sekedar meninggalkan jejak... refleksi atau pemikiran atas pengalaman dan pembelajaran saya senang berbagi mengenai pembelajaran dan pendidikan, budaya, lingkungan hidup atau spiritualitas... di antara hal-hal lain. saya tuliskan saat saya punya waktu di antara berbagai kegiatan saya di Rumah Belajar Semi Palar (www.semipalar.sch.id). Semoga bermanfaat.
Friday, September 23, 2011
4 tahun komunitas Bike2Work Bandung
Hari ini ulang tahun ke empat Bike2Work Bandung. Sudah cukup lama saya berkenalan dan menyatakan diri bergabung dan mendukung gerakan ini. Gerakan yang buat saya pribadi sangat keren dan sangat visioner. Situasi iklim bumi kita yang sekarang ini tidak keruan - dengan apa yang didefinisikan sebagai Global Warming dan lain sebagainya, memang menuntut tindakan nyata dari kita semua - setiap individu manusia untuk melakukan sesuatu - merubah gaya hidup dan perilaku sehari-hari untuk bisa menghentikan krisis yang sekarang ini terjadi.
Manusia, kalau kita pikirkan, memang spesies yang paling cerdas di muka bumi ini. Ciptaan Tuhan yang paling luar biasa. Tapi juga paling (maaf kalau kasar) : BRE***EK! ditulis dengan huruf kapital, tanda seru dan cetak tebal. Di seluruh muka bumi ini tidak ada lagi makhluk selain manusia yang menghasilkan limbah dan merusak lingkungan hidupnya sendiri. Makhluk hidup lain hidup berdampingan (coexist) di muka bumi ini dalam kesetimbangan. Manusia-lah yang karena keserakahan, kemalasan, dan segala ketidak-peduliannya akhirnya merusak lingkungan hidupnya dan kita sampai di titik di mana manusia membahayakan kelangsungan hidupnya sendiri.
Kembali bersepeda (dan berjalan kaki) adalah gerakan paling masuk akal dan sangat bisa dilakukan oleh kita semua, saat ini juga. Komunitas, gerakan dan kampanye Bike2Work menjadi salah satu hal yang perlu kita dukung dan kita dorong bersama agar semakin masuk menjadi bagian dari pola hidup kita semua khususnya masyarakat kota Bandung.
Jum'at sore itu saya mampir di Cikapayang dan bertegur sapa dengan rekan-rekan yang bersepeda sepulang kerja dan mengenakan atribut khas Bike2Work. Sudah cukup lama saya tidak mampir ke sana, dan menyenangkan sekali bertemu dan berkenalan dengan wajah-wajah baru mulai dari para profesional, mahasiswa dan pelajar yang berkumpul untuk satu gerakan dan kesadaran yang sama.
Dari Taman Cikapayang, kita bergerak ke Plaza Dago untuk seremoni kecil di sana dan melanjutkannya dengan konvoi keliling kota Bandung. Empat tahun saya yakin bukan waktu yang pendek, bukan proses yang mudah bagi sebuah komunitas. Apalagi untuk sebuah komunitas yang seakan bergerak melawan arus. Melawan arus karena selagi dinamika peradaban sedang bergerak meningkatkan industri, teknologi dan segala hal yang mendampinginya, kelompok kecil ini ingin mengajak kita semua melangkah mundur. Daripada berkendaraan, ayo bersepeda. We have to go backward, to move forward!
Buat saya pribadi, saya juga masih harus terus memperkuat komitmen diri untuk lebih konsisten lagi bersepeda, berjalan kaki atau berkendaraan umum. Banyak hal menyangkut pola hidup kita yang perlu dirubah. Dari mana kita mulai, tentunya dari kesadaran. Kesadaran bahwa hal tersebut adalah hal penting yang perlu dilakukan.
Terima kasih untuk teman2 di komunitas Bike2Work yang terus konsisten dengan gerakannya dan menjadi inspirasi besar buat saya untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan.
