Friday, March 29, 2013

Create and Live

Saya percaya manusia, setiap yang manusia dianugerahi hidup, dikaruniai kehidupan oleh Sang Kuasa membawa bersamanya maksud-tujuan-pemaknaan Ilahiah tertentu.

Kehidupan sebagai buah kreasi Ilahi, adalah sebuah rangkaian keajaiban yang tidak ada habisnya. Kita mulai dari proses tumbuh kembang janin di dalam rahim seorang ibu, yang kemudian lahir sebagai bayi dan selanjutnya berkembang menjadi manusia dewasa. Proses kelahiran dipicu oleh munculnya hormon dalam tubuh ibu dan sang janin, saling menandai saat mana sang Ibu dan sang janin - keduanya sudah siap masuk ke dalam proses persalinan. Proses yang menghantar sang janin lahir ke dunia. Perjuangan si kecil menerobos jalan lahir dari rahim sang ibu lahir ke dunia fana ini juga tidak kalah menakjubkan - karena ternyata di sinilah proses kehidupan manusia kecil ini dimulai, perjuangan di jalan lahir inilah yang akan menyiapkan sang bayi menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan di kehidupannya kelak. Sebelum proses kelahiran ini, selama 9 bulan terjadi sebuah proses luar biasa bagaimana sang janin berkembang dari satu sel menjadi manusia kecil yang serba kompleks - dengan segala fungsi jasmaniah yang membalut raganya, dengan kecerdasan otaknya yang mampu memahami semesta, dengan ragam perangai yang tak terhitung jumlahnya, dengan kesadaran-kesadaran dirinya yang tak mungkin terdefinisikan...

Rangkaian keajaiban tadi dimulai saat bertemunya satu dari jutaan sel sperma dengan sel telur, setelah melalui proses yang tidak kalah luar biasanya, setelah bertemunya dua orang dari sekian banyak individu di muka bumi ini - yang dalam balutan cinta kasih kemudian saling meyakini bahwa dialah pasangan hidupku.

Lalu untuk apakah kehidupanku saat aku sudah bisa berdiri, berpikir, bersikap dan bertindak...

Orang jawa bilang 'urip mung mampir ngombe'... mungkin ada benarnya, tapi ungkapan ini juga ada yang kurang, karena lalu apa maknanya segala proses keajaiban yang kita lalui hanya kita jalani tanpa membuat perubahan di muka bumi ini?

Create and Live. Kata-kata yang saya pilih untuk menamai blog saya ini adalah keyakinan saya bahwa seperti halnya hidup adalah kreasi ilahi, sebaliknya hidup kita harus juga menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu, saya yakini adalah kebaikan-kebaikan - apapun wujudnya. Sepanjang kita diberi nafas, kita harus berikhtiar untuk menciptakan kebaikan-kebaikan, bukan untuk diri kita semata, tapi juga untuk semesta, untuk lingkaran di luar diri kita. We all have to leave some legacy. Kita harus meninggalkan sesuatu yang baik untuk generasi mendatang. Sehingga generasi demi generasi, setiap individu yang hadir - dilahirkan di muka bumi ini bisa meyakini bahwa hidup, kehidupan adalah memang buah keajaiban yang dihadirkan Sang Kuasa...

Saat kita berkreasi, mencipta, saat itulah kita hidup... saat itulah hidup kita menjadi bermakna...

Fast Food Junk


Belum lama ini kami sekeluarga memutuskan mampir ke sebuah rumah makan fast food untuk makan pagi bersama. Kalau diingat sudah lama sekali mungkin sudah tahunan tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Fast food memang bukan kegemaran kami. Kalau tidak karena terpaksa fast food sedapat mungkin kami hindari.

Pagi ini, dimotivasi oleh keisengan semata, kamipun mampir ke sana.

Setelah sarapan sekedarnya, dengan segala perasaan kebingungan, kami mencoba menginventaris sampah yang dihasilkan dari acara santap pagi barusan. Betapa banyak sampah yang dihasilkan hanya untuk menyajikan sarapan yang sekedarnya - yang disantap hanya dalam hitungan menit dan nutrisinya mungkin hanya menguatkan kita sampai siang hari belaka. Sungguh tidak masuk akal.

