Wednesday, February 10, 2010

foto :: tangga tobucil

tangga tobucil
ini juga masih di tobucil di desember tahun lalu. aku liat tangga bambu ini bersender di depan rak-rak kayu di dinding yang juga ditumbuhi tanaman merambat... komposisinya menarik, kontras-kontras cahayanya, termasuk di mana si tanaman rambat mulai tumbuh membelit si tangga bambu... sudah cukup lama rupanya tangga itu berada di sana... tidak berapa lama sesudahnya, tangga bambu itu memang dipindahkan oleh seseorang...

masih hobi motret? : pemikiran tentang fotografi

Pertanyaan itu dimunculkan kawan saya dr Gigi Endro di kliniknya sore tadi...
Jadi mikir sebetulnya kenapa saya suka motret, dari dulu, saya suka motret... bukan seperti hobbyist sejati, tapi saya memang suka jeprat jepret kiri kanan setiap ada kesempatan. Kalau keluar rumah, hampir pasti saya bawa kamera di tas. Bukan untuk secara spesifik hunting foto, tapi ya siap2 aja siapa tahu ada momen / spot bagus untuk direkam...

Sebetulnya skill motret saya biasa banget. Ga ada istimewanya. Ga pernah belajar motret secara khusus, kamera yang dipake juga basic saja, bukan kamera yang canggih. Saya juga ga pernah secara spesifik hunting foto, nyari lokasi atau nyari obyek... Saat kita hunting foto kita sebetulnya mencari objek, menunggu momen, cahaya, peristiwa apapun. Kalau saya sih engga... Sebetulnya tujuan saya bawa kamera hanya untuk mendorong saya lebih mengamati segala sesuatu yang ada di sekeliling saya. Dan Endro menyimpulkannya dengan pas : "supaya lebih aware sama sekeliling ya?". Wah betul banget. Hanya itu tujuannya.

'There are no ordinary moments', quote yang saya suka dari buku dan filemnya Dan Millman, Peaceful Warrior. Intinya dari keadaan yang serba biasa, bahkan serba kotor dan sederhana, pastinya ada hal-hal luar biasa di dalamnya. Tinggal bagaimana kita peka menangkap dan melihatnya... Lalu cara paling sederhana adalah dengan merekamnya dengan kamera... Saya pikir fotografi adalah cara bagus buat mendidik anak-anak membangun kepekaan diri mereka, membangun kesadaran tentang itu tadi : 'there are no ordinary moments'

Dari sudut pandang ini, kamera bisa jadi media luar biasa buat kita membangun spiritualitas kita... Lalu akhirnya, mau kamera murah atau mahal, poket atau DSLR, jadinya ga penting lagi... Fotografi adalah bagimana kita merekam momen... Setiap momen adalah istimewa adanya, dan sebagai anugerah Tuhan momen apapun itu tidak pernah akan terulang lagi...

belajar lewat menulis

teks pendek ini tercetak di atas salah satu bangku baso yang ada di Tobucil. Dulu bangku-bangku baso ini mangkal di komunitas Trimatra Center dan menjadi saksi setia dari banyak peristiwa yang sempat ada di sana...

Di Trimatra (yang notabene digagas, dirintis dan dilahirkan saat Krisis Moneter tahun 97) akupun mulai belajar menulis... Dulu keinginan belajar menulis kita munculkan lewat buletin board Trimatra, yang ditempel persis di dekat pintu masuk Tobucil. Di sana lah aku dan teman-teman di Trimatra dan Tobucil memberanikan diri dan mencoba, belajar menuliskan pemikiran-pemikiran dan gagasan kita, sekaligus memberikan komentar atas apa yang teman-teman kita tuliskan di sana... Beberapa tulisan itu masih aku simpan sampai hari ini... Dan tak disadari itu jadi akar dari apa yang sampai sekarang-pun aku coba munculkan, coba bangun di komunitas yang aku kawal hari ini, di Semi Palar. Papan buletin (yang buat aku bersejarah) itu-pun sekarang tergantung di ruang tunggu orangtua Semi Palar, tetap membawa peranan yang sama, menggantungkan opini-opini, kisah-kisah pengalaman kita yang kita bawakan melalui untaian kata di atas lembaran-lembaran putih, kertas yang sebelumnya kosong dan ternyata bisa mendatangkan perubahan-perubahan besar... Tulisan memang betul media luar biasa buat belajar...

(Masalahnya, kok orang-orang kita ga terlalu suka nulis ya? Jangan-jangan orang-orang kita ga suka belajar?)

Friday, February 5, 2010

Apakah ada yang peduli

Pertanyaan ini sering muncul di kepala... di tengah begitu seringnya akhir-akhir ini kita mendengar orang-orang berbicara tentang pelestarian lingkungan hidup, Global Warming, Go Green, Save the Planet dan lain sebagainya... Tapi kenyataannya kalau kita melihat ke sekeliling apakah sudah ada yang betul-betul peduli? Apakah statement-statement kita hanya sekedar mengikuti trend belaka, apakah ini sekedar eforia belaka?