Saturday, July 2, 2011
Catatan Apresiasi untuk Komunitas Sahabat Kota | program Legenda Hutan Kareumbi
Kamis pagi setelah anak-anak berangkat, saya juga berkesempatan untuk berbincang bebas dengan Saska – sambil sarapan bubur ayam J. Ini perbincangan yang menarik buat saya juga sehubungan dengan bagaimana apa yang dilakukan teman-teman semua. Seperti yang diungkap mas Anies pula : “kita harus berhenti meratap, dan melakukan hal-hal nyata dengan berpijak pada harapan”. Indonesia adalah negara hebat, bangsa yang besar! (Yang bobrok adalah para politisi dan birokrasinya… dan memang itu-lah yang tampil di layar kaca). Teman-teman semua adalah salah satu buktinya. Saya betul-betul berharap bahwa idealisme dan semangat berkarya yang membawa teman-teman mampu menciptakan program pembelajaran yang bermutu seperti kegiatan kemarin tidak pernah luntur. Semoga teman-teman semua tidak berhenti berkarya dan terus memperoleh energi baru untuk menjaga idealisme teman-teman terus menyala… bangsa kita sangat butuh itu.
Thursday, May 5, 2011
Puisi Paskah | Ulil Ashar Abdalla
Ia yg rebah, di pangkuan perawan suci, bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yg lemah, menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!
Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku, tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus mengingatkanku:
Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu –
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.
Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!
Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan.
Tuesday, April 19, 2011
Thursday, March 24, 2011
dari de Mello : rendah hati
Wednesday, March 16, 2011
support Earth Hour 2011 : Go Beyond The Hour
[Don't forget to register your participation : CLICK HERE]
This Earth Hour : Go Beyond The Hour!
Tuesday, March 1, 2011
Jump, Stripe dan Croc… kisah binatang2 di Savanah
------
Tuesday, February 22, 2011
Yang Tampak dan Yang Tak Kasat Mata
Kelihatannya kita manusia sangat berpegang pada segala sesuatu yang tampak, yang terlihat, yang kasat mata. Kita hanya terbiasa melihat apa yang yang terlihat. Sepertinya kalau tidak terlihat maka sesuatu itu tak menjadi penting. Sudut pandang yang sepertinya wajar di kehidupan manusia modern yang memang semakin materialistis (bendawi).
Sejauh ikhtiar membangun segala sesuatu di Semi Palar, banyak hal yang kita bangun memang bukan sesuatu yang sifatnya kasat mata. Apa yang kami coba bangun bersama oleh para fasilitator (kakak guru) adalah bukan sesuatu yang kasat mata. Pendidikan, kami yakin adalah sesuatu yang terdapat di dalam (inside) diri anak-anak kita.
Dibandingkan banyak sekolah-sekolah lainnya, sepertinya sekolah Semi Palar tidak menawarkan apa-apa. Apa hasilnya tidak tampak jelas secara gamblang. Anak-anak di Semi Palar tidak punya angka-angka yang dibawanya pulang sebagai simbol sukses (atau gagal) dalam proses belajarnya. Catatan perkembangan yang disampaikan kepada orangtua, tampaknya juga tidak mudah dipahami dan dihayati. Rumit, kata beberapa orangtua. Tidak seperti angka-angka yang jelas, dengan gamblang mengukur tingkat keberhasilan dan prestasi anak. Tidak seperti piagam penghargaan atau piala juara kelas. Bukan juga melalui piala lomba dan kejuaraan-kejuaraan yang dilakukan. Kalaupun ada karya-karya atau rekaman kegiatan yang ditampilkan, hal-hal tersebut tetap bukan sesuatu yang jelas dan terukur. Mungkin karena kita sendiri tidak pernah belajar untuk mampu mengapresiasi sesuatu, menghayati proses yang terkandung di dalam sebuah karya.
Pembelajaran sejati, semakin lama semakin kami hayati, berpusat di hati nurani. Di lubuk sanubari… mungkin di situ letaknya. Dan justru karena itulah dia tidak kasat mata. Tidak muncul secara fisik. Karakter yang kami coba bangun dari hari ke hari, yang kami istilahkan sebagai cerdas hati dan cerdas pikiran, fungsinya memang sebagai pondasi. Lagi-lagi, pondasi adalah bukan sesuatu yang terekspos. Pondasi seperti kita ketahui adalah bagian dari sebuah bangunan yang terletak di dalam tanah. Seberapa tinggi bangunan bisa berdiri dan kokoh menjulang tergantung dari seberapa kuat pondasinya tertanam dan mencengkram tanah. Ibarat juga akar tanamanlah yang menentukan seberapa kokoh pokok tanaman tumbuh tinggi menjulang atau membuat bunga mekar berwarna atau buah-buahan subur bergantungan di ranting-rantingnya.
