Thursday, September 17, 2009

bertautan

bertautan
dah lama ga posting jepretan2 iseng aku. yang ini aku potret di rumah.
kebetulan jadi sesuatu yang menarik perhatian saat bilah2 daun palem sebelum daunnya betul2 mengembang
masih terikat satu sama lain...



Sunday, August 16, 2009

Burung Gereja dan Senapan Angin

Sore hari sepulang aku dari Smipa, anak2 sudah menunggu di depan pintu garasi. Dengan hebohnya mereka meminta aku bergegas turun dan menunjuk ke arah atap gudang sambil bercerita tentang seekor burung gereja yang terluka dan hinggap di sana karena tidak bisa terbang ke mana-mana. Mereka ribut bahwa burung gereja itu luka karena ditembak seseorang. Di sebelahnya terlihat ada lagi seekor burung gereja yang sudah mati beberapa hari yang lalu. Kabarnya karena penyebab yang sama. Anak2 terus meminta aku naik ke atap untuk menolong burung yang masih hidup. Akhirnya aku-pun naik ke atap dan mengambil kedua burung malang itu. Saat mendekat memang mengenaskan sekali, burung yang masih hidup tertembak di bagian kepalanya, bagian mata kiri-nya hancur. Anehnya burung itu masih hidup, waktu aku berusaha menangkapnya, burung itupun masih meronta, badannya masih kuat. Setelah aku menggenggamnya, burung gereja itu-pun mulai tenang.

Lalu akupun mengajak Rico untuk mencari siapa yang bermain senapan angin dan menembaki burung2 gereja itu. Kami-pun berusaha mencari tahu dari petugas keamanan di lingkungan kami. Setelah berkeliling dan menemukan siapa yang melakukannya, aku-pun memberanikan diri untuk menegur dan memintanya untuk tidak menjadikan burung gereja sebagai sasaran tembaknya.

Yang bikin aku bingung, kenapa hal sebesar ini, menghilangkan nyawa mahluk hidup - yang tidak berdosa - dan sedikitpun tidak mengganggu, sepertinya ini sesuatu yang sama sekali biasa. Beberapa orang yang aku temui seakan bingung saat aku bilang bahwa aku akan mencoba menyelamatkan burung yang terluka itu. Sehari kemudian, burung yang terluka itupun akhirnya mati, setelah Inka berusaha menyiapkan kandang kecil, tempat tidur, makanan dan air minum untuknya.

Aku sama sekali ga tau apa yang aku, Rico dan Inka capai dari segala kerepotan dan kehebohan di sore itu. Mudah2an sedikitnya tersampaikan ke beberapa orang bahwa seharusnya kita tidak memperlakukan sesama mahluk hidup sesuka hati kita. Apakah faham atau tidak, aku tidak akan pernah tahu. Buat anak2ku, mudah2an aku sedikitnya mengajak mereka mengalami bahwa mahluk2 hidup yang tidak bisa membela diri kadang perlu pertolongan kita juga. Dan kita, sedikitnya bisa melakukan sesuatu. Mudah2an pengalaman sore itu bawa secuil pembelajaran buat mereka.


Bandung MACET! : hilangnya hak warga Bandung

Weekend ini memang long weekend sehubungan dengan libur 17-an. Dan seharusnya kita sudah tahu bahwa Bandung akan padat - sudah biasa...
Tapi sore kemaren memang luar biasa. Bete banget. Perjalanan dari Pajajaran ke Setiabudi bisa makan waktu hampir 2 jam.
Jalanan padat dipenuhi mobil2 berpelat nomor luar kota. Lalu kita jadi berpikir. Kok kita sebagai warga kota jadi kebagian ga enaknya. Yang enak hanya yang empunya hotel, resto, FO dan tempat rekreasi - mereka yang secara langsung dapat keuntungan besar dari ramainya kota Bandung. Lalu bagaimana dengan sisa warga kota yang lain. Kita hanya kebagian macet, polusi dan sampah yang ditinggalkan orang2 yang datang dari kota lain. Beban lingkungan hidup? Sudah pasti lebih banyak, semakin berat. Padahal sekarangpun di hari2 kerja kota Bandung sudah sangat padat. Semestinya lingkungan kota-pun perlu punya waktu untuk istirahat...
Lalu untuk warga kota ga nyaman? Udah pasti banget...

