakat Indonesia modern (justru) sedang serba berlomba dari sudut penampilan dan pencitraan, sekolah Semi Palar sepertinya tidak menawarkan apa-apa. Sekolah ini (dibandingkan sekolah lain) ibarat sekolah yang minim fasilitas, segala sesuatu serba seadanya. Tidak banyak mainan, tidak ada lab komputer, tidak ada lab fisika, tidak ada lab bahasa dll. Sekolah Semi Palar tidak memajang piala-piala dan piagam bukti prestasi sekolahnya. Lalu apa yang sebetulnya 'ditawarkan'? Saat dijelaskan bahwa sekolah Semi Palar berfokus pada program dan konsepnya yang holistik: apakah itu? tidak jelas juga, karena program dan konsep juga abstrak, tidak kasat mata. Apalagi kalau dijelaskan lanjut bahwa Konsep Pembelajaran Holistik bisa diterapkan di manapun juga di tempat-tempat yang fasilitasnya serba terbatas seperti di desa, di gunung, di dalam rimba… penjelasan ini (tampaknya) justru semakin membingungkan.

Lalu bagaimana mengapresiasi apa yang tumbuh di anak-anak kita di Semi Palar… sepertinya kita butuh mata hati. Sesuatu yang jangan-jangan sudah banyak kita tinggalkan. Mengamati, melihat anak-anak di Semi Palar berproses aku pribadi yakin butuh mata hati. Perasaan-perasaan kita yang akan berbicara, bukan logika dan penalaran kita semata. Di Semi Palar kita memang tidak banyak mengukur anak-anak kita tapi menghayati kedirian mereka; bagaimana mereka menampilkan / memunculkan diri mereka dengan aneka dimensi kediriannya. Secara kasat mata, mereka anak-anak biasa yang tidak ada istimewanya, apalagi tanpa nilai, ranking atau piala-piala. Tapi kalau mata batin kita terbuka, dalam diri mereka, kita bisa merasakan kehadiran individu-individu yang berkembang utuh dengan segala keunikannya.

Suasana dan kegembiraan belajar yang dialami anak sehari-hari di Semi Palar tidak bisa diukur, dan kita hanya bisa ikut merasakannya. Di dalam antusiasme mereka itulah proses belajar yang sesungguhnya berjalan. Mereka sedang mengumpulkan kepingan-kepingan pembelajaran dan kesadaran untuk belajar untuk kehidupan mereka nanti.

Sulit dipahami memang, tapi harus dirasakan dan dihayati… Semoga dengan melakukan hal ini, mata hati kitapun bisa semakin terbuka…


 


 


 

Wednesday, January 19, 2011

sekilas tentang pendidikan karakter

Posting ini aku kopi dari email aku merespon pertanyaan seorang teman (Elly) mahasiswa UPI. Kebetulan sudah lama ingin menulis pendidikan karakter. Kebetulan ada pemicunya. Pertanyaan dan jawabannya ada di bawah ini.

Hallo, ka Andi punten mengganggu dan mau bertanya.
sekarangkan sedang booming pendidikan berkarakter. menurut ka Andi seperti apa pendidikan karakter itu dan bagaimana realisasi dilapangannya?
Nuhun pisan atas jawabannya
____________________

Ely, ini pertanyaan bagus yang kalo dijawab tertulis bisa berlembar-lembar.
Beberapa poin penting ya.
Buat kami di Semi Palar, pendidikan karakter adalah sasaran utama dari proses pendidikan seseorang. Kenapa begitu, karakter positif adalah segala sesuatu yang penting untuk menjadi manusia. Kalau kita ditanya dan diberi pilihan sederhana, kalau anak anda besar nanti, anda ingin anak anda seperti apa? Jadi orang baik atau jadi orang pintar? Saya pribadi, dan saya kira buat kita semua ini bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab : kita ingin anak2 kita jadi baik. Manusia yang sekedar pintar, kalau tidak baik sifatnya, akan memanfaatkan kepintarannya untuk keuntungannya sendiri. Manusia yang baik, walaupun tidak pintar, paling tidak ia tidak akan merugikan lingkungannya, dan sebaliknya sangat mungkin ia akan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Yang pasti pendidikan karakter tidak bisa disampaikan dalam satu bidang studi seperti halnya matematika.
Pembentukan karakter itu prosesnya panjang. Karakter diasah lewat pengalaman nyata sedikit demi sedikit hari demi hari.  Karakter itu terbentuk (tidak bisa diajarkan) melalui setting2 sederhana, suasana dan pengondisian dan beragam bentuk interaksi yang sangat sehari-hari. Karakter yang baik ini juga perlu banyak dilihat anak secara langsung lewat contoh; anak-anak kita sangat perlu mendapatkan banyak inspirasi. Masalahnya buat kita, jaman sekarang inspirasi adalah sesuatu yang sangat sulit ditemukan. Apa yang ada di layar kaca dan media adalah hal2 yang justru sebaliknya : perebutan kekuasaan para politisi, korupsi para birokrat, kerakusan pengusaha, dan selingkuhan atau kawin cerainya para selebritis...

