sekedar meninggalkan jejak... refleksi atau pemikiran atas pengalaman dan pembelajaran saya senang berbagi mengenai pembelajaran dan pendidikan, budaya, lingkungan hidup atau spiritualitas... di antara hal-hal lain. saya tuliskan saat saya punya waktu di antara berbagai kegiatan saya di Rumah Belajar Semi Palar (www.semipalar.sch.id). Semoga bermanfaat.
Thursday, December 8, 2011
Guru, Prajurit dan Ulama
Tulisan ini terinspirasi dari obrolan beberapa minggu lalu di kediaman Abah Iwan bersama Abah, kang Erik, kang Aat, mas Ipong, dan mas Imam Suryantoko. Saya kebetulan mampir ke tempat Abah dalam rangka minta kesediaan beliau sharing di Semi Palar kepada orang tua – sebagai para pendidik.
Abah berkisah bahwa masyarakat Baduy Dalam, misi hidupnya adalah "tapa saendeng-endeng kanggo bangsa jeung nagara"; (mudah-mudahan saya tidak salah tulis). Terjemahan bebasnya kira-kira, bertapa seumur hidup bagi bangsa dan negara. Buat saya ini sesuatu yang luar biasa mengetahui ada sekelompok kecil masyarakat tradisi yang secara sadar menentukan – secara kolektif – pilihan hidupnya adalah untuk keberlangsungan suatu bangsa. Dalam pola pikir masyarakat modern, sekilas hal ini akan tampak konyol, bahkan bodoh, tidak masuk akal.
Obrolan kamipun berlanjut, sampai akhirnya muncul semacam kesimpulan, bahwa semestinya ada tiga komponen bangsa yang seharusnya berperan seperti masyarakat Baduy Dalam itu : Guru, Prajurit (militer) dan Ulama. Kalau ketiga komponen bangsa ini bisa kuat, kokoh, mereka inilah yang akan menjadi pilar utama konstruksi sebuah bangsa agar bisa menjadi bangsa yang kuat dan besar. Tapi kemudian tantangannya menjadi luar biasa, ibarat apa yang diungkapkan masyarakat Baduy Dalam sebagai "tapa saendeng-endeng kanggo bangsa jeung nagara". Perlu ada kesadaran diri luar biasa bahwa apa yang dilakukan sebagai pilihan hidup adalah bukan untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk kepentingan individu, tapi untuk orang lain untuk lingkaran di luar diri mereka… Seperti mas Anies Baswedan (pendiri gerakan Indonesia Mengajar) mengistilahkan para guru sebagai orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
bersambung...
Saturday, November 26, 2011
surat wasiat Baden Powell
Pramuka-Pramuka yang kucinta :
Jika kamu pernah melihat sandiwara "Peter Pan", maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikianlah halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri …………..
Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah !
Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !
Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam janji Pramukamu meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi - dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.
Temanmu, Baden Powell
Thursday, November 17, 2011
Tuesday, November 15, 2011
foto :: merentang di atas air
merentang di atas air
di mataku, suasana ini memunculkan komposisi yang keren. entah apanya...
apakah kontrak bayang-bayang pepohonan terhadap arus sungai di bawahnya,
pantulan sinar matahari di atas batang-batang bambu.
atau memang momen yang ada saat aku di sana yang mendorongku untuk merekam gambar ini...
ciwangun, 29 Maret 2011
Wednesday, November 9, 2011
ibarat membangun Tembok Besar Cina
"Siapa yang tahu, berapa waktu yang dibutuhkan untuk membangun - menyelesaikan Tembok Besar Cina?", pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Anies Baswedan, dalam sebuah forum di bulan Juli lalu di Gedung Indonesia Menggugat. Hadirin mulai melontarkan jawaban "30 tahun!", "100 tahun!"... Jawaban yang betul, ternyata adalah 300 tahun. Luar biasa! Kalau kita perhitungkan satu generasi adalah 30 tahun, berarti pembangunan Tembok Besar Cina perlu waktu 10 generasi. Perlu beberapa dinasti kerajaan untuk menuntaskan satu bangunan luar biasa ini, satu-satunya objek di bumi yang konon bisa terlihat dari luar angkasa.
Apa yang ingin disampaikan mas Anies? Ilustrasi Tembok Besar Cina, ternyata mengandung banyak poin penting di dalamnya. Pertama, adalah keyakinan besar pada bangsa Cina pada waktu itu bahwa bangsanya akan tetap ada, tetap eksis di generasi demi generasi setelah mereka perintisnya sudah tiada. Ada perspektif ke masa depan yang sangat panjang, ada keyakinan tentang kejayaan bangsa mereka yang dihayati oleh semua yang ikut terlibat dalam proyek besar tersebut saat itu. Mas Anies mengajak kita yang hadir untuk membayangkan apa yang dipikirkan oleh mereka yang bertugas memasang batu pondasi bangunan tembok tersebut. Kita bisa bayangkan bahwa mereka mestinya paham bahwa mereka tidak akan menyaksikan bagaimana tembok tersebut akan selesai nantinya. Walaupun demikian, batu demi batu tetap dipasangkan, generasi demi generasi tetap menjalankan tugas berat ini untuk kejayaan bangsanya... Mungkin cukup banyak dari mereka yang melakukannya di bawah paksaan, tapi membayangkan prosesnya tetap ini adalah karya luar biasa. Mestinya kita juga bisa menyimpulkan bahwa ini juga menggambarkan kesetiaan dan keyakinan teguh terhadap apa yang disebut proses. Proses yang berjalan selama 300 tahun.
