Tuesday, June 25, 2013

Morning sun

Well this is what I see when I opened up our tent...
The tune 'what a wonderful world' sprung to my mind... 

Bulan gemilang

Malam ini aku, Rico, Gio dan Obi tidur di dalam tenda di bawah sinar bulan yang gemilang. Langit luar biasa jernih dan bulan yang begitu terang menyirami kami dan segala di sekitar kita dengan cahayanya yang lembut. Di luar suara kodok dan jangkrik mengerik bersahutan melengkapi suasana malam yang tenang.

Begitu jarang kita berada dalam suasana seperti ini. Tenda masih terbuka, rumput basah dengan mudah kita sentuh dalam jangkauan jemari tanpa tubuh kita harus beranjak. Udara malam dihembuskan angin yang bertiup perlahan membelai wajahku.

Betapa nikmatnya, betapa indahnya momen-momen sepert ini di mana kita betul-betul merasa ada di dalam genggaman semesta.

Waktu menunjukkan 23.18. Cahaya lilin di luar tenda semakin temaram. Tubuhpun memanggil untuk beristirahat. Semoga istirahatku sempurna malam ini.

Suka Ampat, Lembang.

Friday, March 29, 2013

Create and Live

Saya percaya manusia, setiap yang manusia dianugerahi hidup, dikaruniai kehidupan oleh Sang Kuasa membawa bersamanya maksud-tujuan-pemaknaan Ilahiah tertentu.

Kehidupan sebagai buah kreasi Ilahi, adalah sebuah rangkaian keajaiban yang tidak ada habisnya. Kita mulai dari proses tumbuh kembang janin di dalam rahim seorang ibu, yang kemudian lahir sebagai bayi dan selanjutnya berkembang menjadi manusia dewasa. Proses kelahiran dipicu oleh munculnya hormon dalam tubuh ibu dan sang janin, saling menandai saat mana sang Ibu dan sang janin - keduanya sudah siap masuk ke dalam proses persalinan. Proses yang menghantar sang janin lahir ke dunia. Perjuangan si kecil menerobos jalan lahir dari rahim sang ibu lahir ke dunia fana ini juga tidak kalah menakjubkan - karena ternyata di sinilah proses kehidupan manusia kecil ini dimulai, perjuangan di jalan lahir inilah yang akan menyiapkan sang bayi menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan di kehidupannya kelak. Sebelum proses kelahiran ini, selama 9 bulan terjadi sebuah proses luar biasa bagaimana sang janin berkembang dari satu sel menjadi manusia kecil yang serba kompleks - dengan segala fungsi jasmaniah yang membalut raganya, dengan kecerdasan otaknya yang mampu memahami semesta, dengan ragam perangai yang tak terhitung jumlahnya, dengan kesadaran-kesadaran dirinya yang tak mungkin terdefinisikan...

Rangkaian keajaiban tadi dimulai saat bertemunya satu dari jutaan sel sperma dengan sel telur, setelah melalui proses yang tidak kalah luar biasanya, setelah bertemunya dua orang dari sekian banyak individu di muka bumi ini - yang dalam balutan cinta kasih kemudian saling meyakini bahwa dialah pasangan hidupku.

Lalu untuk apakah kehidupanku saat aku sudah bisa berdiri, berpikir, bersikap dan bertindak...

Orang jawa bilang 'urip mung mampir ngombe'... mungkin ada benarnya, tapi ungkapan ini juga ada yang kurang, karena lalu apa maknanya segala proses keajaiban yang kita lalui hanya kita jalani tanpa membuat perubahan di muka bumi ini?

Create and Live. Kata-kata yang saya pilih untuk menamai blog saya ini adalah keyakinan saya bahwa seperti halnya hidup adalah kreasi ilahi, sebaliknya hidup kita harus juga menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu, saya yakini adalah kebaikan-kebaikan - apapun wujudnya. Sepanjang kita diberi nafas, kita harus berikhtiar untuk menciptakan kebaikan-kebaikan, bukan untuk diri kita semata, tapi juga untuk semesta, untuk lingkaran di luar diri kita. We all have to leave some legacy. Kita harus meninggalkan sesuatu yang baik untuk generasi mendatang. Sehingga generasi demi generasi, setiap individu yang hadir - dilahirkan di muka bumi ini bisa meyakini bahwa hidup, kehidupan adalah memang buah keajaiban yang dihadirkan Sang Kuasa...

