Saturday, April 26, 2008

diskusi budaya : Menguak Tabir Multikulturalisme

sub title kegiatan diskusi ini : 'Alun Lampah Penelusuran Anak Bangsa'
Satu lagi diskusi asik yang sempat aku hadiri. Asik karena bicara budaya dan multikulturalisme. Diselenggarakan oleh Semadi (Sekretariat Kemanusiaan dan Keadilan Keuskupan Bandung), menghadirkan pembicara yang asik-asik juga, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Garin Nugroho, KH Asep Muhtadi dan Prof. Jacob Sumardjo. Buat aku sih sangat-sangat mencerahkan. Apa isinya, mudah-mudahan bisa sempat saya segera susulkan di sini.


riding into the light

riding into the light
Ini di jalur tahura lagi, minggu lalu saat ada event SimpatiZone Biking Adventure. Kita sih ga ikutan, tapi ambil jalur biasa ke arah Maribaya, berenti di tengah pas nyampe di warung sambil makan nasi timbel merah.Wah, mak nyuss, pokoknya... Sebetulnya kita agak banyakan ngebosehnya, ada mas Yuliardi, Rudyanto, Hanin, aku, ditambah Yanto dan Steve yang sudah mendahului ke arah Maribaya.

Jalur tahura memang enak banget buat dijadiin jalur ngeboseh karena hijaunya pepohonan yang otomatis menyediakan oksigen segar buat kita. Teduh sekali dimana-mana kita berhenti untuk mencari nafas. Catatannya kita berangkat jangan terlalu siang, karena jalur ke arah Tahura semakin siang semakin padat kendaraan.
Tanjakannya masih bisa dikuasai, variasi naik turun, walaupun permukaan paving memang agak licin kalau habis hujan. Jalurnya relatif gampang, walaupun begitu, suasana bahwa kita bersepeda di alam masih sangat kental terasa.

Senang melihat semakin banyak pesepeda yang terlihat. Semoga Bandung bisa jadi kota pesepeda suatu waktu nanti. Sebetulnya sudah semakin banyak teman-teman gabung jadi pesepeda, yang bike to work atau juga untuk rekreasi olahraga yang bisa dilakukan di akhir minggu. Asik pisan lah pokoknya...

Hayu atuh urang ngaboseh...

Saturday, April 19, 2008

filsafat ???

Filsafat ??? Hah, barang apa itu? Itu pandanganku dulu tentang sesuatu yang namanya filsafat. Anehnya, sekarang aku bisa duduk kembali di bangku kuliah (setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak masuk kampus), aku bersama beberapa kakak Smipa ikutan Extension Course Filsafat dengan tajuk Philosophy of Religion.

Di sini bukan course ini yang penting, tapi pengalamanku di Semi Palar, mengamati anak-anak dalam proses belajarnya yang luar biasa, akhirnya merefleksikan sesuatu yang lain. Jangan-jangan memang aku (kita) dididik dengan cara yang salah. Aku tidak pernah belajar untuk bertanya dan bertanya.

Salah satu forum diskusi yang pernah aku hadiri sepertinya menegaskan hal
ini saat seorang pembicara bilang bahwa manusia Indonesia itu manusia
How-To... Hanya tahu gimana melakukan sesuatu. Hanya ngerti teknis,
prosedural, hanya paham masalah cara. Pragmatis banget. HIDUP-pun jadi
sesuatu yang sangat teknis. Pokoknya jalanin aja seperti orang-orang lain.
Dari bayi, sekolah, sekolah lalu kuliah (pilih jurusan yang rame / laku),
lulus lalu kerja, kerja lalu cari jodo, lalu kawin, lalu punya anak, lalu
pensiun, lalu???

Kita tidak pernah lagi bertanya sesuatu yang lebih dalam dari pertanyaan
bagaimana? Kita tidak pernah bertanya apa dan kenapa? Apa itu hidup? Kenapa
kita dianugerahi hidup? Apa itu pernikahan? Apa itu bekerja? Apa itu
pekerjaan? Hal-hal semacam itu...