Pendidikan saya kira sangat sejalan dengan ilustrasi ini. Apa yang dilakukan para pendidik (guru, orang tua) terhadap anak-anak kita adalah proses yang luar biasa panjang. Apa yang kita lakukan adalah membantu anak menemukan dan meletakkan keping demi keping bagian kecil dari bangunan individu yang wujudnya baru nampak di sekian tahun mendatang. Seperti apa kita hari ini adalah hasil dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh para pendidik kita dulu.
Saya teringat dialog dengan kak Marisa Moeliono - teman diskusi kami di Semi Palar khususnya mengenai bidang psikologi. Beliau merespon pertanyaan kami kurang lebih begini :"kak Marisa, kita di kelas sudah melakukan ini, itu, memberi tahu, mengajak diskusi, mengingatkan, tapi kok di anak-anak sepertinya tidak ada perubahan?". Respon kak Marisa saat itu sederhana, "kakak-kakak, kita itu harus sabar... apa yang kita lakukan hari ini, hasilnya mungkin baru muncul setelah anak-anak SMP atau SMA, bahkan setelah mereka dewasa nanti. Kita hanya harus yakin bahwa setiap hal positif apapun yang kita lakukan akan melengkapi mereka. Dan apa yang kita berikan sebagai pendidik, akan muncul kelak pada waktunya". Intinya, saya kira adalah bahwa kita harus terus memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan tugas pendidikan kita bagi anak-anak... Kita lakukan, tanpa harus banyak berharap atau menuntut bahwa kita ingin bisa melihat hasilnya saat ini juga. Karena pendidikan ini adalah sebuah proses, karena apa yang kita lakukan bagi anak-anak adalah membantu mereka membangun diri mereka sendiri...
Dalam kesempatan lain, sebuah obrolan di dalam sebuah forum yang berbeda menyinggung persoalan, ini di mana saya dan teman-teman membahas bagaimana pemerintah mengelola kebijakan2 pendidikan yang memayungi segala upaya penyelenggaraan pendidikan di negeri ini... Ganti menteri ganti kebijakan. Sebuah pola yang sudah kita kenali sejak dulu. Hal ini menggambarkan bahwa memang para pemimpin bangsa ini tidak punya visi. Pemimpin kita tidak tahu, mau membangun apa di negeri ini. Atau, kalaupun punya visi, tidak mampu memimpin segenap lapisan bangsa yang dipimpinnya untuk bergerak menuju ke visi tersebut. Mau dibawa ke mana bangsa ini. Apa yang selalu dilakukan adalah membongkar kembali apa yang sudah dibangun sebelumnya. Belum ada hasilnya, begitu ganti pengelola, kebijakan juga otomatis diganti. Akibatnya, bangsa ini tidak pernah jadi apa-apa karena tidak pernah membangun apa-apa.
Mas Anies bilang, bangsa kita ini adalah orang-orang yang senangnya gunting pita. Senang upacara dan peresmian doang. Kerjanya nol besar... Mengutip kata-kata Dahlan Iskan, pada hari pengangkatannya menjadi Meneg BUMN, dia bilang begini, "Saya sudah titip kepada para Direktur BUMN, dalam 3 bulan ke depan, harus mengurangi jumlah rapat-rapat, membuat laporan dan lain sebagainya sampai 50%. Jangan sampai kita berpikir kalau sudah rapat dan membuat laporan, kita itu sudah bekerja. Lebih baik waktu yang digunakan untuk rapat-rapat dan membuat laporan itu kita manfaatkan untuk bekerja." Keren! Uraian itu datang dari seorang Dahlan Iskan yang dalam jangka waktu 3 tahun mampu memutar-balikkan performansi PLN dari situasi semrawut dan perlu disubsidi kiri kanan, menjadi badan usaha yang profesional dan profitabel. Luar biasa. Ini sebetulnya menandakan kita bisa, kalau kita mau...
Siang tadi, di sebuah forum tentang Pendidikan Nilai yang diselenggarakan oleh romo Ferry Sutrisna, saya berkenalan dan berbincang dengan Bpk. Teguh Purwanto. Beliau sekarang bekerja di Departeman Kehutanan, sebagai kepala biro Ekowisata dan Jasa Lingkungan. Seorang yang saya lihat punya visi luar biasa. Beliau memandang bahwa bangsa Indonesia punya potensi luar biasa. Beliau bercerita bagaimana setelah Bom Bali I dan II, sektor pariwisata nyaris ambruk karena hampir 70% wisatawan asing berhenti masuk Indonesia. Tapi beliau dan timnya yakin penuh bahwa Indonesia bisa bangkit dengan mengandalkan diri kita sendiri. Dan dalam prosesnya ini memang terbukti. Saat ini beliau sedang bekerja membangun pariwisata di banyak tempat di Indonesia, salah satunya di Jawa Barat adalah Kawah Putih, yang dalam waktu singkat menjadi sangat populer bahkan ke manca negara. "Potensinya besar, tapi harus dibangun dengan kerja sama banyak pihak." katanya. Saya tanya, "minat asing bagaimana pak?" Beliau bilang, "Kita sedang fokus untuk membangun kerja sama dengan swasta nasional. Minat asing memang banyak, tapi kita tidak ingin seperti Bali yang sekarang 70% sudah dikuasai asing". Acung jempol buat Pak Teguh. Saya sepakat. Kita harus yakin dengan diri kita sendiri...