Memang orang2 Jakarta banyak yang mampir Bandung karena kotanya sendiri ga nyaman. Tapi gimana dengan kita yang kotanya sebetulnya cukup nyaman, tapi kemudiani jadi ga nyaman karena diserbu orang2 luar kota. Banyak dari kita yang jadinya hanya memilih untuk tinggal di rumah. Dan situasi ini semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Mencari SOLUSI?
Apa yang bisa kita lakukan? Apa yang seharusnya pemerintah kota lakukan? Seharusnya ada sesuatu yang bisa dilakukan supaya situasi ini menguntungkan semua pihak dan bukannya merugikan sebagian besar warga kota. Tapi masalahnya apakah pemkot memikirkan hal ini? Mungkin juga mereka ga pernah kena macet ya karena pejabat kota kalo ke mana2 pasti dikawal fore-rider... Melihat ke depan jangan2 ini bakalan semakin sulit diantisipasi kelewat buruk. Saat ini pun sudah sulit membayangkan solusinya apa yang mungkin. Bisa ga sih pemkot membatasi mobil wisata luar kota misalnya hanya di minggu pertama dan ke tiga, supaya warga kota Bandung punya waktu untuk menikmati kotanya sendiri.
Mungkin ga pemkot memberlakukan semacam tiket masuk kota Bandung (Bandung sebagai kota wisata), supaya pemkot punya dana tambahan untuk pembangunan kota atau fasilitas2 umum yang diperuntukkan meningkatkan kenyamanan warga kota atau para wisatawan. Untuk membangun tempat parkir di kawasan Cihampelas misalnya, memberlakukan area pejalan kaki di area2 tertentu, transportasi umum yang lebih OK, dll. Pemkot punya dana, masyarakat Bandung bisa dapat fasilitas baru dan Bandung pun lebih maju.

Pertanyaannya, akankah ada kepedulian ke sana?


Saturday, August 8, 2009

Sharing di Refresher's Training Ibu2 Asuh SOS Kinderdorff



Hari ini aku diminta sharing di SOS Kinderdorff, membawakan materi tentang 'Interaksi Dengan Anak Sebagai Wujud Cinta'. Waktu tau kepada siapa aku diminta sharing aku bingung juga. Apalagi setelah dengar temanya. Tugas berat. Aku tau persis ibu2 asuh di SOS Kinderdorff melakukan apa yang mereka lakukan pastinya karena cinta. Apalagi yang bisa memotivasi mereka mendedikasikan hidupnya untuk menjadi seorang ibu dari anak2 yang bukan anak kandungnya. Anak-anak yang ditinggalkan atau kehilangan orangtuanya sejak bayi atau di usia yang lebih dewasa. Apapun itu, pastinya ada luka di diri mereka dan aku yakin apa yang diberikan oleh SOS Kinderdorff melalui para ibu asuh akan sedikit banyak mengobati luka itu...