Foto di bawah ini menggambarkan sampah yang dihasilkan dari satu set pesanan makanan pagi di sebuah restoran siap saji.

Apakah kita akan kembali lagi ke sini? Tentu tidak. Sama sekali tidak. Posting ini hanya untuk mengingatkan bagaimana kenyamanan - kepraktisan hanya akan menimbulkan keburukan pada lingkungan hidup kita. Semoga kita semua belajar untuk lebih peduli dengan mengambil keputusan-keputusan yang berdampak sesedikit mungkin terhadap lingkungan hidup kita. Semoga...

Sunday, March 10, 2013

Aku dan membaca

pengantar : 
Posting ini saya ambil dari tulisan yang saya sharingkan setelah kesepakatan bersama para kakak di Smipa untuk saling membagikan pengalaman membaca setelah kami mendiskusikan bersama betapa pentingnya membaca dalam proses pembelajaran - sebagai sebuah materi di hari Rabu Belajar - Rumah Belajar Semi Palar. Sejalan dengan ini, di sekolah Semi Palar kami mencoba sebuah gerakan bersama membudayakan membaca yang diberi judul kegiatan Jaba Waskita.
 

Sekolah itu Candu | #resensibuku | #kakAndy

Sekolah itu Candu adalah buku pertama tentang pendidikan yang saya baca di sekitar tahun 1999-2000an. Buku ini saya dapatkan dari Toko Buku Kecil - yang dirintis teman saya Tarlen - yang bertempat di salah satu ruangan di komunitas Trimatra Center. Saya mengambil contoh buku ini karena buku inilah yang menurut saya sangat transformatif - mengubah - bukan sekedar cara berpikir saya - tapi juga jalan hidup saya sampai hari ini. Bisa dibilang Semi Palar ada hari ini karena buku inilah yang saya ambil dari rak buku Tobucil dan saya pilih untuk saya jadikan bacaan saya saat itu.

Mengenai isinya, seperti apa yang tertulis sebagai judul, buku ini memang sangat kritis dan (mestinya) memprovokasi pola berpikir pembacanya. Paling tidak buku ini telah memprovokasi pemikiran saya dan dalam proses selanjutnya telah mendorong berdirinya sebuah sekolah yang bernama Semi Palar.

Banyak buku yang merubah cara saya berpikir dan memandang banyak hal. Itulah sebabnya saya menjadi suka membaca buku. Sewaktu saya sekolah dulu, buku sifatnya rekreatif - karena buku membawa imajinasi saya berpetualang ke mana-mana. Buku-buku karya Karl May dengan tokoh legendarisnya Winnetou dan Old Shaterhand adalah buku-buku yang sangat membawa kesan bagi saya.
Mengenai pembelajaran, saya suka bukunya Andrias Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar. Di sisi spiritualitas, pertama saya baca bukunya James Redfield yang berjudul The Celestine Prophecy. Satu hal dari buku ini yang sekarang saya jadikan 'mantra' saya adalah :'Everything happens for a reason' atau 'tidak ada peristiwa yang sifatnya kebetulan', semua punya maksud, semua punya makna...
Setelah itu saya juga sangat terinspirasi buku2 Eckhart Tolle yang berjudul 'The Power of Now', kemudian seperti juga kak Taufan, novelnya Paulo Coelho 'The Alchemist' sangat berkesan bagi saya. Satu lagi juga buku yang buat saya 'powerful' adalah 'Conversation With God' karangan Neale Donald Walsch.

Demikian sharing saya untuk teman2 semua tentang membaca bagi diri saya. Semoga bermanfaat. O iya, kalau ada buku2 yang ingin dipinjam - dengan senang hati. Salam.

Kalau ingin tahu lebih jauh, judul2 buku lain yang saya baca saya simpan link-nya di sini:
Springpad dan Goodreads

Friday, December 14, 2012

menjadi individu...

