Sunday, May 20, 2012

Holistic Education: A response to the crisis of our time


Holistic Education:  A response to the crisis of our time

Holistic Education began to emerge as a coherent philosophy in the mid-1980s and is today becoming recognized in many parts of the world as an inspiring response to the serious challenges of this age of globalization, such as violence, cultural disintegration, and ecological decline.

Bringing together the best theory and practices from diverse educational alternatives, a holistic perspective asserts that education must start by nourishing the unique potentials of every child, within overlapping contexts of family, community, society, humanity, and the natural world. Holistic education is not a fixed ideology but an open-ended attempt to embrace the complexity and wholeness of human life.

Holistic educators reject the current obsession with educational uniformity: rigid standards, relentless testing, and authoritarian control of the learning process. Holistic education is essentially a democratic education, concerned with both individual freedom and social responsibility. It is education for a culture of peace, for sustainability and ecological literacy, and for the development of humanity’s inherent morality and spirituality.

Quoted from www.pathsoflearning.net

Wednesday, May 2, 2012

Manusia Indonesia adalah bukan Sumber Daya

Bapak Muhamad Nuh berpesan begini dalam pidato peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 : "Kita harus melakukan investasi besar-besaran dlm bidang SDM"...

Saat kita memandang dan memperlakukan manusia-manusia Indonesia sebagai sekedar SUMBER DAYA, sebagai komoditi yang bisa dihitung-hitung untung ruginya, diukur lebih kurangnya... manusia-manusia Indonesia yang (semestinya) luar biasa tidak akan muncul sebagaimana Sang Pencipta memaksudkannya.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang demikian luar biasa. Ciptaan Tuhan yang tidak bisa direkayasa kecanggihannya! Yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan lahan subur di mana manusia Indonesia dengan segala kerenikan individualitasnya,
yang hidup dalam kompleksitas lingkungan sosial budaya dan alamnya... dapat menumbuhkan keunikan dan potensi individunya. Pendidikan adalah memanusiakan manusia dengan segenap hakikat kemanusiaannya.

Manusia Indonesia adalah bukan Sumber Daya - wahai pak Menteri. Pendidikan adalah BUKAN mengenai investasi untuk sejenis sumber daya, apalagi anda bicara tentang manusia Indonesia...

Sunday, April 29, 2012

Jiwaku :: puisi Ibnu Al'Arabi

Jiwaku telah siap menerima segala bentuk:
Jiwaku adalah rumput hijau bagi kawanan rusa
dan menjadi sebuah biara bagi rahib-rahib kristen
dan sebuah kuil pemujaan
dan para penjiarah Ka'bah
dan meja untuk Taurat
dan kitab Kur'an
aku mengikuti agama cinta
Apapun dan kemanapun unta-unta berjalan,
Itulah agamaku dan imanku

dari Puisi Ibnu Al'Arabi, The Tarjuman Al-Ashwaq, buku xi, dikutip oleh Danah Zohar, hal. 293
disampaikan di kuliah Extension Course Filsafat 2009, oleh Romo Fabie
... seandainya jiwa kita manusia bisa seterbuka ini ...  

Saturday, April 21, 2012

Menjadi Terang di dalam Kegelapan...

Kadang saya berpikir bahwa anak-anak Indonesia yang tidak bisa bersekolah formal 'lebih beruntung' dari pada mereka yang berada di dalam sistem pendidikan - dengan catatan mereka punya pendamping-pendamping yang memang punya hati (cinta tak bersyarat - seperti diungkapkan di Tayangan Kick Andy). Posting ini saya tuliskan seusai menonton tayangan liputan kawan-kawan dari Rumah Belajar SAHAJA (Sahabat Anak Jalanan).