Filsafat seakan-akan jadi sesuatu yang jauh dari kita. Padahal seharusnya
tidak begitu (paling tidak menurut saya). Karena untuk punya hidup yang
bermakna, makna hidup akhirnya toh harus dicari. Kita harus bisa memaknai
hidup kita, kalau tidak ya hidup kita akan kosong, hampa, tanpa makna. Kalau
hidup adalah sebuah perjalanan, seharusnya hidup punya tujuan. Sepertinya
orang harus studi S3 untuk bisa memahami filsafat (yang ditandai dengan
gelar PhD: Doctor of Philosophy).

Kalo belum S3, jangan sok tau deh, kamu kan masih pada belon ngarti...
Padahal filsafat (menurut aku) adalah sekedar bertanya dan mencari jawaban.
Berusaha kritis, gitu lho.

Di Smipa, sehari-hari kita banyak sekali berjumpa dengan filsuf-filsuf
hebat. Anak-anak. Mereka yang selalu bertanya dan bertanya dan
mempertanyakan lagi jawaban-jawaban kita, atau fakta-fakta yang sudah kita
ketahui. Seperti sebuah pencarian terhadap kebenaran. Kami, kakak-kakak
fasilitator mereka sering kali tertegun mendengarnya. Persis seperti apa
yang dibilang John Holt, pakar pendidikan : "Children are like philosophers.
They ask big questions!"

Kalau memang bertanya adalah suatu kemampuan yang
dimiliki anak-anak? Tapi kenapa kita jadi (tidak suka, tidak berani, atau
tidak biasa) bertanya? Saat kita memandang hidup kita dan segala sesuatu di sekelilingnya adalah sesuatu yang luar biasa, sakral dan mengagumkan, bagaimana mungkin kita tidak bertanya dan mencoba memahaminya, mencari maknanya?

Filsafat ternyata bisa jadi sangat sederhana. Seperti di filem Horton Hears
the Who... "Bagaimana mungkin ada manusia tinggal di dalam sebutir debu?
Debu kan kecil sekali?" protes si Kangguru, lalu balas Horton, "Belum tentu
mereka yang kecil... Mungkin saja kita ini yang sangat besar"... Nah lho?

Akhirnya filsafat hanyalah seperti tagline iklan sebuah produk rokok : TANYA
KENAPA! (hehe... rokoknya sih aku ga suka, tapi tagline-nya... top banget!)

Saturday, April 12, 2008

sepeda dari bahan daur ulang??

Beberapa hari lalu aku dapet hadiah sepeda dari salah seorang kakak guru Smipa (ka Eet) yang sekarang doyan mboseh. Sepeda ini dari bahan daur ulang... Lucu, dari bungkus kopi kapal api... Keren banget. Kreatif abis. Proporsinya bagus. Udah menghayati banget ya soal sepeda. Ka Eet sekarang sering Bike To School (maksudnya kan sehari-harinya kerja di sekolah). Nuhun ka Eet. Mudah-mudahan ide kreatifnya makin sering muncul gara-gara bersepeda...

Sunday, April 6, 2008

verticality

verticality

gambar ini sudah lama sekali aku ambil, kebetulan filenya ketemu dan aku upload di sini.
komposisinya menarik, kebetulan bawa kamera dan aku ambil gambarnya.
objeknya pasti dikenal, akrab dengan kita, tapi garis-garis dan orientasi vertikal yang muncul sebetulnya bisa lebih mengingatkan kita akan sesuatu yang di atas sana...
eit, tapi sebentar... di atas? rasanya tidak ya, Dia ada di mana-mana...

what's happening lately?