Dalam situasi ini, saat masyarakat Indonesia modern (justru) sedang serba berlomba dari sudut penampilan dan pencitraan, sekolah Semi Palar sepertinya tidak menawarkan apa-apa. Sekolah ini (dibandingkan sekolah lain) ibarat sekolah yang minim fasilitas, segala sesuatu serba seadanya. Tidak banyak mainan, tidak ada lab komputer, tidak ada lab fisika, tidak ada lab bahasa dll. Sekolah Semi Palar tidak memajang piala-piala dan piagam bukti prestasi sekolahnya. Lalu apa yang sebetulnya 'ditawarkan'? Saat dijelaskan bahwa sekolah Semi Palar berfokus pada program dan konsepnya yang holistik: apakah itu? tidak jelas juga, karena program dan konsep juga abstrak, tidak kasat mata. Apalagi kalau dijelaskan lanjut bahwa Konsep Pembelajaran Holistik bisa diterapkan di manapun juga di tempat-tempat yang fasilitasnya serba terbatas seperti di desa, di gunung, di dalam rimba… penjelasan ini (tampaknya) justru semakin membingungkan.
Lalu bagaimana mengapresiasi apa yang tumbuh di anak-anak kita di Semi Palar… sepertinya kita butuh mata hati. Sesuatu yang jangan-jangan sudah banyak kita tinggalkan. Mengamati, melihat anak-anak di Semi Palar berproses aku pribadi yakin butuh mata hati. Perasaan-perasaan kita yang akan berbicara, bukan logika dan penalaran kita semata. Di Semi Palar kita memang tidak banyak mengukur anak-anak kita tapi menghayati kedirian mereka; bagaimana mereka menampilkan / memunculkan diri mereka dengan aneka dimensi kediriannya. Secara kasat mata, mereka anak-anak biasa yang tidak ada istimewanya, apalagi tanpa nilai, ranking atau piala-piala. Tapi kalau mata batin kita terbuka, dalam diri mereka, kita bisa merasakan kehadiran individu-individu yang berkembang utuh dengan segala keunikannya.
Suasana dan kegembiraan belajar yang dialami anak sehari-hari di Semi Palar tidak bisa diukur, dan kita hanya bisa ikut merasakannya. Di dalam antusiasme mereka itulah proses belajar yang sesungguhnya berjalan. Mereka sedang mengumpulkan kepingan-kepingan pembelajaran dan kesadaran untuk belajar untuk kehidupan mereka nanti.
Sulit dipahami memang, tapi harus dirasakan dan dihayati… Semoga dengan melakukan hal ini, mata hati kitapun bisa semakin terbuka…
Wednesday, January 19, 2011
sekilas tentang pendidikan karakter
sekarangkan sedang booming pendidikan berkarakter. menurut ka Andi seperti apa pendidikan karakter itu dan bagaimana realisasi dilapangannya?
Nuhun pisan atas jawabannya
Buat kami di Semi Palar, pendidikan karakter adalah sasaran utama dari proses pendidikan seseorang. Kenapa begitu, karakter positif adalah segala sesuatu yang penting untuk menjadi manusia. Kalau kita ditanya dan diberi pilihan sederhana, kalau anak anda besar nanti, anda ingin anak anda seperti apa? Jadi orang baik atau jadi orang pintar? Saya pribadi, dan saya kira buat kita semua ini bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab : kita ingin anak2 kita jadi baik. Manusia yang sekedar pintar, kalau tidak baik sifatnya, akan memanfaatkan kepintarannya untuk keuntungannya sendiri. Manusia yang baik, walaupun tidak pintar, paling tidak ia tidak akan merugikan lingkungannya, dan sebaliknya sangat mungkin ia akan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Yang pasti pendidikan karakter tidak bisa disampaikan dalam satu bidang studi seperti halnya matematika.