Kenapa beruntung, karena pertama-tama mereka masih punya kemerdekaan. Kemerdekaan sebagai anak-anak dan individu yang merupakan bingkai kemanusiaan yang terutama. Komponen penentu selanjutnya adalah bahwa mereka punya pendamping-pendamping - para pendidik yang memberi mereka cinta melalui perhatian dan apresiasi. Mungkin begini, kemerdekaan berpikir itu ibarat bahan dasarnya. Saat anak-anak tersebut mendapatkan perhatian dan apresiasi, bahan dasar itu seperti berjumpa bahan bakarnya. Apa itu bahan bakarnya? HARAPAN. Sampai suatu saat anak-anak dapat menemukan bahwa semangat hidupnya bisa berkobar dan menyala besar saat menyadari dirinya berharga sebagai seorang manusia. Bahwa ia PERLU dan BISA ADA (eksis) di tengah sesamanya. Sangat mengharukan saat adik-adik Sahaja dengan tegas berani berucap, aku ingin jadi presiden, yang satunya ingin jadi pedagang kaya yang bisa bantu anak-anak jalanan. Yang lain lagi ingin jadi Da'i, ada pula yang ingin jadi masinis, menggantikan ayahnya yang cacat karena kecelakaan kereta api. Saya hanya bisa tertegun mendengarnya. Di tengah segala kesulitan hidup yang menghimpit mereka, mereka justru punya visi hidup yang luar biasa.

Dari beberapa perjumpaan sebelumnya, saya mengalami beberapa hal yang serupa, kenapa akhirnya kesimpulan di atas ini muncul. Saya sempat berjumpa dengan Butet Manurung dan mendengar paparannya tentang Sokola Rimba. Sekolah yang diritisnya di kawasan Rimba Bukit Dua Belas di pedalaman Riau. Butet bercerita bahwa ia harus tinggal 8 bulan di dalam rimba sebelum ia diterima oleh masyarakat pedalaman untuk hidup bersama mereka dan mendidik anak-anak mereka. Contoh lagi, pendidikan yang berpijak atas cinta tak bersyarat.

Sekitar tahun 2005, saya pernah duduk dalam sebuah diskusi di Taman Budaya bersama anak-anak asuhan Sanggar Anak Akar - yang dirintis Romo Sandyawan di Jakarta. Merekapun anak jalanan. Duduk bersama saya seorang anak remaja berpenampilan 'punk' dengan pakaian serba hitam, asesoris tindik di mana-mana dan tato di lengannya. Sangat mengejutkan buat saya saat ia berbicara dengan begitu kritis dan cerdasnya. Bahkan melampaui rekan-rekan mahasiswa yang pernah saya fasilitasi di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi Swasta di Bandung. Sangat percaya diri, sangat menguasai apa yang dibicarakannya - padahal anak muda ini tidak pernah 'makan sekolahan'. Cerita punya cerita, Sanggar Anak Akar ternyata punya program-program pendidikan luar biasa, ada diskusi filsafat, kelas Bahasa Inggris dan lain sebagainya. Mereka hadir saat mereka merasa berminat dan memang ingin membangun dirinya. Mereka hadir di sana berpijak atas kemerdekaannya, atas keinginan dirinya lepas dari kungkungan situasi yang mereka rasakan sehari-hari. Mereka hadir bukan karena target nilai atau ranking, bukan karena kewajiban absensi dan kehadiran, mereka hadir karena mereka ingin belajar dan membangun diri mereka. Perjumpaan ini sangat berkesan, sehingga masih terbayang jelas suasana pertemuan hari itu.

Satu lembaga lain yang saya cukup kenal di Bandung adalah teman-teman di Rumah Musik Harry Roesli. Putra almarhum (Yala Roesli) dan teman-temannya meneruskan apa yang dibangun oleh ayahnya almarhum Harry Roesli. Almarhum - panggilan teman-teman di RMHR dengan tangan terbuka mengajak anak-anak jalanan dari beberapa tempat di kota Bandung untuk bermusik dan berkreasi. Sambil waktu berjalan, merekapun mendapat kesempatan untuk melihat dan mengalami banyak hal di luar realita keseharian mereka. Mereka berjumpa dengan para pendamping dan relawan yang mengenalkan mereka dengan potensi mereka yang sesungguhnya - menyirami mereka dengan harapan. Pada satu kesempatan, RMHR menggelar rangkaian pameran dan pagelaran yang menunjukkan potensi mereka yang luar biasa.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang berada di dalam sistem pendidikan formal? Mereka seakan beruntung setiap pagi berangkat ke sekolah dengan berseragam, bertahun-tahun menerima pendidikan alih-alih berkeliaran di jalananan. Yang perlu kita sadari, pendidikan formal justru mengungkung dan menekan kemerdekaan anak-anak kita. Kebanyakan anak-anak kita yang bisa duduk di bangku sekolah seakan digiring ke dalam satu lorong sempit yang menyamakan mereka ke dalam pola pikir dan sistem nilai yang serba seragam. Mulai dari seragam sekolah, berbaris masuk kelas, duduk di susunan bangku yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Rutinitas harian yang sama dari hari ke hari. Anak-anak digiring berpikir dalam kungkungan buku paket - dan menjawab pertanyaan pilihan berganda - dengan hanya ada satu jawaban yang benar. Mereka dinilai, dievaluasi, dirunutkan dalam satu sistem rangking yang melarutkan hakikat mendasar mereka sebagai manusia. Hal ini berjalan dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, selama anak duduk di bangku sekolah. Pendidikan (formal) justru mencerabut mereka dari kemanusiaan mereka. Coba saja tanya cita-cita anak-anak yang duduk di sekolah formal. Mereka akan menjawab "tidak tahu" atau menjawab normatif tanpa tahu betul apa makna jawaban mereka.