Wah, lama aku ga ngeblog... Bukannya 'nothing's going on', sebaliknya banyak banget yang terjadi sampe sulit buat aku menuliskannya... Jadi aku tulis pendek-pendek di sini supaya ga kelewat...
Mudah-mudahan aku segera punya waktu untuk mencatatkannya di sini.
  • Mulai dari hari ini, aku ngumpul-ngumpul di Jakarta sama teman seangkatan (ars86) yang sedang sibuk dengan yayasan kami yang baru dan segala proyek dan gagasannya. Senang sekali merasa bisa ngumpul bareng dengan teman-teman jaman kuliah dulu. Dan setelah sekian lama, kegilaan yang sama masih muncul, bahkan lebih parah! haha... Tapi sekarang ini energinya sudah lebih positif munculnya, dan sangat menyenangkan untuk bisa melakukan sesuatu untuk lingkaran di luar diri kita. Apa yang sedang kita garap, details ada di www.ars86care.org
  • Kuliah filsafat. Ini juga menyenangkan karena aku duduk lagi di bangku kuliah setelah sekian lama. Filsafat? Hmmm, yang ini agak panjang ceritanya, nanti aku tulis terpisah.
  • What did I miss? Karena bentrok dengan jadwal kuliah, aku ga sempat hadir ke acara perbincangan budaya di Grand Hotel Preanger. Pembicaranya Sri Sultan Hamengkubuwono dan Kang Ajip Rosidi, tentang rekonsiliasi sejarah Jawa dan Sunda... Tapi teman-teman ku sempat datang dan mudah-mudahan aku dapat cerita tentang ini.
  • Awal bulan aku datang ke peringatan ulang tahun ke 3 Yayasan Harry Roesli. Menarik, menginspirasi sekali, minimal buat aku. Membuat aku yakin bahwa siapapun kita, bagaimanapun situasi kita, perhatian dan cinta kasih akan membuat kita hidup. Merefleksi apa yang terjadi belakangan ini di sekolah dengan anak-anak Semi Palar, gimana ya? Rasanya begitu mudah buat kita untuk mengabaikan sesuatu - taking things for granted...
  • Di rumah ada peristiwa lucu-lucu tentang anak-anak. Bagaimana atas inisiatif sendiri anak-anak bisa membuat tantangan untuk mereka sendiri untuk mendapatkan sesuatu, dan menawarkannya kepadaku... Lucu, sekaligus bikin aku juga senang sekaligus bangga akan mereka.
  • Lalu aku pergi nonton sama mereka Horton Hears the Who! Filem luar biasa. Very smart movie. Filem selucu itu bawa pesan filosofis yang mendalam buat aku? Hebat! Sambil perut sakit karena terlalu banyak tertawa, filem itu bawa perenungan banyak buat aku.
  • Minggu kemarin aku ajak anak-anak untuk nonton Downhill Race di Cikole. Sekedar untuk mengenalkan mereka ke hal-hal yang bisa jadi opsi buat mereka. Kebetulan kak Kiki, salah satu calon guru di Semi Palar ikut balapan. Buat aku, senang sekali berada di salah satu event persepedahan yang cukup besar...
  • Jum'at kemarin kita evaluasi mid semester di Semi Palar. Satu lagi juga yang jadi bagian dari refleksi aku sekarang-sekarang ini. Termasuk juga salah satu teman yang membuat satu dari dua pilihan sulit, dan memutuskan pilihan yang termasuk 'beyond logic'...
    Quoting Robert Frost :
    Two roads diverged in a wood, and I-
    I took the one less traveled by,
    And that has made all the difference.
  • Besok masuk minggu ke dua seorang temanku yang lain berpetualang ke Jepang. Postur tubuhnya kecil, tapi jiwa, keberanian dan keyakinan dirinya besar. Semoga dia menemukan apa yang dicarinya di sana dan pengalaman-pengalamannya memperkaya dia.
  • Apa lagi ya? Udah dulu ah...
Yang aku yakini bahwa setiap peristiwa membawa makna. Mudah-mudahan aku mampu memaknai dan menghayatinya...