Menyambung tulisan di atas, bangsa yang besar dibangun dari individu yang berkualitas. Bukan dari sistem ekonomi atau banyaknya industri yang dimiliki, bukan juga dari angka2 penghasilan perkapita, atau angka-angka statistik yang bisa dimainkan dan dimanipulasi. Individu yang berkualitas dan berkarakter dan cinta bangsanya hanya bisa dibangun lewat pendidikan, di sekolah dan di keluarga. Sekali lagi, kalau kita mau, kita bisa membangun sesuatu yang luar biasa seperti dulu kita punya kerajaan Majapahit, seperti candi Borobudur... sesuatu yang seperti Tembok Besar Cina... Karena sebetulnya, kita mampu.
Apa yang ingin disampaikan mas Anies? Ilustrasi Tembok Besar Cina, ternyata mengandung banyak poin penting di dalamnya. Pertama, adalah keyakinan besar pada bangsa Cina pada waktu itu bahwa bangsanya akan tetap ada, tetap eksis di generasi demi generasi setelah mereka perintisnya sudah tiada. Ada perspektif ke masa depan yang sangat panjang, ada keyakinan tentang kejayaan bangsa mereka yang dihayati oleh semua yang ikut terlibat dalam proyek besar tersebut saat itu. Mas Anies mengajak kita yang hadir untuk membayangkan apa yang dipikirkan oleh mereka yang bertugas memasang batu pondasi bangunan tembok tersebut. Kita bisa bayangkan bahwa mereka mestinya paham bahwa mereka tidak akan menyaksikan bagaimana tembok tersebut akan selesai nantinya. Walaupun demikian, batu demi batu tetap dipasangkan, generasi demi generasi tetap menjalankan tugas berat ini untuk kejayaan bangsanya... Mungkin cukup banyak dari mereka yang melakukannya di bawah paksaan, tapi membayangkan prosesnya tetap ini adalah karya luar biasa. Mestinya kita juga bisa menyimpulkan bahwa ini juga menggambarkan kesetiaan dan keyakinan teguh terhadap apa yang disebut proses. Proses yang berjalan selama 300 tahun.
Pendidikan saya kira sangat sejalan dengan ilustrasi ini. Apa yang dilakukan para pendidik (guru, orang tua) terhadap anak-anak kita adalah proses yang luar biasa panjang. Apa yang kita lakukan adalah membantu anak menemukan dan meletakkan keping demi keping bagian kecil dari bangunan individu yang wujudnya baru nampak di sekian tahun mendatang. Seperti apa kita hari ini adalah hasil dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh para pendidik kita dulu.
Saya teringat dialog dengan kak Marisa Moeliono - teman diskusi kami di Semi Palar khususnya mengenai bidang psikologi. Beliau merespon pertanyaan kami kurang lebih begini :"kak Marisa, kita di kelas sudah melakukan ini, itu, memberi tahu, mengajak diskusi, mengingatkan, tapi kok di anak-anak sepertinya tidak ada perubahan?". Respon kak Marisa saat itu sederhana, "kakak-kakak, kita itu harus sabar... apa yang kita lakukan hari ini, hasilnya mungkin baru muncul setelah anak-anak SMP atau SMA, bahkan setelah mereka dewasa nanti. Kita hanya harus yakin bahwa setiap hal positif apapun yang kita lakukan akan melengkapi mereka. Dan apa yang kita berikan sebagai pendidik, akan muncul kelak pada waktunya". Intinya, saya kira adalah bahwa kita harus terus memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan tugas pendidikan kita bagi anak-anak... Kita lakukan, tanpa harus banyak berharap atau menuntut bahwa kita ingin bisa melihat hasilnya saat ini juga. Karena pendidikan ini adalah sebuah proses, karena apa yang kita lakukan bagi anak-anak adalah membantu mereka membangun diri mereka sendiri...
Dalam kesempatan lain, sebuah obrolan di dalam sebuah forum yang berbeda menyinggung persoalan, ini di mana saya dan teman-teman membahas bagaimana pemerintah mengelola kebijakan2 pendidikan yang memayungi segala upaya penyelenggaraan pendidikan di negeri ini... Ganti menteri ganti kebijakan. Sebuah pola yang sudah kita kenali sejak dulu. Hal ini menggambarkan bahwa memang para pemimpin bangsa ini tidak punya visi. Pemimpin kita tidak tahu, mau membangun apa di negeri ini. Atau, kalaupun punya visi, tidak mampu memimpin segenap lapisan bangsa yang dipimpinnya untuk bergerak menuju ke visi tersebut. Mau dibawa ke mana bangsa ini. Apa yang selalu dilakukan adalah membongkar kembali apa yang sudah dibangun sebelumnya. Belum ada hasilnya, begitu ganti pengelola, kebijakan juga otomatis diganti. Akibatnya, bangsa ini tidak pernah jadi apa-apa karena tidak pernah membangun apa-apa.