Dalam prosesnya menjadi dewasa, anak-anak ibarat sedang menyusun sebuah puzzle besar yang tidak kita ketahui apa gambarnya dan seberapa besar ukurannya. Dalam setiap pengalaman kehidupannya (di sekolah, di rumah, di manapun) ia menemukan keping demi keping pengetahuan, kesadaran, penghayatan dan menyusunnya menjadi bagian dirinya. Saat pengalamannya lengkap, utuh dan seimbang, menggambarkan diri dan kehidupannya, ia akan menjadi individu yang utuh, dewasa, lengkap. Ia akan menjadi individu yang mengenal segala keunikan dirinya di tengah sesama, alam lingkungan, di hadapan Penciptanya.

Sunday, November 18, 2012

Don't Hate what You Don't Understand



from The Lessons of Life by Louise Smith
Membenci apa yang tidak kita pahami... Jangan-jangan ini adalah sesuatu yang sering kita lakukan - sadar ataupun tidak. Pemikiran tadi muncul saat suatu waktu gambar di atas ini saya lihat di salah satu posting status facebook dari The Lessons of Life. (Salah satu laman facebook yang kerap saya kunjungi secara khusus karena isinya selalu inspiratif.). Mungkin istilah lainnya menghakimi, atau men-judge - memberikan penilaian atau menarik kesimpulan terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak kita pahami. 

Pengalaman saya di Semi Palar begini, ceritanya berkisar di seputar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sejak awal saya mendengar soal KKM sebagai acuan ketuntasan bagi salah satu sasaran pembelajaran murid di kelas, saya spontan menilai KKM itu ga bener. Ga masuk akal. Dan memang penilaian saya itu menjadi penghalang besar bagi saya untuk mencoba memahami apa sebetulnya yang disebut KKM itu. Dengan ke'sok-tauan' saya, saya menyimpulkan KKM ini ciptaan baru Diknas yang 'mengada-ada'. Hal ini, tanpa disadari berlangsung cukup lama. 

Sampai beberapa waktu lalu sekolah kami Semi Palar berhadapan dengan akreditasi. Salah satu di antara banyak persiapannya adalah bagaimana kami harus menyiapkan berbagai dokumen untuk keperluan akreditasi tersebut. Dalam prosesnya, saya ternyata dipaksa untuk memahami apa itu namanya KKM dengan segala seluk beluknya. Walaupun semakin paham, bagi saya KKM itu tetap ga nyambung... Waktu berjalan dan di suatu kesempatan saya sempat melontarkan pertanyaan saya tentang KKM ini kepada rekan-rekan di grup FB Bale Edukasi, tempat berdiskusinya rekan-rekan pemerhati dan praktisi pendidikan. Salah satu yang merespon tentang KKM ini ternyata Prof Iwan Pranoto. Beliau menjelaskan dengan singkat dan gamblang bagaimana pendekatan Competence Based Curicullum yang sebenarnya. Dan dari situ sayapun semakin paham apa dan bagaimana KKM ini. 

Akreditasi kemudian dilewati, lengkap dengan pengarahan sore hari dari pak Mamad (asesor 1) secara khusus mengenai KKM kepada tim Semi Palar. Apakah nyambung? ternyata ya tidak juga, tapi saya bisa secara gamblang menjelaskannya kenapa. Apa bedanya dengan dulu, dulu saya sekedar tidak suka. Rasa tidak suka itu ternyata menghalangi saya untuk belajar dan memahami lebih lanjut. Lalu apa manfaatnya? Bagi saya proses memahami KKM ini justru mendorong saya untuk menggali lebih dalam mengenai Pembelajaran Holistik, yang selama ini saya dan tim di Smipa terus coba terapkan di Rumah Belajar Semi Palar. Di titik ini, kalau saya ditanya, saya dapat menjelaskan dengan lebih baik kenapa KKM itu tidak relevan dengan pembelajaran holistik di Semi Palar.