Friday, March 21, 2008

World Silent Day


apa yang mau dilakukan hari ini dan kenapa-nya sudah kita sampaikan ke anak-anak sejak kira-kira seminggu sebelumnya. kakak-kakak di sekolah juga sudah menitipkan kepada anak-anak untuk berpartisipasi. apa yang terjadi di rumah kita? kebetulan hari ini bertepatan dengan peringatan wafatnya Isa Almasih (hari Jum'at Agung). jam 10 tepat anak-anak mulai heboh mematikan segala peralatan elektronik (kecuali lemari es dan mesin sirkulasi aquarium). HP termasuk perangkat yang kita matikan juga.
sebentar kemudian kami berangkat ke gereja Katedral untuk upacara Jum'at Agung.
selesai upacara di gereja, waktu sudah menunjukkan waktu sekitar 14.30. sudah lewat pula waktu makan siang, entah dari mana muncul ide iseng untuk jalan kaki ke rumah. hari itu kebetulan cukup panas, lapar sudah menyerang pula, tapi entah kenapa ya anak-anak menyetujui pula. si kecil sebetulnya agak ragu, tapi karena kakaknya semangat sekali akhirnya kitapun mulai menapak kaki pulang ke rumah. 45 menit kemudian kami sampai di rumah. si adik udah hampir menyerah... "aduuh, aku sudah ga kuat jalan lagi selangkah-pun!" sampai di rumah, si kecil langsung menggeletak di lantai...
dari obrolan selanjutnya kita tahu bahwa dia sadar sedang melakukan sesuatu untuk planet bumi.
sebagai orang tuanya, minimal ini pengalaman yang bisa kita berikan. mudah-mudahan kelak berkembang jadi penghayatan.
buat kita sendiri orang tuanya, ini juga jadi sesuatu yang baru. kemudahan yang kita punya biasanya menjadikan kita jadi manja. tapi toh sebetulnya kita punya pilihan. dan untuk bumi kita semoga kita lebih sering berpikir dan memilih sebelum memanjakan diri mencari kemudahan, dan pada saat yang sama membebani planet kita...

klik di sini untuk situs world silent day...

Saturday, March 15, 2008

3 Tahunnya Yayasan Harry Roesli



15 Maret, peringatan ke 3 hari jadi Yayasan Harry Roesli.
Hari itu saya diundang teman-teman untuk hadir. Di sore yang gerimis itu, sayapun menuju ke sana. Apa yang saya dapatkan di hari itu, hanyalah keyakinan bahwa saat anak-anak mendapatkan perhatian dan sentuhan nurani kita, apapun situasinya, mereka akan bisa memunculkan potensinya, karena anugerah Tuhan adalah luar biasa. Kenapa aku ada di sana, di tengah-tengah mereka, bisa jadi ada sesuatu yang harus aku dan bisa lakukan untuk mereka. Apakah itu? Aku hanya harus menemukannya...

Satu lagi, seperti yang disampaikan kang Aat, ada salah satu pesan terakhir dari Kang Harry sebelum beliau berpulang, lampu di ruang kerjanya jangan pernah dipadamkan. Ini jadi pengingat buat kita semua bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mudah-mudahan kita bisa terus ingat pesan beliau. Mudah-mudahan...



Tuesday, January 22, 2008

selimut polutan di atas Bandung (2)

(klik untuk gambar yang lebih besar)

Ini adalah ke dua kalinya aku ngambil foto tentang ini. Entah kenapa ini terus jadi perhatian aku, karena saat bersepeda ke daerah utara Bandung dan melihat pemandangan itu, rarasaeun napas jadi sesek. Berada di luar kepengapan itu dan menyaksikannya dari luar terus jadi pengingat aku tentang kondisi lingkungan kita yang parah. Ini jadi barometer apakah kita dan segala apa yang kita lakukan mampu memperbaiki situasi ini. Kalau tidak, ya kita harus siap dengan segala konsekuensinya... Mungkin bukan kita, tapi anak-anak kita... Ini jadi kesalahan kita saat anak-anak kita harus bernafas di tengah udara yang penuh polutan dan sarat dengan racun, tumpukan segala limbah yang kita buang saat ini.

Kali ini aku memotretnya secara
panoramic. Mudah-mudahan lebih jelas menggambarkan situasinya daripada saat aku merekam gambarnya Juli tahun 2007 dengan kamera handphone.

Saat ini aku hanya mampu mengambil gambarnya... belum lebih dari itu... saat aku pergi bersepeda, mengurangi sampah atau berkendaraan, mungkin ada satu dua partikel debu yang berkurang, mudah-mudahan walaupun kelewat sedikit pengaruhnya.

Friday, December 21, 2007

hari ini

Seorang bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup ini
yang sama sekali tak perlu kita khawatirkan.

Yang pertama;
Hari kemarin. kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. kita tak
mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan
yang kita rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat;
Lepaskan saja.

Yang kedua:
Hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, kita tak tahu apa yang
akan terjadi. kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari. kita tak
mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba;
Biarkan saja.

Yang tersisa kini hanyalah Hari Ini.
Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri kita untuk hari ini.
kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila kita mampu
memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah
permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada hanyalah Hari Ini.


dari milis alumni sma ku | postingnya peang | thanks bro