Saya, istri dan kedua anak saya sudah cukup lama mencoba 'menghijaukan' perilaku kita sehari-hari, mulai dari :
  • mengurangi penggunaan kresek, belanja dengan tas kain.
  • membawa botol minum sendiri setiap saat bepergian.
  • membebas-tugaskan 'water heater' di rumah. otomatis dengan mandi air dingin, kita mandi lebih cepat, tidak berlama-lama dan kita menghemat air dan menghemat listrik...
  • memilah sampah, mencari spot-spot di mana kita bisa mendaur-ulang sampah-sampah kita...
  • merubah pola belanja kita, kita beli barang2 yang dikemas kecil2, untuk mereduksi jumlah sampah kita...
  • memakai kertas bolak-balik...
  • mengurangi berkendaraan, jarak dekat kita jalan kaki atau bersepeda saat saya bepergian sendiri...
  • bawa sumpit sendiri ke mana-mana...
  • mengganti bohlam dengan lampu hemat energi...
  • banyak lagi...
Lalu, di mana masalahnya? Balik ke pertanyaan di atas tadi... Seberapa jauh orang-orang lain juga melakukannya. Saat kita pergi berbelanja, saya selalu menyempatkan diri tengak-tengok kiri-kanan apakah ada orang lain yang juga bawa tas belanja sendiri? Sejauh ini kok tidak pernah terlihat?

Tahun lalu waktu Earth Hour kita mematikan semua lampu di rumah, saat saya dan anak-anak keluar mematikan saklar utama, ternyata tetangga-tetangga kok cuek aja? Tidak ada satupun keluarga di sekitar rumah kita yang melakukan hal serupa... Anak2 jadi bertanya, kok yang laen ga ada yang matiin lampu?

Saat kita merasa hanya sendiri melakukannya, seakan-akan kita jadi seperti orang yang kurang waras...

Sejauh ini saya terus mengikuti isu-isu lingkungan hidup, dan jadi paham seberapa jauh kerusakan lingkungan sudah terjadi dan akan semakin memburuk, saya seakan tidak melihat orang-orang lain tau dan semakin paham.

Sejauh bergaul dengan teman2 yang bergerak di berbagai komunitas membangun kesadaran tentang lingkungan hidup, sejauh mana kita berhasil, sampai di titik ini

Saya sadar betul, kita semua (yang sudah lebih dahulu paham) tidak boleh berhenti. Berbuat sesuatu untuk lingkungan hidup memang membuat kita jadi jauh lebih repot...
Jalan kaki, naek sepeda, bawa kresek, milah sampah, hemat air, matiin lampu... semua ini jauh bikin kita lebih repot... tapi ini memang hal yang harus kita lakukan kalau kita ingin planet kita lestari. Ini harga yang sebelumnya tidak pernah kita bayarkan, dan kita bebankan ke planet bumi kita... Kemanjaan kita, kenyamanan kita, ketidak-pedulian kita selama ini, justru merupakan hal utama yang menjadikan planet kita sedemikian rusak hari ini. Hal ini datang dari kita semua, masing-masing diri kita, individu demi individu.

Di sisi lain kita melihat bagaimana kapitalisme, industri-industri besar di tangan para pemilik modal merasa memiliki segala sesuatu yang ada di atas, permukaan dan di dalam muka bumi kita. Mereka mengeksploitasi semuanya dengan keserakahan luar biasa untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya untuk segelintir orang atau kelompok... Dan umat manusia sisanya, anak cucu kita ditinggali kerusakan alam, ditinggali ampas-ampas kerakusan mereka... Kalau ditelaah lebih lanjut, eksistensi mereka juga bergantung pada kita semua individu... Saat kita semua menjadi sedemikian konsumtif, mereka tidak akan berhenti... Saat kita semua lebih bijak membeli betul-betul hanya apa yang kita butuhkan, suatu saat mereka akan berhenti juga.

Tapi kembali lagi, kita tidak boleh berhenti... Saya yakin ada teman2 di luar sana yang juga bertanya hal serupa... Kalaupun apa yang kita lakukan walaupun sedikit membawa dampaknya, kalaupun yang peduli bertambah sedikit demi sedikit, toh perubahan itu ada...

Saya hanya berdoa, semoga bumi kita bertahan, dan kita semua tidak terlambat.

foto :: pendar sinar

pendar sinar
Ciater Desember 2009

Wednesday, February 3, 2010

"berbeda agama, tapi satu iman"

"Saya dan Romo Mangun berbeda agama, tapi satu iman," kata Gus Dur suatu kali.

Iman bagi Gus Dur bukanlah suatu benteng: suatu konstruksi di sebuah wilayah. Benteng kukuh dan tertutup bahkan dilengkapi senjata, untuk menangkis apa saja yang lain yang diwaspadai. Bangunan itu berdiri karena sebuah asumsi, juga kecemasan: akan ada musuh yang menyerbu atau pecundang yang menyusup.