Apa dampaknya situasi di sekolah bagi perkembangan karakter masyarakat, saya coba beri contoh sederhana:
  •       penggunaan penghapus dan Tipp-Ex di sekolah: karena guru ingin hasil anak rapi dan tidak ada kesalahan. Tanpa disadari anak akhirnya didorong menghapus atau menutupi kesalahannya dan memberikan jawaban atau perbaikan di atasnya. Karakter apa yang dihasilkan dari setting ini? Kita lihat orang2 Indonesia punya karakter-karakter jelek : tidak pernah belajar dari kesalahannya, tidak terbuka atas kesalahan2nya dan sebaliknya sangat pandai menutup-nutupi kesalahannya. Bisa kelihatan kan hubungannya? 
  •       Mewajibkan anak-anak memakai seragam nasional, yang membuat semua anak tampil serba sama di desa dan di kota, anak yang punya dan tidak punya. Mungkin maksudnya supaya tidak menonjolkan perbedaan, tapi akhirnya masyarakat kita justru sangat alergi terhadap perbedaan. Seharusnya anak desa harus dididik tetap bangga sebagai anak desa, karena Tuhan-lah yang menentukan seorang anak lahir di desa, di tengah keluarga dan masyarakatnya. Anak kota harus dididik tetap rendah hati. Dia tidak menjadi lebih baik karena lahir dan tinggal di kota dan sebaliknya harus mampu menghargai saudaranya yang tinggal di desa. Kalau dari tinjauan pendidikan holistik, hal ini berkaitan dengan kesadaran diri, bahwa kalau seseorang menyadari dirinya lebih mampu, tentunya ia punya ‘tugas’ lebih daripada mereka yang kehidupannya serba pas-pasan. Kemudian dari aspek spiritualitas, tentunya Sang Pencipta punya maksud menciptakan setiap individu dengan situasinya masing-masing. Jadi orang desa atau lahir di pedalaman adalah sama-sama anugerah luar biasa dari Sang Pencipta. Saya kira ini bagian erat dari pendidikan karakter.
Pola-pola pendidikan kita selama ini sangat membentuk karakter masyarakat kita. Masyarakat di desa sangat minder dan rendah diri… Saya pernah lihat sekolah di desa tapi anak-anaknya bersekolah pakai kemeja putih, dasi kupu-kupu, pakai rompi. Seperti anak2 di kota. Berapa biaya yang harus dikeluarkan orangtuanya untuk membeli seragam tersebut padahal apa yang mereka kenakan (pakaian) sangat tidak mencerminkan proses pembelajaran yang mereka jalani. Semua serba penampilan. Yang penting tampil dengan kemasan yang hebat, padahal belum tentu ada isinya… Ini juga pendidikan karakter. Kalau guru2 di desa mendidik mereka apa adanya, mensyukuri situasi dan kondisi mereka, belajar dari lingkungan kehidupan nyatanya, menelaah mana yang masih kurang dan belajar untuk berproses membuatnya lebih baik, saya kira di situlah letak pendidikan yang sejati

Kalau dibahas soal ini tidak habis-habisnya… Nasionalisme adalah juga bagian, bahkan merupakan bagian penting dari karakter. Cinta budaya sendiri adalah karakter. Tapi dengan metoda pengajaran yang diterapkan semua jadi melenceng. Kalau Muatan Lokal Kebudayaan diterjemahkan menjadi pelajaran bahasa Sunda yang akhirnya membuat (hampir semua) murid benci pelajaran bahasa Sunda, tentunya pendidikan kita sudah salah arah. Sama halnya dengan upacara bendera… Kalau disurvey, berapa banyak anak sekolah yang bangga dan antusias dengan upacara bendera, mungkin hanya hitungan jari, dan kita bisa paham kenapa  masyarakat kita sangat tipis nasionalismenya .

Begitu Ely, pendapat saya. Ini hasil olahan dan observasi saya pribadi. Tapi rasanya kita bisa mengambil korelasinya, bahwa situasi masyarakat kita, secara ekonomi, sosial, budaya, agama, politik, lingkungan hidup yang saat ini semuanya serba sangat mengkhawatirkan, berakar pada pola pendidikan yang selama ini diterima masyarakat (anak-anak) kita di dalam proses pendidikan mereka…Bicara tentang pendidikan karakter, pijakannya adalah memang murni pendidikan. Kalau pola-pola persekolahan kita masih beranjak dari pola-pola pengajaran, kita akan bisa tebak bagaimana ujungnya.

Tuesday, December 14, 2010

a child as a miracle



The child must know that he is a miracle, 
that since the beginning of the world there hasn't been, 
and until the end of the world there will not be, 
another child like him.

-Pablo Casals