Mundur cukup jauh, saya juga punya pengalaman menarik dari sebuah forum di Rumah Nusantara, mungkin sekitar tahun 2004-an. Waktu itu rekan-rekan komunitas Rumah Nusantara mengundang pembicara-pembicara yang memang tidak biasa. Hadir di sore itu, Ilham Aidit dan Sarjono Kartosuwiryo. Dari nama-namanya, kita tahu mereka putra-putra dari orang-orang yang dikenal berseberangan dengan Republik pada jamannya dulu. Hadir pula waktu itu Arswendo Atmowiloto dan beberapa pembicara lain. Nama-nama mereka, Aidit dan Kartosuwiryo, tentunya dengan segera membangunkan persepsi tertentu pada benak kita - sebagaimana pada saat kita bersekolah pengetahuan-pengetahuan tentang mereka ditanamkan. Saya masih ingat betul bagaimana persepsi saya berubah seketika mendengar paparan rekan-rekan ini di forum tersebut. Terlebih pada saat Sarjono menekankan bahwa hari ini, tidak ada alasan apapun untuk mendirikan negara Islam - karena negara Indonesia sudah berdiri berlandaskan Pancasila dengan segala prinsipnya. Berbeda situasinya saat peristiwa sejarah gerakan DI/TII berhadapan dengan militer Indonesia. Menurut pemaparan Sarjono, ada hukum Islam yang menegaskan bahwa kalau ada sejumlah tertentu umat Islam yang berkumpul tanpa kepimpinan yang jelas - karena situasi kepemimpinan Indonesia saat itu memang sedang tidak jelas - maka harus didirikanlah sebuah Negara Islam. Hal ini ditujukan untuk melindungi rakyat dan menghindari terjadinya kekacauan. Begitu pemahaman yang saya tangkap dari pembicaraan di forum tersebut. Memang begitu mudah kita mengambil kesimpulan dari hal-hal yang ternyata tidak betul-betul kita pahami.

Melengkapi tulisan di atas, berikut satu tulisan menarik yang saya temukan pada sebuah situs : "Kartosuwiryo Dinilai Pahlawan Indonesia yang Telah Digembosi Sejarah".

Entah apa yang membuat kita sangat mudah menghakimi sesuatu, bahkan pada hal-hal yang seringkali dekat dengan kita. Apakah itu muncul dari kebutuhan kita untuk selalu merasa benar dan menjadikan kita berpegang pada pembenaran, ataukah muncul dari keengganan kita untuk melangkah mencari kebenaran? Rasanya hanya kesadaran kita yang bisa menemukan jawabannya. Mudah-mudahan lebih jauh lagi kesadaran ini bisa membantu kita untuk tidak mudah menilai sesuatu sebelum kita cukup memahami suatu hal, apapun itu...

Thursday, November 15, 2012

narasi hidup


Setiap peristiwa yang kita alami adalah narasi hidup kita. Kalau kita gagal membacanya dengan cermat, memaknainya dengan tepat, entah karena terburu-buru ataupun tergesa menyimpulkan sesuatu, kita akan gagal memahami kisah hidup kita dan menjalankan apa yang seharusnya kita perankan. 
Seperti didalam teks, tanda baca dan notasi, walaupun kecil mereka berperan besar menentukan makna sebuah kalimat. 
Hidup mengajak kita untuk peka dan menyadari setiap hal kecil yang membingkai makna setiap peristiwa.
 

Saturday, November 3, 2012

[Book Review] You are Not a Gadget

You are Not a GadgetYou are Not a Gadget by Jaron Lanier

My rating: 4 of 5 stars


Jaron Lanier (the writer) is someone who really understands the digital world. He is one of those who designs the digital world that we live in today. Yet he is one of the few (I presume) who really understand the significance and ramifications of those small things that were put in the design of the digital world. Especially in relation to us as human being. I read another book (quite a long time ago) titled The Skin of Culture. It was written by Derrick de Kerckhove. In my understanding Derrick simply stated that Design is the very skin of Culture. The design of things defines our culture, how we think, how we act, how we do things, how we interact. This statement, I believe defines the significance of things we design on our culture. We have to really understand how technology works as it may well defined who we are. I have not finished the book, but this is for me an important book.