Pembentukan karakter itu prosesnya panjang. Karakter diasah lewat pengalaman nyata sedikit demi sedikit hari demi hari. Karakter itu terbentuk (tidak bisa diajarkan) melalui setting2 sederhana, suasana dan pengondisian dan beragam bentuk interaksi yang sangat sehari-hari. Karakter yang baik ini juga perlu banyak dilihat anak secara langsung lewat contoh; anak-anak kita sangat perlu mendapatkan banyak inspirasi. Masalahnya buat kita, jaman sekarang inspirasi adalah sesuatu yang sangat sulit ditemukan. Apa yang ada di layar kaca dan media adalah hal2 yang justru sebaliknya : perebutan kekuasaan para politisi, korupsi para birokrat, kerakusan pengusaha, dan selingkuhan atau kawin cerainya para selebritis...
Apa dampaknya situasi di sekolah bagi perkembangan karakter masyarakat, saya coba beri contoh sederhana:
- penggunaan penghapus dan Tipp-Ex di sekolah: karena guru ingin hasil anak rapi dan tidak ada kesalahan. Tanpa disadari anak akhirnya didorong menghapus atau menutupi kesalahannya dan memberikan jawaban atau perbaikan di atasnya. Karakter apa yang dihasilkan dari setting ini? Kita lihat orang2 Indonesia punya karakter-karakter jelek : tidak pernah belajar dari kesalahannya, tidak terbuka atas kesalahan2nya dan sebaliknya sangat pandai menutup-nutupi kesalahannya. Bisa kelihatan kan hubungannya?
- Mewajibkan anak-anak memakai seragam nasional, yang membuat semua anak tampil serba sama di desa dan di kota, anak yang punya dan tidak punya. Mungkin maksudnya supaya tidak menonjolkan perbedaan, tapi akhirnya masyarakat kita justru sangat alergi terhadap perbedaan. Seharusnya anak desa harus dididik tetap bangga sebagai anak desa, karena Tuhan-lah yang menentukan seorang anak lahir di desa, di tengah keluarga dan masyarakatnya. Anak kota harus dididik tetap rendah hati. Dia tidak menjadi lebih baik karena lahir dan tinggal di kota dan sebaliknya harus mampu menghargai saudaranya yang tinggal di desa. Kalau dari tinjauan pendidikan holistik, hal ini berkaitan dengan kesadaran diri, bahwa kalau seseorang menyadari dirinya lebih mampu, tentunya ia punya ‘tugas’ lebih daripada mereka yang kehidupannya serba pas-pasan. Kemudian dari aspek spiritualitas, tentunya Sang Pencipta punya maksud menciptakan setiap individu dengan situasinya masing-masing. Jadi orang desa atau lahir di pedalaman adalah sama-sama anugerah luar biasa dari Sang Pencipta. Saya kira ini bagian erat dari pendidikan karakter.
Kalau dibahas soal ini tidak habis-habisnya… Nasionalisme adalah juga bagian, bahkan merupakan bagian penting dari karakter. Cinta budaya sendiri adalah karakter. Tapi dengan metoda pengajaran yang diterapkan semua jadi melenceng. Kalau Muatan Lokal Kebudayaan diterjemahkan menjadi pelajaran bahasa Sunda yang akhirnya membuat (hampir semua) murid benci pelajaran bahasa Sunda, tentunya pendidikan kita sudah salah arah. Sama halnya dengan upacara bendera… Kalau disurvey, berapa banyak anak sekolah yang bangga dan antusias dengan upacara bendera, mungkin hanya hitungan jari, dan kita bisa paham kenapa masyarakat kita sangat tipis nasionalismenya .
Begitu Ely, pendapat saya. Ini hasil olahan dan observasi saya pribadi. Tapi rasanya kita bisa mengambil korelasinya, bahwa situasi masyarakat kita, secara ekonomi, sosial, budaya, agama, politik, lingkungan hidup yang saat ini semuanya serba sangat mengkhawatirkan, berakar pada pola pendidikan yang selama ini diterima masyarakat (anak-anak) kita di dalam proses pendidikan mereka…Bicara tentang pendidikan karakter, pijakannya adalah memang murni pendidikan. Kalau pola-pola persekolahan kita masih beranjak dari pola-pola pengajaran, kita akan bisa tebak bagaimana ujungnya.
Tuesday, December 14, 2010
a child as a miracle
that since the beginning of the world there hasn't been,
and until the end of the world there will not be,
another child like him.
-Pablo Casals