Mas Anies bilang, bangsa kita ini adalah orang-orang yang senangnya gunting pita. Senang upacara dan peresmian doang. Kerjanya nol besar... Mengutip kata-kata Dahlan Iskan, pada hari pengangkatannya menjadi Meneg BUMN, dia bilang begini, "Saya sudah titip kepada para Direktur BUMN, dalam 3 bulan ke depan, harus mengurangi jumlah rapat-rapat, membuat laporan dan lain sebagainya sampai 50%. Jangan sampai kita berpikir kalau sudah rapat dan membuat laporan, kita itu sudah bekerja. Lebih baik waktu yang digunakan untuk rapat-rapat dan membuat laporan itu kita manfaatkan untuk bekerja." Keren! Uraian itu datang dari seorang Dahlan Iskan yang dalam jangka waktu 3 tahun mampu memutar-balikkan performansi PLN dari situasi semrawut dan perlu disubsidi kiri kanan, menjadi badan usaha yang profesional dan profitabel. Luar biasa. Ini sebetulnya menandakan kita bisa, kalau kita mau...
Siang tadi, di sebuah forum tentang Pendidikan Nilai yang diselenggarakan oleh romo Ferry Sutrisna, saya berkenalan dan berbincang dengan Bpk. Teguh Purwanto. Beliau sekarang bekerja di Departeman Kehutanan, sebagai kepala biro Ekowisata dan Jasa Lingkungan. Seorang yang saya lihat punya visi luar biasa. Beliau memandang bahwa bangsa Indonesia punya potensi luar biasa. Beliau bercerita bagaimana setelah Bom Bali I dan II, sektor pariwisata nyaris ambruk karena hampir 70% wisatawan asing berhenti masuk Indonesia. Tapi beliau dan timnya yakin penuh bahwa Indonesia bisa bangkit dengan mengandalkan diri kita sendiri. Dan dalam prosesnya ini memang terbukti. Saat ini beliau sedang bekerja membangun pariwisata di banyak tempat di Indonesia, salah satunya di Jawa Barat adalah Kawah Putih, yang dalam waktu singkat menjadi sangat populer bahkan ke manca negara. "Potensinya besar, tapi harus dibangun dengan kerja sama banyak pihak." katanya. Saya tanya, "minat asing bagaimana pak?" Beliau bilang, "Kita sedang fokus untuk membangun kerja sama dengan swasta nasional. Minat asing memang banyak, tapi kita tidak ingin seperti Bali yang sekarang 70% sudah dikuasai asing". Acung jempol buat Pak Teguh. Saya sepakat. Kita harus yakin dengan diri kita sendiri...
Menyambung tulisan di atas, bangsa yang besar dibangun dari individu yang berkualitas. Bukan dari sistem ekonomi atau banyaknya industri yang dimiliki, bukan juga dari angka2 penghasilan perkapita, atau angka-angka statistik yang bisa dimainkan dan dimanipulasi. Individu yang berkualitas dan berkarakter dan cinta bangsanya hanya bisa dibangun lewat pendidikan, di sekolah dan di keluarga. Sekali lagi, kalau kita mau, kita bisa membangun sesuatu yang luar biasa seperti dulu kita punya kerajaan Majapahit, seperti candi Borobudur... sesuatu yang seperti Tembok Besar Cina... Karena sebetulnya, kita mampu.
Saturday, November 5, 2011
Memandang Situasi (Permasalahan) Pendidikan di Indonesia
Pendidikan: satu kata ini punya bobot dan kompleksitas luar biasa tertanam di dalamnya. Sangat sulit apabila kita mencoba menguraikan atau mendefinisikan apa yang direpresentasikan oleh satu kata ini. Sama halnya seperti saat kita bicara tentang manusia. Kompleks, luar biasa kompleks. Kata ‘pendidikan’ di dalam benak saya mencakup di dalamnya kata-kata besar lainnya seperti : masa depan, manusia, proses, holistik, budaya dan masih banyak lainnya. Pendidikan sama sekali bukan satu hal yang sederhana, mudah diolah dan bisa dengan sekejap dipahami. Dengan demikian, apabila pengelolaan pendidikan tidak dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati secara tepat dan sesuai dengan kompleksitasnya, semestinya pendidikan juga berpotensi memunculkan banyak masalah. Walaupun dari sisi sebaliknya, pendidikan berpotensi menyelesaikan berbagai masalah kalau pertama-tama ia bisa dipandang secara tepat dan menyeluruh (holistik). Cara pandang, paradigma atau mind-set menjadi pijakan yang menentukan bagaimana kemudian kita bisa mengambil sikap dan tindakan (action) dalam konteks mengelola pendidikan.