View all my reviews

Friday, October 5, 2012

What is Progress? (refleksi pendek mengenai kemajuan)


Coba amati rangkaian gambar di bawah ini, bingkai gambar demi bingkai gambar. Amati, bukan sekedar melihat sekilas.

klik untuk gambar lebih besar
Kita pasti menemukan benda-benda yang bertambah (muncul) dari gambar ke gambar, dan sebaliknya - yang lebih penting, apa yang hilang. Mudah-mudahan anda menemukannya. Bayangkan proses yang terjadi di dalam setiap langkah perubahan tersebut. Bukan sekedar menemukan, anda juga bisa menyadari bahwa di dalam perubahan tersebut, banyak juga hal yang hilang... Ada pepohonan yang ditebang, ada binatang-binatang yang terusir, ada permukaan tanah yang akhirnya tertutupi bangunan atau aspal... dan seterusnya.
Lalu bagaimanakah kita mendefinisikan perubahan di dalam rangkaian gambar yang ada di atas tadi. Inikah kemajuan? Is it progress? Kemajuan bagi siapa? Apakah yang kita sebut sebagai kemajuan senantiasa membawa kebaikan? Apa yang paling mudah menjadi korban? Dari gambar di atas, alam-lah yang selalu jadi korban. Dari gambar pertama di mana segala sesuatu masih serba hijau, pepohonan, rerumputan, burung berterbangan. Di gambar terakhir, semua hilang - tergantikan dengan segala sesuatu yang serba sintetis - serba buatan. Segala yang serba hidup - ciptaan Tuhan, kita gantikan dengan benda-benda tak bernyawa ciptaan manusia.

Pertanyaannya, bagaimana manusia bisa merasa berhak menghilangkan semua itu? Siapakah yang memberi ijin? Belum lama ini, saya menjumpai sebuah teks pendek yang berbunyi...

 ~ remember, nature never give ownership to humans ~

Jadi siapa yang memberi ijin? Segala sesuatu yang selama ini manusia lakukan dan tidak hentinya kita lakukan ternyata sangat justru bertentangan dengan teks di atas tadi. Manusia seakan merasa memiliki alam, memiliki hak untuk tidak henti-hentinya mengeksploitasi alam. Manusia mengolahnya menjadi barang-barang konsumtif dan mengkonversinya jadi uang. Tanpa henti. Masalah timbul karena manusia sepertinya tidak pernah puas dan tidak tahu batas. Inilah sebabnya planet bumi ini mulai rusak, menjadi sakit. Dulu kalau kita ingat, masyarakat tradisi (yang kita sebut belum maju) selalu minta ijin kepada Sang Kuasa, saat akan melakukan sesuatu di dalam setiap kehidupannya. Mau menebang pohon, mereka berdoa dulu; mau gali sumur, mereka upacara dulu; mau bertanam, mereka minta ijin dulu; setelah panen, mereka sukuran dulu... Masyarakat tradisional sadar betul tempat dan posisi mereka di tengah alam semesta...

Mungkin semua tahu, kata-kata luar biasa dari Gandhi :

~ The Earth provides enough to satisfy every man's need,
but not every man's greed ~


Di sinilah letak masalahnya. Manusia modern (yang katanya sudah maju ini) tampaknya tidak tahu kapan harus berhenti. Semakin canggih teknologi dan maju kehidupannya, semakin manusia tidak pernah berpikir dan merenung. Alam yang dititipkan Tuhan kepada kita dianggap sebagai pemberian. Demikian besar ego manusia, ia merasa ada di puncak segalanya. Manusia lupa bahwa ia adalah bagian, adalah komponen yang sama dari dunia yang ditinggalinya. Bahwa saat seorang manusia merusak sebagian kecil dari alam, ia juga merusak bagian kecil kehidupannya sendiri.