Sabtu pagi harinya aku masih bingung mau ngomong apa, apa yang bisa aku sharingkan, karena memang walaupun ada sedikit2 yang aku tahu tentang pendidikan, situasi para ibu dan apa yang aku kerjakan sehari2 sangat berbeda : para ibu sebagai ibu rumah tangga dan Semi Palar adalah sebuah sekolah. Tapi toh kita pasti bicara soal pendidikan, mendewasakan anak2 kita masing2 dengan cara kita masing2. Dan yang aku pikir bisa nyambung adalah proses belajar sebagai sebuah proses penemuan diri. Walaupun proses penemuan diri adalah suatu yang penting / esensial untuk setiap individu, aku pikir justru lebih demikian untuk anak2 asuh Kinderdorff. Mereka harus mampu memahami / memaknai jalan hidup mereka yang hampir pasti bawa pertanyaan atau kesedihan buat mereka. Tapi toh semua peristiwa ada maknanya. Setiap kejadian ada tujuannya. Dan untuk mereka ini jadi sesuatu yang penting dan sangat menentukan untuk perjalanan mereka menjadi dewasa. Tapi dari cerita2 yang aku dapat, banyak kisah hebat dari anak2 asuh Kinderdorff. Apakah jalan hidup mereka lebih sulit, mungkin ga juga, karena pada saat kekosongan diri mereka ada yang mengisi, ada yang melengkapi, kesadaran diri mereka jangan2 bisa lebih mudah mereka temukan.

Seperti yang sempat aku ungkapkan kepada para ibu, bahwa di keluarga2 yang serba berkecukupan bahkan berkelimpahan, banyak anak justru tidak memperoleh hal esensial bagi proses penemuan diri mereka : cinta kasih dan perhatian dari orangtuanya.


Berada di tengah ibu2 asuh ini (yang datang dari banyak daerah, termasuk Bali dan NTT - Flores) aku banyak dapat kesan luar biasa. Di balik kesahajaan beliau2 ini, aku melihat kedalaman pemikiran para ibu ini. Buat aku ini pengalaman luar biasa. Momen pembelajaran yang besar buat aku. Cerita mereka dan pertanyaan2 yang diungkapkan menggambarkan kepedulian yang besar untuk anak2 yang mereka dampingi.

Makasih untuk Hadi, Banteng & Monic yang memberi saya kesempatan.




Friday, August 7, 2009

1 2 3 4 5 6 7 8 9



I got this 'reminder' in a SMS from my mom... Some short moment before this moment.


At 12 hr 34 min and 56 seconds

on the 7th of August this Year,

the time & date will be :


12:34:56 07/08/09 = 123456789


This moment will never happen in your life again.


… but then again


Every other moments will never repeat itselves.

That is why 'now' is called The Present. It is a gift, it is truly a gift.

Each moment must be special.

So we must do our best to treasure them, as they will never happen again.


Monday, July 27, 2009

Leaving Some Traces Behind

Beberapa waktu lalu, aku sama kakak2 iparku ngobrol selagi santai... Ngalor ngidul, entah ke mana...
Sampai di satu titik muncul pertanyaan... "Kenapa ya di jaman sekarang ini waktu seakan hilang entah ke mana..., kita itu kan sekarang banyak sekali kemudahan, tapi kok waktu seakan berjalan semakin cepat..." Dan waktu seakan memang hilang begitu saja...

Obrolan ini membuatku berpikir kesana kemari juga. Tapi intinya sih yang aku pikirkan ya begini. Pertama orang sepertinya terbawa arus kehidupan... Di jaman sekarang ini yang serba cepat dan serba instan, tentunya arusnya cepat juga. Dan ini juga yang memaksa orang untuk seakan terus berlari, mengejar sesuatu. Apa yang dikejar, kita ga tau persis. Dan kita jadi segan berhenti untuk melihat2 dulu, mencari tahu apa yang dikejar, karena takut tertinggal... Begitu kira-kiranya.
Tentang ini, aku pernah baca satu buku yang bagus banget, judulnya Hope For the Flowers

Kemudian, manusia sekarang kan sudah tidak lagi hidup dengan meninggalkan jejak. Jaman dulu, di waktu orangtua kita dulu, keluarga kita masih hidup di sebuah jaman di mana kita masih serba membuat segala sesuatu, di mana keluarga masih meninggalkan jejak-jejak dalam berbagai bentuk. Dan jejak-jejak inilah yang meninggalkan cerita dan memori untuk kita... Dan di sanalah waktu terrekam.