Sejauh pengamatan selama ini, di republik ini tampaknya hampir segala permasalahan
didekati dan dipandang dengan sudut pandang yang simplistik dan
parsial. Hal ini sepertinya terjadi di semua level, dari pembuat keputusan dan
penentu kebijakan (level birokrasi), lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan,
masyarakat, guru, orangtua murid. Masing-masing tampaknya punya kesulitan untuk
memandang persoalan pendidikan secara tepat.
Contoh sederhana – situasi yang sejak dulu kita alami –
adalah bagaimana pemerintah memberlakukan Kurikulum Nasional, di mana segala
sesuatunya distandarisasikan. Mulai dari materi – kurikulum, buku pegangan,
tema, panduan pembelajaran, segala sesuatu ditentukan pemerintah – dengan sudut
pandang meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini dilakukan tanpa meninjau
lebih dalam substansi dan implikasi dari apa yang ditetapkan. Secara sepintas
standarisasi merupakan solusi yang tepat untuk membangun pendidikan yang
berkualitas. Tapi implikasinya luar biasa besar, karena di dalam pendidikan, banyak
permasalahan yang perlu ditelaah sesuai konteksnya, banyak hal yang sifatnya
kualitatif, dan tidak bisa dengan mudah distandarisasi. Contohnya, saat
keberhasilan pendidikan hanya dipahami sebagai jumlah peserta didik yang lulus
sekolah formal, memegang ijazah atau melek huruf - sesederhana itu - maka akan
banyak hal penting bahkan esensial yang kemudian hilang dan terabaikan.
Bahayanya, kita semua merasa proses pendidikan sudah berhasil dijalankan dan
hasilnya seakan berkualitas, tapi karena substansi pendidikan yang sesungguhnya
tidak tersentuh tentunya dengan segera bisa disimpulkan bahwa upaya pendidikan
yang dijalankan adalah gagal.
Seragam nasional - salah satu contoh favorit saya - adalah salah
satu contoh pendekatan simplistik. Kebijakan ini diterapkan pemerintah untuk
‘menghilangkan persepsi perbedaan’ di kalangan siswa. Tujuannya adalah supaya
semua pelajar – di manapun juga – tampil serba sama. Walaupun kita tahu bahwa
hakekatnya, perbedaan itu tetap ada dan sangat perlu dipertanyakan apakah
perbedaan itu perlu dihilangkan? Apakah kecerdasan para siswa bisa dikelabui
dengan cara ini, tentunya tidak. Secara substansial, kalau bicara pendidikan,
semestinya yang dilakukan para pendidik adalah mengajak peserta didiknya untuk
menerima dan menghargai perbedaan. Bagi mereka yang lebih mampu, kepekaan
sosial dan empati adalah hal yang perlu ditumbuhkan. Sebaliknya bagi para murid
yang secara ekonomi memang terbatas atau tinggal di pelosok, tantangan
pendidikan bagi para guru adalah bagaimana membangun percaya diri dan keyakinan
bahwa dengan belajar dan berusaha mereka bisa maju dan menjadi cerdas dalam
konteks kehidupannya di desa.
Bagai satu kepingan dari satu gambar besar kehidupan bangsa
dan bernegara, masyarakat pedesaan juga punya posisi dan kepentingan
eksistensinya tersendiri – seperti halnya masyarakat yang hidup di perkotaan. Anak-anak
yang tinggal di tepi rimba harus belajar dan menyadari adalah menjadi tugasnya
untuk menjaga kelestarian rimbanya. Apakah setiap anak Indonesia harus paham
bagaimana mengerjakan soal2 kalkulus, tentunya tidak. Sebaliknya kita butuh
anak-anak Indonesia yang betul-betul memahami bagaimana seluk beluk rimba di
tempatnya tinggal, bagaimana keragaman hayatinya, dan bagaimana menjaga
kelestariannya agar membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan banyak
orang. Bahwa anak-anak tersebut tidak bisa berbahasa Inggris atau
mengoperasikan komputer, tentunya itu tidak membuat mereka menjadi lebih bodoh
dan tidak bernilai.
Masalah dan kebutuhan pendidikan bagi anak jalanan, bagi
anak di kota besar, bagi anak2 rimba ataupun yang hidup di gunung – dan
sebaliknya di pesisir, tentu berbeda. Berbeda karena kebutuhan dan situasi
kehidupan mereka berbeda. Kita tentu sepakat bahwa pendidikan adalah hak untuk
semua, tapi apakah sasaran dan tujuan pendidikan harus disamakan untuk semua?
Tentunya tidak. Tujuan pendidikan, kalau bisa didefinisikan sederhana sebagai
upaya meningkatkan kemampuan individu mengolah kehidupannya menjadi lebih baik,
tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan para peserta
didiknya. Bisa dibilang, upaya pendidikan dimanapun harus dimulai dari sudut pandang
dan pijakan yang sangat lokal. Bagi anak jalanan, kehidupan jalanan tentu
adalah pijakan dasarnya – konteksnya. Bagi anak di desa, kehidupan di desa adalah
situasi kehidupan nyatanya dan ini mutlak menjadi konteks pembelajarannya agar
proses belajar anak2 berakar dan punya makna. (Dalam prosesnya, di satu titik
tertentu bagi peserta didik tertentu, konteks pembelajaran bisa dan perlu berkembang
menjadi lebih luas, bisa menjadi nasional, bahkan global.)