Saya jadi ingat sewaktu berjumpa dengan Butet Manurung yang mendirikan Sokola Rimba bagi anak-anak di pedalaman berbagai daerah di Indonesia. Butet bercerita bagaimana anak-anak Rimba itu bingung karena melihat Butet memiliki begitu banyak pakaian. Mereka bertanya "Ibu, kenapa ibu punya baju banyak sekali? Kita kan hanya perlu dua. Satu kita pakai, satu lagi kita cuci..."

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan teman-teman dari kelompok Ulin - kelas 7 Semi Palar. Diskusi tentang sampah akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa manusia jaman dulu (yang disebut primitif) jauh lebih canggih dari kita karena tidak pernah membuang sampah. Berbeda dengan kita sekarang ini di mana hampir setiap tindakan kita (yang katanya modern) ini selalu menghasilkan sampah.

Sekarang manusia seakan tidak lagi berpikir. Perubahan peradaban manusia menggiring manusia ke titik di mana selama ada uang, walaupun kita tidak perlu kita akan beli. Setiap bulan beli baju... HP tidak cukup satu, kita beli dua, bahkan tiga. Mobil tidak cukup satu, kita beli lagi. Rumah tidak cukup satu, kalau perlu kita beli dua atau tiga... Untuk apa, mungkin untuk cari uang, untuk investasi katanya, untuk kemajuan kehidupan kita. Kita kerja semakin keras untuk kemajuan ekonomi - supaya punya uang. Buat apa uang, supaya kita bisa beli lagi dan beli lagi dan beli lagi... Berbeda ya dengan anak-anak Rimba Bukit Dua Belas tadi, mereka berpikir... buat apa ya punya banyak-banyak baju...

Kita lupa, semakin kita beli, beli dan beli, semakin hancurlah alam kita, karena segala sesuatu kita pasti ambil dari alam, dan segala sesuatu yang sudah tidak kita pakai kita buang lagi ke alam, menjadi sampah. Semua ini kita bungkus dengan satu kata : kemajuan. Progress.

Lalu kembali ke pertanyaan di atas tadi? Apakah itu kemajuan? What is progress? Tidakkah manusia lupa belajar satu hal penting: kapankah kita perlu berhenti. Kapan kita bisa mengatakan ini sudah cukup untuk kita. Supaya setiap manusia hidup dalam porsi yang secukupnya untuk kehidupannya. Tidak berlebihan. Rasanya dengan demikian apa yang diungkapkan Gandhi bisa menjadi masuk akal karena planet ini tidak akan bisa mencukupi kerakusan kita...

:: gambar diambil dari grup facebook : GASAN (Give a Shit about Nature)  dan Earth We Are One



Saturday, September 22, 2012

Bagaimana (semestinya) Kita Memandang Pengetahuan

Bicara pendidikan, hampir pasti kita bicara pengetahuan. Walaupun pendidikan (semestinya) tidak berhenti pada pengetahuan belaka. Pengetahuan, apabila ditilik secara holistik, akan menjadi sangat kompleks, luas dan dinamis. Keluasan dan kompleksitas yang melingkupi butir-butir pengetahuan tersebut, sebetulnya adalah bagian tak terpisahkan dari pengetahuan itu sendiri.


Mengumpulkan pengetahuan adalah salah satu titik awal proses belajar manusia yang serba kompleks dan multidimensional. Setelah sekian lama sekolah-sekolah melalui para guru berupaya mengajari siswanya berbagai pengetahuan yang (menurut kita para pendidik) dibutuhkan oleh para siswa bagi kehidupannya sewaktu dewasa, ada baiknya kita berhenti dan melihat kembali apa dan bagaimana sebetulnya butiran-butiran pengetahuan yang kita jadikan bahan belajar (materi) untuk anak-anak kita. Apakah yang sesungguhnya telah kita lakukan dalam memandang dan menggambarkan pengetahuan dalam proses pembelajaran anak-anak kita di sekolah? Apakah cara kita menyajikan pengetahuan memang membantu mereka dalam proses belajar, selain untuk mengetahui, juga memahami dan menghayatinya.