Iman bagi Gus Dur bukanlah sebuah benteng, melainkan sebuah obor. Sang mukmin membawanya dalam perjalanan menjelajah, menerangi lekuk yang gelap dan tak dikenal. Iman sebagai suluh adalah iman seorang yang tak takut menemui yang berbeda dan tak terduga. Terkadang nyala obor itu redup atau bergoyang, tapi ia tak pernah padam. Bila padam, ia menandai perjalan yang telah berhenti...

dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, TEMPO, 17 Januari 2010

Friday, January 22, 2010

foto :: daun dan lumut

daun dan lumut
aku suka komposisinya... warna, bentuk dan formasi batu dan di mana daun itu jatuh, dan mengering... jadi aksen yang menarik...
ada kisah sederhana di sana... juga ada ada kontras luar biasa... ada yang gugur dan mati, ada juga kehidupan yang muncul di atas permukaan batu yang dingin dan keras...
gambar diambil di dekat sebuah sungai di daerah Ciater Desember 2009

Monday, January 11, 2010

on brothers and sisters

I am indeed very lucky. My parents have four kids. So I have three siblings. I am the eldest of two sisters and a brother. One of my sister got married to a German guy, so she had to move out of the country to live in Germany. It has been almost five years (I think) since she left Indonesia. She was here two years ago and she was just about to go back to Germany after she visited us since last November.

It was really great to have everyone around, I could really see that in my father's and mother's eye. I felt the same way too. Even more so when we see our children played together, having a really good time. It was a really wonderful sight knowing that they barely knew each other. Having a family, closed ones, people that you really love together makes you feel really blessed. Especially since each one of us is doing OK, seemed content and happy with the lives they are living. At those moments, you can really appreciate and feel so grateful of what dad and mom has given us... And to them hopefully seeing that each one of us, their children and grand children are doing great so far, may make them feel somehow rewarded.

My sister and her family is going away again the day after tomorrow. And I feel so sad realising that it will be a long time before we can see each other again. Even though when she was here, we didn't see each other that much anyway. But it feels kinda strange to feel that we are much closer when we are far away. Perhaps being close to each other tend to make us take it for granted. Or maybe, being older (not old) we grow something that we didn't have before.

My other sister, on the other hand, I see her every day of the week. We live in the same city, worked at the same place. I can see her and my two nephews every day, which is great. My little brother, I don't see him and his family that often, but still I feel somehow really lucky, really glad to have him as a brother.

Anyway, so what do we think of brothers and sisters. Things that we too often take for granted. It's like it's just there everyday as long as we live, and sometimes we they are the ones that we fight and have arguments with. But then time goes on, and when got older and you have a family of you own, then you suddenly realize that they made an important part of your life. In time they will be the only family you have left. When you are alone, you face problems, and need someone to talk to, they may be the people closest to you that will really support and help you without expecting anything in return, simply because they are your family.

In time that people are thinking about having only one child in your family for any sorts of reasons, there are simply many things that simply be gone. When you are a single child, and your parents are gone, then you are simply alone. There will be noone left in your family circle. You may have friends, but they are just not the same. Down the line, the term uncle and auntie will be gone too... And more importantly, you lost the feeling that there will be people that are like you, born from the love of your father and mother. That is I think something that you simply cannot get any other way... I think brothers and sisters are gifts from our parents, and in the same way it is a gift that we give to our child. And one of the most wonderful gift there is.

I now have a family of four. I have a daughter and a son. And when I think about it time and time again, I am hoping that someday my children could and would appreciate what it means of having a brother or a sister. It is a gift to them from us their parents.

When more couples are having only a single child in the family, then how do we define the term family, when in time there will only a single family member left... The term family will then lost its meaning as well... and I can only imagine how lonely it could be...

Saturday, January 9, 2010

sepeda vs. mobil vs. bus kota : komparasi ruang gerak


72 orang pesepeda = 90 meter persegi.
60 mobil yang mengangkut 72 orang = 1.000 meter persegi.
72 orang dalam 1 bus = 30 meter persegi

pantesan kota2 besar pada macet.
Ini belum mengkalkulasi emisi CO2 dan konsumsi BBM ya? Ayo perbanyak bersepeda dan berkendaraan umum. Pasti besar dampaknya pada kualitas hidup masyarakat kota.

nuhun pisan buat Bang Aswi untuk materi posting ini

Friday, January 1, 2010

foto :: dimakan cuaca

dimakan cuaca

gambar ini saya ambil waktu jalan2 pagi di kota pegunungan Bandungan di Jawa Tengah.
genteng tanah liat ditumbuhi lumut, di atas rangka bambu yang mulai hancur, kehijauannya ditambah susunannya yang mulai tidak keruan
justru jadi menarik di tengah-tengah kebun dan kerimbunan pohon... Bandungan, December 2008.