Sejauh apa yang saya pahami lewat diskusi dengan teman2,
berkunjung ke beberapa sekolah maupun komunitas / kelompok non formal, dari
mengalami, mengamati dan berusaha memahami seujung kecil dari samudera
pendidikan, saya yakin persoalan pendidikan tidak mungkin diatasi dengan
pendekatan atau cara pikir simplistik. Tidak ada cara mudah atau sederhana di
dalam pendidikan. Kenapa demikian, jawabannya mudah. Karena manusia secara
individual adalah entitas ciptaan Tuhan yang maha kompleks. Tempatkan manusia
di dalam konteks sosial dan ekologinya, di dalam masyarakat dan lingkungan
tempat tinggalnya, kompleksitasnya dengan sendirinya menjadi berlipat-lipat. Sistem
pendidikan yang dibangun – dalam skala nasional, tentunya menjadi sangat
kompleks.
Dalam skala lokal, sebetulnya bisa sangat sederhana. Saya kira penyelenggaraan
pendidikan justru akan lebih berhasil apabila pemerintah berperan mengelola
segala kerenikan lokalitas masyarakat kita dalam satu sistem pendidikan yang
sifatnya memberdayakan lokalitas setiap daerah. Belum lama ini, Departemen
Pendidikan Nasional kembali berubah nama menjadi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Kebudayaan daerah yang begitu kaya dan beragam adalah sumber luar
biasa bagi proses pendidikan masyarakatnya. Konsep-konsep otonomi pendidikan
bisa sangat nyata diwujudkan di sini.
Buat kita, penting untuk kita sadari bahwa kita semua adalah
output / keluaran dari proses pendidikan simplistik yang selama ini kita
terima. Masyarakat kita adalah masyarakat yang pola berpikirnya simplistik, dan
oleh karenanya tidak pernah pikir panjang – dan sulit berpikir komprehensif –
sebagai hasil pola pendidikan yang dulu kita terima. Ke-instan-an sebagai salah
satu dampaknya adalah suatu pola yang jadi biasa. Ingin serba cepat dan tidak
sabar berproses. Kemudian soal dampaknya, bagaimana nanti… Hal itu yang terus terjadi.
Dikombinasikan dengan budaya yang serba mementingkan kemasan dan penampilan,
lengkaplah sudah kelemahan mendasar masyarakat kita. Saat pola pikir ini juga
dibawa dalam pola-pola membangun sistem pendidikan bagi bangsa ini, kita akan terus
terperangkap dalam situasi yang serba sama, terjebak dalam pusaran permasalahan
bangsa yang itu-itu juga. Saya kira kesadaran ini penting dibawa oleh siapapun
yang mengelola pendidikan dalam berbagai skala dan tingkatan, dari mulai
pemerintah sampai keluarga. Dari kesadaran itulah kita punya harapan untuk bisa
keluar dari pola pikir simplistik yang terus menjebak bangsa kita dan menghambat kita semua untuk maju.
Saturday, October 15, 2011
signifikansi proses berkarya di dalam pendidikan
Posting ini saya adaptasi dari sebuah posting di blognya semipalar, bagian dari rangkaian [serial kenapa] - tulisan-tulisan pendek untuk mencoba menjelaskan hal-hal yang kami munculkan sebagai program pembelajaran di Rumah Belajar Semi Palar.
Mungkin salah satu yang membedakan RBSP dengan sekolah-sekolah lain adalah upaya kami untuk memunculkan kegiatan berkarya secara intensif di kelas. Dan ini kami coba terus dorong pemunculannya sejak anak masuk di jenjang PG hingga sekarang di kelas 6. Bukan hal yang mudah, karena ada tarik-menarik kepentingan dan bagaimana mengalokasikan waktu untuk berkarya - dengan tingkat pengolahan yang lebih tinggi - dengan materi pembelajaran (kurikulum akademis) yang juga semakin kompleks memasuki jenjang SD Besar.
Berkarya, akan terus menjadi bagian penting dari konsep pembelajaran di Semi Palar. Untuk menemukan dirinya, anak-anak harus punya peluang untuk terus memunculkan diri dan kemudian merefleksikan dirinya. Memunculkan diri bukan sekedar untuk menjawab pertanyaan orang lain (guru) tapi mengungkapkan diri setelah mengalami proses pembelajaran yang dilaluinya.
Berkarya, berkreasi, mencipta adalah salah satu sifat
dasar manusia (selain bahwa manusia adalah mahluk sosial, mahluk bermain
- Homo Ludens, dll.) Kalau ingat ungkapan 'there's nothing new under the sun',
segala sesuatu di muka bumi ini tidak ada hal baru, yang ada adalah
benda-benda lama yang diolah dan dimunculkan dalam bentuk-bentuk baru.
Singkat kata, segala hal yang sekarang ada di sekitar kita adalah olahan
kreativitas semata. Melalui salah satu paparannya, mas Wendo (Arswendo Atmowiloto) dalam sebuah forum di bulan Juli yang lalu, beliau menggaris-bawahi pentingnya hal ini. Beliau juga bilang :"Dunia itu isinya hanya Kreativitas semata". Juga bahwa untuk menghadapi masa depan, anak-anak perlu mampu membaca perubahan, mengantisipasi perubahan dan meresponnya melalui ekspresi individu yang genuine.