Linear Thinking
dari A ke B ke C...
Dalam ranah proses kognitif, ilustrasi di sebelah kiri menggambarkan apa yang disebut sebagai Linear Thinking. Ini adalah bagaimana konstelasi pengetahuan yang serba kompleks, penuh dinamika dan saling terkait diterjemahkan ke dalam satu rangkaian proses yang linier, satu arah, satu jalur, dari satu hal ke hal lain, dari satu bab menuju bab berikutnya. Singkatnya begitu banyak hal-hal yang dihilangkan dari kompleksitas dan dinamika situasi yang sesungguhnya. Disederhanakan, dihilangkan kerenikannya. Membuatnya lebih parah adalah bagaimana pengetahuan ini kemudian disampaikan di sekolah. Sekolah (saat ini) melalui guru-gurunya menyuguhkan rangkaian pengetahuan yang linier - satu dimensional - dilakukan dalam jam pelajaran dan bidang studi yang terpisah-pisah oleh guru mata pelajaran yang berbeda pula.


Dua atau Tiga dimensional?
mind-map (peta pikiran)
Lalu bagaimana cara yang tepat mengajak anak dan memandang pengetahuan? Apakah pengetahuan lebih tepat dipetakan secara dua dimensional - seperti peta pikiran (mind-map) di sebelah kiri ini? Pengetahuan digambarkan sebagai sebuah jaringan (web) dan kita bisa melihat bagaimana satu hal dapat dijabarkan lebih jauh ke cabang-cabang yang lebih kecil. Sebaliknya, hal yang menjadi pusat mind-map sebenarnya adalah bagian dari jaringan yang lebih besar lagi. Jadi, apakah pemetaan dua dimensional ini memadai, jangan-jangan juga tidak, karena kompleksitas realita adalah luar biasa - mungkin tak terbatas - dan sangat multi dimensional.

Kita coba bergerak lagi. Bagaimana kalau kita bayangkan lembaran mind-map tadi kita jadikan pembungkus sebuah bola, saya kira itu penggambaran pengetahuan yang lebih mendekati. Peta pengetahuan tidak lagi dua dimensional tapi menjadi tiga dimensional. Lebih lanjut, bola pengetahuan tersebut kita imajinasikan sebagai sebuah gelembung sabun (transparan / bening) dengan butiran pengetahuan yang saling berkaitan tergambarkan di atasnya, kita bisa melihat bahwa setiap butiran pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada hal lain yang terkait (koneksi) dan melingkupi / melatar-belakanginya (konteks) - dan selalu bergerak. Melalui analogi ini, kita seharusnya bisa memahami bagaimana kita tidak pernah bisa (boleh) mengisolasi materi pembelajaran apapun dari koneksi atau konteksnya. Kalau hal tersebut kita lakukan, butir pengetahuan tersebut akan kehilangan maknanya. Selanjutnya pada saat makna pengetahuan tersebut hilang, sang pembelajarpun akan menjadi sulit memahaminya.

peta pengetahuan tiga dimensional

Dimensi ke Empat dalam Analogi Gelembung Sabun.

Dalam upaya menyelami kompleksitas konstelasi pengetahuan, kita mungkin bisa juga menyadari bahwa ada satu dimensi lain yang kerap terabaikan (atau jangan-jangan sengaja diabaikan) saat kita menyajikan berbagai butiran pengetahuan ke alam pembelajaran anak-anak di sekolah. Dimensi ke empat - dimensi waktu. Dimensi waktu adalah salah satu dimensi terpenting yang sering dihilangkan. Inilah yang menjadikan bahan pelajaran seakan-akan bisa 'dibekukan'. Padahal dimensi waktu adalah satu hal yang senantiasa mengubah segala sesuatu di alam semesta ini. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah. Sebongkah batu di sudut suatu taman yang tidak pernah tersentuhpun tidak pernah sama kondisinya, detik ini dari detik yang lalu."Nothing stays the same"; segala sesuatu selalu berubah dan dengan demikian pengetahuan-pun senantiasa berubah.