Saat kita berkreasi, mencipta, saat itulah kita hidup... saat itulah hidup kita menjadi bermakna...

Fast Food Junk


Belum lama ini kami sekeluarga memutuskan mampir ke sebuah rumah makan fast food untuk makan pagi bersama. Kalau diingat sudah lama sekali mungkin sudah tahunan tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Fast food memang bukan kegemaran kami. Kalau tidak karena terpaksa fast food sedapat mungkin kami hindari.

Pagi ini, dimotivasi oleh keisengan semata, kamipun mampir ke sana.

Setelah sarapan sekedarnya, dengan segala perasaan kebingungan, kami mencoba menginventaris sampah yang dihasilkan dari acara santap pagi barusan. Betapa banyak sampah yang dihasilkan hanya untuk menyajikan sarapan yang sekedarnya - yang disantap hanya dalam hitungan menit dan nutrisinya mungkin hanya menguatkan kita sampai siang hari belaka. Sungguh tidak masuk akal.

Foto di bawah ini menggambarkan sampah yang dihasilkan dari satu set pesanan makanan pagi di sebuah restoran siap saji.

Apakah kita akan kembali lagi ke sini? Tentu tidak. Sama sekali tidak. Posting ini hanya untuk mengingatkan bagaimana kenyamanan - kepraktisan hanya akan menimbulkan keburukan pada lingkungan hidup kita. Semoga kita semua belajar untuk lebih peduli dengan mengambil keputusan-keputusan yang berdampak sesedikit mungkin terhadap lingkungan hidup kita. Semoga...

Sunday, March 10, 2013

Aku dan membaca

pengantar : 
Posting ini saya ambil dari tulisan yang saya sharingkan setelah kesepakatan bersama para kakak di Smipa untuk saling membagikan pengalaman membaca setelah kami mendiskusikan bersama betapa pentingnya membaca dalam proses pembelajaran - sebagai sebuah materi di hari Rabu Belajar - Rumah Belajar Semi Palar. Sejalan dengan ini, di sekolah Semi Palar kami mencoba sebuah gerakan bersama membudayakan membaca yang diberi judul kegiatan Jaba Waskita.
 

Sekolah itu Candu | #resensibuku | #kakAndy

Sekolah itu Candu adalah buku pertama tentang pendidikan yang saya baca di sekitar tahun 1999-2000an. Buku ini saya dapatkan dari Toko Buku Kecil - yang dirintis teman saya Tarlen - yang bertempat di salah satu ruangan di komunitas Trimatra Center. Saya mengambil contoh buku ini karena buku inilah yang menurut saya sangat transformatif - mengubah - bukan sekedar cara berpikir saya - tapi juga jalan hidup saya sampai hari ini. Bisa dibilang Semi Palar ada hari ini karena buku inilah yang saya ambil dari rak buku Tobucil dan saya pilih untuk saya jadikan bacaan saya saat itu.

Mengenai isinya, seperti apa yang tertulis sebagai judul, buku ini memang sangat kritis dan (mestinya) memprovokasi pola berpikir pembacanya. Paling tidak buku ini telah memprovokasi pemikiran saya dan dalam proses selanjutnya telah mendorong berdirinya sebuah sekolah yang bernama Semi Palar.

Banyak buku yang merubah cara saya berpikir dan memandang banyak hal. Itulah sebabnya saya menjadi suka membaca buku. Sewaktu saya sekolah dulu, buku sifatnya rekreatif - karena buku membawa imajinasi saya berpetualang ke mana-mana. Buku-buku karya Karl May dengan tokoh legendarisnya Winnetou dan Old Shaterhand adalah buku-buku yang sangat membawa kesan bagi saya.
Mengenai pembelajaran, saya suka bukunya Andrias Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar. Di sisi spiritualitas, pertama saya baca bukunya James Redfield yang berjudul The Celestine Prophecy. Satu hal dari buku ini yang sekarang saya jadikan 'mantra' saya adalah :'Everything happens for a reason' atau 'tidak ada peristiwa yang sifatnya kebetulan', semua punya maksud, semua punya makna...
Setelah itu saya juga sangat terinspirasi buku2 Eckhart Tolle yang berjudul 'The Power of Now', kemudian seperti juga kak Taufan, novelnya Paulo Coelho 'The Alchemist' sangat berkesan bagi saya. Satu lagi juga buku yang buat saya 'powerful' adalah 'Conversation With God' karangan Neale Donald Walsch.