Sangat menggembirakan untuk menyaksikan teman-teman Semi Palar di kelompok Bima (SD-5) berhasil meluncurkan buku novel karya mereka : 'Hari yang Aneh'. Mudah-mudahan ini membuktikan bahwa berkarya bukan sesuatu yang sulit buat mereka. Harapannya mereka terus menelorkan karya-karya baru di dalam proses belajar mereka selanjutnya.
Sistem Pendidikan di Indonesia, hampir-hampir tidak memperhatikan hal ini. Anak-anak dibombardir dengan materi2 yang sudah jadi, sudah final, sudah terdefinisi, terangkum dalam buku2 paket pelajaran. Dunia dan alam semesta yang begitu luas dan penuh keajaiban dimampatkan ke dalam teks-teks buku pelajaran dan di dalam ruang kelas, anak-anak diharuskan menelannya, dan mengeluarkannya kembali melalui berbagai bentuk ulangan dan test-test tertulis.
Lalu bagaimana hubungannya dengan berkarya? Berkarya adalah persoalan ekspresi diri, memunculkan apa yang kita ketahui, kita pikirkan, kita rasakan, kita imajinasikan. Proses berkarya hanya bisa berjalan optimal saat berkarya menjadi bagian dari pengalaman. Sebaliknya test dan ulangan adalah bentuk ujian; menguji apakah anak tahu ini atau tahu itu, melalui bentuk-bentuk pertanyaan dan soal. Berlawanan dari berkarya, ulangan dan test arahnya dari luar, dari para guru kepada para murid. Menguji sejauh mana anak-anak ingat pengetahuan yang sudah ditanamkan. Pengalaman tentunya merupakan hal yang sangat berbeda dari pengetahuan.
Berkarya adalah juga karakter dasar untuk membangun jiwa wiraswasta. Para entrepreneur mutlak memiliki kemampuan berimajinasi, berinovasi dan berkreasi. Menciptakan pekerjaan daripada mencari pekerjaan. Menciptakan produk daripada sekedar memproduksinya... Contoh paling dekat mengenai hal ini adalah tokoh luar biasa yang baru saja meninggalkan kita, Steve Jobs.
Sistem Pendidikan kita tidak menuju ke sana. Perhatikan spanduk-spanduk institusi pendidikan kita yang sangat gandrung berslogan 'Lulus Kuliah Siap Kerja'. Bagaimana kita memunculkan SJ-SJ lain, satu-satunya cara adalah dengan membiasakan anak-anak berkarya dan berkreasi... berkarya dan berkreasi... sampai berkarya menjadi bagian dari diri mereka...
Mungkin salah satu yang membedakan RBSP dengan sekolah-sekolah lain adalah upaya kami untuk memunculkan kegiatan berkarya secara intensif di kelas. Dan ini kami coba terus dorong pemunculannya sejak anak masuk di jenjang PG hingga sekarang di kelas 6. Bukan hal yang mudah, karena ada tarik-menarik kepentingan dan bagaimana mengalokasikan waktu untuk berkarya - dengan tingkat pengolahan yang lebih tinggi - dengan materi pembelajaran (kurikulum akademis) yang juga semakin kompleks memasuki jenjang SD Besar.
Berkarya, akan terus menjadi bagian penting dari konsep pembelajaran di Semi Palar. Untuk menemukan dirinya, anak-anak harus punya peluang untuk terus memunculkan diri dan kemudian merefleksikan dirinya. Memunculkan diri bukan sekedar untuk menjawab pertanyaan orang lain (guru) tapi mengungkapkan diri setelah mengalami proses pembelajaran yang dilaluinya.
![]() |
| Gedung Indonesia Menggugat | 8 Juli 2011 |
Sangat menggembirakan untuk menyaksikan teman-teman Semi Palar di kelompok Bima (SD-5) berhasil meluncurkan buku novel karya mereka : 'Hari yang Aneh'. Mudah-mudahan ini membuktikan bahwa berkarya bukan sesuatu yang sulit buat mereka. Harapannya mereka terus menelorkan karya-karya baru di dalam proses belajar mereka selanjutnya.
Sistem Pendidikan di Indonesia, hampir-hampir tidak memperhatikan hal ini. Anak-anak dibombardir dengan materi2 yang sudah jadi, sudah final, sudah terdefinisi, terangkum dalam buku2 paket pelajaran. Dunia dan alam semesta yang begitu luas dan penuh keajaiban dimampatkan ke dalam teks-teks buku pelajaran dan di dalam ruang kelas, anak-anak diharuskan menelannya, dan mengeluarkannya kembali melalui berbagai bentuk ulangan dan test-test tertulis.