Dalam ranah pendidikan, kepingan pengetahuan atau keterampilan yang dibutuhkan di satu waktu bisa jadi sangat tidak dibutuhkan oleh peserta didik di dalam konteks waktu (atau situasi) yang berbeda. Sebagai contoh, satu pesies yang di tahun lalu kita sebut sebagai binatang langka, jangan-jangan di hari ini spesies tersebut sudah punah. Inilah sebabnya kita tidak bisa lagi sekedar bersandar pada buku-buku paket untuk panduan pembelajaran anak-anak di kelas. Saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Materi pembelajaran di sekolah seharusnya dipandang sangat dinamis sifatnya, tidak mungkin distandarisasikan dan serba di sama ratakan. Lebih jauh lagi, yang semestinya dibangun pada anak-anak adalah kemampuan mereka untuk menggali dan mengolah pengetahuan sesuai kebutuhan kehidupannya - sekarang maupun kelak. Yang menjadi penting adalah bukan butir pengetahuannya semata - yang kita tahu pasti akan berubah dan hampir pasti tidak lagi relevan pada saat anak kita dewasa. Dari sudut pandang ini, kita bisa memahami kenapa pertanyaan-pertanyaan tertutup, pilihan ganda yang mengandalkan hafalan belaka hampir tidak ada manfaatnya bagi proses berpikir dan belajar anak-anak kita.


Kembali ke analogi gelembung sabun, saat melayang di udara, gelembung sabun senantiasa bergerak, ada yang saling menempel, berputar, ada yang kemudian pecah dan lain sebagainya. Seperti itulah kompleksitas dan dinamika pengetahuan yang terserak di semesta ini. Sementara semesta tidak berhenti menghembuskan gelembung-gelembung pengetahuan yang baru. Kita harus mampu mengajak anak-anak belajar memahami pengetahuan di dalam kompleksitas dan dinamikanya sekaligus agar mereka mampu menempatkan diri dan mengolah butiran pengetahuan tersebut menjadi bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

kompleksitas dan dinamika pengetahuan - analogi gelembung sabun



Koherensi Proses Pembelajaran dan Pemetaan Pengetahuan 
Apa yang saya coba uraikan di sini adalah pentingnya kita memahami karakteristik pengetahuan itu sendiri, sebelum kita mulai mengolah dan menyajikannya kepada para murid. Hal ini adalah salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran. Metode, pola atau pendekatan yang diambil sangat bergantung pada bagaimana kita memandang pengetahuan.


Kata kuncinya adalah KOHERENSI - yang mungkin dapat diterjemahkan sederhana sebagai kesejajaran. Apakah pengetahuan yang disusun dan disajikan di ke dalam ruang belajar anak-anak kita - di kelas - mampu merepresentasikan situasi nyata dari mana pengetahuan tersebut bersumber. Semakin kecil tingkat koherensinya, kita harus berani berpikir bahwa akan tingkat keberhasilan pembelajaran akan semakin sulit dicapai karena pengetahuan yang kita sajikan begitu berjarak terhadap apa yang sesungguhnya ada / terjadi. "Gak nyambung", begitu kira-kira. Pada saat pengetahuan gak nyambung di dalam ruang pemikiran anak-anak, tentunya pengetahuan betapapun pentingnya, menjadi tidak bermakna. Dalam bahasa gaul anak-anak kita sekarang istilahnya "GJ" (Gak Jelas) dan ujung-ujungnya pun mereka akan berujar: "EGP" (Emang Gua Pikirin?).

Kesimpulannya? Untuk menemukan maknanya di dalam pembelajaran, komponen pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari kompleksitasnya. Dalam pandangan pendidikan holistik, koneksi dan konteks-lah yang justru menjadi penting untuk membangun makna bagi setiap butiran pengetahuan yang ingin kita sajikan kepada anak-anak kita.

Saturday, August 25, 2012

Living Manifesto from Holstee

for those who love life, for those who love cycling, then this video from Holstee is a must see!