Demikian sharing saya untuk teman2 semua tentang membaca bagi diri saya. Semoga bermanfaat. O iya, kalau ada buku2 yang ingin dipinjam - dengan senang hati. Salam.

Kalau ingin tahu lebih jauh, judul2 buku lain yang saya baca saya simpan link-nya di sini:
Springpad dan Goodreads

Friday, December 14, 2012

menjadi individu...

Dalam prosesnya menjadi dewasa, anak-anak ibarat sedang menyusun sebuah puzzle besar yang tidak kita ketahui apa gambarnya dan seberapa besar ukurannya. Dalam setiap pengalaman kehidupannya (di sekolah, di rumah, di manapun) ia menemukan keping demi keping pengetahuan, kesadaran, penghayatan dan menyusunnya menjadi bagian dirinya. Saat pengalamannya lengkap, utuh dan seimbang, menggambarkan diri dan kehidupannya, ia akan menjadi individu yang utuh, dewasa, lengkap. Ia akan menjadi individu yang mengenal segala keunikan dirinya di tengah sesama, alam lingkungan, di hadapan Penciptanya.

Sunday, November 18, 2012

Don't Hate what You Don't Understand



from The Lessons of Life by Louise Smith
Membenci apa yang tidak kita pahami... Jangan-jangan ini adalah sesuatu yang sering kita lakukan - sadar ataupun tidak. Pemikiran tadi muncul saat suatu waktu gambar di atas ini saya lihat di salah satu posting status facebook dari The Lessons of Life. (Salah satu laman facebook yang kerap saya kunjungi secara khusus karena isinya selalu inspiratif.). Mungkin istilah lainnya menghakimi, atau men-judge - memberikan penilaian atau menarik kesimpulan terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak kita pahami. 

Pengalaman saya di Semi Palar begini, ceritanya berkisar di seputar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sejak awal saya mendengar soal KKM sebagai acuan ketuntasan bagi salah satu sasaran pembelajaran murid di kelas, saya spontan menilai KKM itu ga bener. Ga masuk akal. Dan memang penilaian saya itu menjadi penghalang besar bagi saya untuk mencoba memahami apa sebetulnya yang disebut KKM itu. Dengan ke'sok-tauan' saya, saya menyimpulkan KKM ini ciptaan baru Diknas yang 'mengada-ada'. Hal ini, tanpa disadari berlangsung cukup lama. 

Sampai beberapa waktu lalu sekolah kami Semi Palar berhadapan dengan akreditasi. Salah satu di antara banyak persiapannya adalah bagaimana kami harus menyiapkan berbagai dokumen untuk keperluan akreditasi tersebut. Dalam prosesnya, saya ternyata dipaksa untuk memahami apa itu namanya KKM dengan segala seluk beluknya. Walaupun semakin paham, bagi saya KKM itu tetap ga nyambung... Waktu berjalan dan di suatu kesempatan saya sempat melontarkan pertanyaan saya tentang KKM ini kepada rekan-rekan di grup FB Bale Edukasi, tempat berdiskusinya rekan-rekan pemerhati dan praktisi pendidikan. Salah satu yang merespon tentang KKM ini ternyata Prof Iwan Pranoto. Beliau menjelaskan dengan singkat dan gamblang bagaimana pendekatan Competence Based Curicullum yang sebenarnya. Dan dari situ sayapun semakin paham apa dan bagaimana KKM ini. 