Di ruang tidur anak2, mereka sekarang tidur di tempat tidur yang dibuat mama-ku untuk aku waktu kecil dulu... Kalo diitung udah lewat puluhan tahun yang lalu. Walaupun tampangnya udah butut, saat aku mengantar / menemani anak2 tidur, memori seringkali kembali ke pikiranku saat melihat tempat tidur itu... Semacam itu...

Lalu bagaimana dengan sekarang ini. Apa yang bisa kita perbuat dengan ritme kehidupan yang sedemikian cepat, yang terus menyeret kita terus berlari... Rasanya kita perlu mencari hal-hal yang bisa dijadikan jejak. Salah satu caranya adalah meninggalkan dan menyimpan karya-karya kita... Kenapa karya, karena aku pikir, kita meninggalkan sebagian dari diri kita di dalamnya. Minggu lalu saat membereskan rumah, aku membuka album di mana aku menyimpan kertas-kertas coretan dan gambar anak2 ku waktu kecil dulu... Dan waktu seakan berhenti, dan berputar mundur... di mana aku bisa tersenyum dan mengingat mereka di usia saat mereka membuat gambar-gambar itu dulu.

Saat aku buat posting ini, tak terasa sudah 100 posting aku buat di blog ini. Kenapa aku bikin blog ini, aku sebatas ingin merekam perjalananku untuk anak2ku lihat nanti. Di sini aku simpan cuplikan karyaku, pengalamanku, cerita-cerita, pemikiran dan refleksi diriku...

Aku ingin bisa meninggalkan sesuatu walaupun kecil, meninggalkan jejak. Aku hanya berharap jejak2 digital ini akan tetap terus ada sampai anak-ku bisa melihatnya lagi nanti sewaktu mereka dewasa... agar jejak2 ini menghentikan dan memutar balik waktu... sementara aku musti mencari lagi jejak2 apa yang bisa aku tinggalkan saat ini, supaya selagi waktu bergulir semakin cepat, aku masih bisa melihat di mana aku pernah melangkah di dalamnya...

Monday, July 20, 2009

underneath the big blue sky

udah rada lama ga boseh... posting aja ah foto narsis lagi sepedahan...
lokasi di sekitar Cibodas Maribaya - photo by Murdock
Nice shot bro... Keren !

Thursday, July 16, 2009

an honest prayer

How true, how true indeed...

"Heavenly Father, We come before you today to ask your forgiveness and to seek your direction and guidance.
We know Your Word says, "Woe to those who call evil good" But that is exactly what we have done. We have lost our spiritual equilibrium and reversed our values.
We have exploited the poor and called it the lottery.
We have rewarded laziness and called it welfare.
We have killed our unborn and called it choice.
We have shot abortionists and called it justifiable.
We have neglected to discipline our children and called it building self esteem.
We have abused power and called it politics.
We have coveted our neighbour's possessions and called it ambition.
We have polluted the air with profanity and pornography and called it freedom of speech and expression.
We have ridiculed the time-honoured values of our forefathers and called it enlightenment.
Search us, Oh, God, And know our hearts today;
Cleanse us from every sin and set us free. Amen!"

By Minister Joe Wright at the new session of the Kansas Senate

Tuesday, July 14, 2009

Thanks Dad for Showing Me How Poor We Are

One day, the father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the express
purpose of showing him how poor people live. They spent a couple of days and nights on the farm of
what would be considered a very poor family. On their return from their trip, the father asked his
son , "How was the trip?" "It was great, Dad.""Did you see how poor people live?" the father
asked.."Oh yeah," said the son. "So, tell me, what did you learn from the trip?" asked the father.

The son answered:"I saw that we have one dog and they had four. We have a pool that reaches to the
middle of our garden and they have a creek that has no end. We have imported lanterns in our garden
and they have the stars at night. Our patio reaches to the front yard and they have the whole
horizon. We have a small piece of land to live on and they have fields that go beyond our sight. We
have servants who serve us, but they serve others. We buy our food, but they grow theirs. We have
walls around our property to protect us, they have friends to protect them. "The boy's father was
speechless. Then his son added, "Thanks Dad for showing me how poor we are.