Lalu bagaimana hubungannya dengan berkarya? Berkarya adalah persoalan ekspresi diri, memunculkan apa yang kita ketahui, kita pikirkan, kita rasakan, kita imajinasikan. Proses berkarya hanya bisa berjalan optimal saat berkarya menjadi bagian dari pengalaman. Sebaliknya test dan ulangan adalah bentuk ujian; menguji apakah anak tahu ini atau tahu itu, melalui bentuk-bentuk pertanyaan dan soal. Berlawanan dari berkarya, ulangan dan test arahnya dari luar, dari para guru kepada para murid. Menguji sejauh mana anak-anak ingat pengetahuan yang sudah ditanamkan. Pengalaman tentunya merupakan hal yang sangat berbeda dari pengetahuan.
Berkarya adalah juga karakter dasar untuk membangun jiwa wiraswasta. Para entrepreneur mutlak memiliki kemampuan berimajinasi, berinovasi dan berkreasi. Menciptakan pekerjaan daripada mencari pekerjaan. Menciptakan produk daripada sekedar memproduksinya... Contoh paling dekat mengenai hal ini adalah tokoh luar biasa yang baru saja meninggalkan kita, Steve Jobs.
Sistem Pendidikan kita tidak menuju ke sana. Perhatikan spanduk-spanduk institusi pendidikan kita yang sangat gandrung berslogan 'Lulus Kuliah Siap Kerja'. Bagaimana kita memunculkan SJ-SJ lain, satu-satunya cara adalah dengan membiasakan anak-anak berkarya dan berkreasi... berkarya dan berkreasi... sampai berkarya menjadi bagian dari diri mereka...
Monday, October 10, 2011
remembering Steve Jobs
There are few people whose lives are really inspiring. Steve Jobs is one of them. He is one man who really make a difference to how we really live in todays world. There are few whose lives are not touched by what he has done in his short life. He is truly remarkable. A man of vision, creativity and action. A man who have faith in his very own life and his action. A man who has really made a difference.
Below is my favority quote from SJ...
Your time is limited, don’t waste it living someone else’s life. Don’t be
trapped by dogma, which is living the result of other people’s thinking.
Don’t let the noise of other’s opinion drown your own inner voice.
And most important, have the courage to follow your heart and intuition,
they somehow already know what you truly want to become.
Your time is limited, don’t waste it living someone else’s life. Don’t be
trapped by dogma, which is living the result of other people’s thinking.
Don’t let the noise of other’s opinion drown your own inner voice.
And most important, have the courage to follow your heart and intuition,
they somehow already know what you truly want to become.
Everything else is secondary.
~ Steve Jobs ~
Saturday, October 8, 2011
farewell my cousin
He's on another path now, on a different journey. It's sad that we will not see each other again, physically...
The news came in just this morning. It was very shocking, and it just touched you really deep inside. As cousins, we are quite close. We spent a lot of our childhood holidays together. We are at the same age group - more or less. And it is quite hard to understand how he passes away already while we seem to be at the best days of our lives... looking ahead to the future.
I tried to imagine his last moments. And then a sudden realization came to me, that death is not an end, it is also a beginning. I am sure that it was a beautiful moment for him, when he stepped up and move away from this worldly realms...
I have no doubt that we all are going to miss him. Especially his parents, his wife and his two daughters. Life is not ours. It is God's, and He will take it back anytime He see fits. It is a precious and wonderful gift, still... As life is a gift like no others. Our lives is not our own, as our lives affect others around us. So if we managed to live a good life then we honor God our Creator. As it is not ours, then we must be prepared to give it back, and be thankful.
He will live forever in our memories, as I am sure people who know him throughout all his life will fondly remember him by. Farewell Ky... Do keep us safe from up there.
in loving memory of Hengky Wibowo, our beloved cousin.
The news came in just this morning. It was very shocking, and it just touched you really deep inside. As cousins, we are quite close. We spent a lot of our childhood holidays together. We are at the same age group - more or less. And it is quite hard to understand how he passes away already while we seem to be at the best days of our lives... looking ahead to the future.
I tried to imagine his last moments. And then a sudden realization came to me, that death is not an end, it is also a beginning. I am sure that it was a beautiful moment for him, when he stepped up and move away from this worldly realms...
I have no doubt that we all are going to miss him. Especially his parents, his wife and his two daughters. Life is not ours. It is God's, and He will take it back anytime He see fits. It is a precious and wonderful gift, still... As life is a gift like no others. Our lives is not our own, as our lives affect others around us. So if we managed to live a good life then we honor God our Creator. As it is not ours, then we must be prepared to give it back, and be thankful.
He will live forever in our memories, as I am sure people who know him throughout all his life will fondly remember him by. Farewell Ky... Do keep us safe from up there.
in loving memory of Hengky Wibowo, our beloved cousin.
Wednesday, October 5, 2011
Teacher's Prayer
I want to teach my students
how to live this life on earth.
how to live this life on earth.
To face its struggles and its strife
and to improve their worth
Not just the lesson in a book
or how the river flow.
But to choose the proper path
wherever they may go.
To understand eternal truth
and know the right from wrong
and gather all the beauty
of a flower and a song.
For if I help the world to grow
In wisdom and in grace
Then I shall feel that I have won
and I have filled my place.
And so I ask your guidance, God.
That I may do my part for character and confidence
and happiness of heart.
author unknown, found this on a bookmark
author unknown, found this on a bookmark
Subscribe to:
Posts (Atom)