Akreditasi kemudian dilewati, lengkap dengan pengarahan sore hari dari pak Mamad (asesor 1) secara khusus mengenai KKM kepada tim Semi Palar. Apakah nyambung? ternyata ya tidak juga, tapi saya bisa secara gamblang menjelaskannya kenapa. Apa bedanya dengan dulu, dulu saya sekedar tidak suka. Rasa tidak suka itu ternyata menghalangi saya untuk belajar dan memahami lebih lanjut. Lalu apa manfaatnya? Bagi saya proses memahami KKM ini justru mendorong saya untuk menggali lebih dalam mengenai Pembelajaran Holistik, yang selama ini saya dan tim di Smipa terus coba terapkan di Rumah Belajar Semi Palar. Di titik ini, kalau saya ditanya, saya dapat menjelaskan dengan lebih baik kenapa KKM itu tidak relevan dengan pembelajaran holistik di Semi Palar.

Mundur cukup jauh, saya juga punya pengalaman menarik dari sebuah forum di Rumah Nusantara, mungkin sekitar tahun 2004-an. Waktu itu rekan-rekan komunitas Rumah Nusantara mengundang pembicara-pembicara yang memang tidak biasa. Hadir di sore itu, Ilham Aidit dan Sarjono Kartosuwiryo. Dari nama-namanya, kita tahu mereka putra-putra dari orang-orang yang dikenal berseberangan dengan Republik pada jamannya dulu. Hadir pula waktu itu Arswendo Atmowiloto dan beberapa pembicara lain. Nama-nama mereka, Aidit dan Kartosuwiryo, tentunya dengan segera membangunkan persepsi tertentu pada benak kita - sebagaimana pada saat kita bersekolah pengetahuan-pengetahuan tentang mereka ditanamkan. Saya masih ingat betul bagaimana persepsi saya berubah seketika mendengar paparan rekan-rekan ini di forum tersebut. Terlebih pada saat Sarjono menekankan bahwa hari ini, tidak ada alasan apapun untuk mendirikan negara Islam - karena negara Indonesia sudah berdiri berlandaskan Pancasila dengan segala prinsipnya. Berbeda situasinya saat peristiwa sejarah gerakan DI/TII berhadapan dengan militer Indonesia. Menurut pemaparan Sarjono, ada hukum Islam yang menegaskan bahwa kalau ada sejumlah tertentu umat Islam yang berkumpul tanpa kepimpinan yang jelas - karena situasi kepemimpinan Indonesia saat itu memang sedang tidak jelas - maka harus didirikanlah sebuah Negara Islam. Hal ini ditujukan untuk melindungi rakyat dan menghindari terjadinya kekacauan. Begitu pemahaman yang saya tangkap dari pembicaraan di forum tersebut. Memang begitu mudah kita mengambil kesimpulan dari hal-hal yang ternyata tidak betul-betul kita pahami.

Melengkapi tulisan di atas, berikut satu tulisan menarik yang saya temukan pada sebuah situs : "Kartosuwiryo Dinilai Pahlawan Indonesia yang Telah Digembosi Sejarah".

Entah apa yang membuat kita sangat mudah menghakimi sesuatu, bahkan pada hal-hal yang seringkali dekat dengan kita. Apakah itu muncul dari kebutuhan kita untuk selalu merasa benar dan menjadikan kita berpegang pada pembenaran, ataukah muncul dari keengganan kita untuk melangkah mencari kebenaran? Rasanya hanya kesadaran kita yang bisa menemukan jawabannya. Mudah-mudahan lebih jauh lagi kesadaran ini bisa membantu kita untuk tidak mudah menilai sesuatu sebelum kita cukup memahami suatu hal, apapun itu...

Thursday, November 15, 2012

narasi hidup


Setiap peristiwa yang kita alami adalah narasi hidup kita. Kalau kita gagal membacanya dengan cermat, memaknainya dengan tepat, entah karena terburu-buru ataupun tergesa menyimpulkan sesuatu, kita akan gagal memahami kisah hidup kita dan menjalankan apa yang seharusnya kita perankan. 
Seperti didalam teks, tanda baca dan notasi, walaupun kecil mereka berperan besar menentukan makna sebuah kalimat. 
Hidup mengajak kita untuk peka dan menyadari setiap hal kecil yang membingkai makna setiap peristiwa.