"Isn't perspective a wonderful thing? Makes you wonder what would happen if we all gave thanks for
everything we have, instead of worrying about what we don't have. Appreciate every single thing you
have.

From one of the mailing lists I'm subscribing to. Thanks Wido for forwarding this my way.



Saturday, June 6, 2009

Bete sama BB (BlackBerry)

Aku lagi (sebenernya udah lama) bete sama BB (BlackBerry)

Apa karena ga punya duit buat punya BB, ya engga juga. (eh - ga punya duitnya mah iya)

Karena sekarang ini orang-orang yang punya BB seakan-akan ga punya kepedulian ya buat yang laen - non pengguna BB. Mungkin ga juga sih ya... mungkin sekedar kurang aware aja...

BB-nya sendiri secara teknologi sih ga papa ya. Karena toh dia pasti bermanfaat.

Sejak boomingnya BB di Indonesia, mailbox ku jadi banyak dipenuhi sama junk-mail.Email-email yang 'gada gunanya'. Email-email yang isinya one-liner, celetukan-celetukan ga jelas dan mungkin hanya diperuntukkan ke personil tertentu. Ya pastinya mailbox aku jadi penuh.

Buat sesama pengguna BB, dengan mudah dia menghapusnya. Tapi buat pengguna email yang ga pake BB ya jadi repot, saat mailboxnya tiba-tiba dipenuhi email yang isinya ga jelas dan itu tadi, ga berguna.

Satu Thread yang seharusnya pendek bisa jadi berbelas-belas respon karena banyaknya pengguna BB yang dengan mudah bisa celetak-celetuk spontan, tanpa sadar bahwa responnya diterima oleh puluhan bahkan ratusan member milis yang jangan jangan tidak berkepentingan dengan celetukan-celetukan one-liner tadi...

Masalahnya di mana? Banyak pengguna BB yang ga aware bahwa media yang digunakan adalah email. Electronic Mail. Bukan SMS. Electronic Email kan ya surat: surat elektronik. Dan saat Electronic Email dimanfaatkan jadi seperti SMS - short message, ya begitulah, ada pihak-pihak yang dirugikan. Sebetulnya ini berhubungan erat dengan apa yang dulu sempat eksis dengan nama NETIQUETTE : etiket ber-internet. Lalu kemana sekarang Netiquette ini ya ga ada ya. Jadi ga berbudaya gitu sepertinya...

Jadi salah satu pembicara di ECF - waktu itu Romo Prof. Dr. Alex Lanur yang bawain tema HomoFaber... Katanya manusia itu kan yang menciptakan teknologi, tapi sekarang jadinya teknologi juga yang akhirnya mengendalikan manusia (maksudnya banyak dampak2 negatifnya juga)...

Kemaren sempet ngobrol sama temen-temen yang kebetulan sepemikiran... Lucu juga saat ada orang yang senang punya BB karena sekedar senang notification tone nya di BB-nya sering bunyi. Padahal penting sih engga. Mungkin sekedar serasa eksis gitu ya? Lalu pertanyaannya sebetulnya eksistensi elu di dunia nyata jadinya begimana?

Hehe, kok jadi ngomel panjang pendek... Tapi ya begitulah ceritanya. Curhat ini aku posting di blog untuk sekedar mencatatkan bahwa kok ada juga ya masanya aku sangat terganggu sama perkembangan teknologi. Sesuatu yang sebetulnya cukup aku ikuti, aku manfaatkan dan sangat membantu melakukan kegiatan-kegiatan aku sehari-hari sejak dulu... Mudah-mudahan ini cuman satu tahapan yang musti dilewati para pengguna teknologi baru yang mungkin awarenessnya belum nyampe sana... mudah-mudahan deh.