Keberlimpahan dan (seakan) banyaknya pilihan justru menjadikan mereka tidak sensitif terhadap kehidupan dan kemerdekaan mereka sebagai manusia.. Anak-anak muda kita yang berkecukupan dan berkesempatan sekolah justru menjadi pragmatis... sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, menafkahi keluarga... that's it!  Lalu apa sumbangsih mereka bagi kehidupan kalau pola pendidikan kita menghantar anak-anak kita dalam satu pola pikir yang sangat egosentris.

Ada sesuatu pada akhirnya yang sangat bertentangan dengan hakikat KEHIDUPAN - anugerah dan karunia Tuhan yang begitu kaya dengan dinamika yang tak terhingga. Ada pola pikir yang salah besar dalam sistem pendidikan kita. John Dewey menggaris-bawahi hal ini dengan bernasnya :  
"Education is not preparation for life. Education is life itself"

Tulisan ini saya dedikasikan untuk rekan Inun dan Fajar, dua rekan relawan Rumah Belajar SAHAJA yang pernah saya jumpai langsung dan berbincang dengan saya. Suatu kehormatan bagi saya berjumpa dengan kalian mewakili teman-teman SAHAJA yang belum pernah saya jumpai secara langsung. Indonesia beruntung bahwa masih banyak anak-anak muda yang membawa bersamanya Cinta Tak Bersyarat buat bangsanya. Untuk anak-anak Sahaja, kalian menjadi terang dalam kegelapan, yakinlah bahwa merekapun - suatu saat nanti - akan menjadi terang dalam kegelapan. Terima kasih atas segala inspirasinya.

Saturday, March 17, 2012

Refleksi Bincang Edukasi #5 di Bandung


Pagi – siang tadi, saya hadir di Bincang Edukasi di Bandung. Bertempat di Boemi Nini, sebuah tempat yang walaupun kecil suasananya nyaman dan ngendonesia sekali. Pengunjung kabarnya ada seratusan lebih, di luar perkiraan panitia yang menduga akan dihadiri sekitar 70-an pengunjung. Pengunjung duduk lesehan, sebagian di atas tikar di lapangan rumput. Asik. Di hari ini ada empat orang yang diminta berbagi secara singkat tentang visi dan proses menjalankan sesuatu dalam konteks pendidikan. Sebuah forum yang saya pribadi melihat sangat dibutuhkan sebagai wadah saling berbagi dan saling belajar untuk memperbaiki dunia pendidikan di Indonesia.

Sesaat sebelum giliran saya berbagi, saya baru menyadari kecermatan teman-teman kurator (Deta Ratna Kristanti dan Ardanti Andiarti) memilih para pembicara. Disadari atau tidak presentan (terlepas dari apa yang dibicarakannya) mewakili wilayah pendidikan yang berbeda. Puti bercerita tentang Rumah Mentari, bagaimana Puti dan teman-temannya menyentuh anak-anak yang seakan tidak tersentuh pendidikan yang semestinya. Rumah Mentari dikembangkan di daerah Dago Utara, bersama teman-teman volunteer – berbagi cahaya dan semangat untuk anak-anak untuk bisa belajar banyak hal. Kandi dan Komunitas Sahabat Kota beranjak dari keprihatinan atas kota Bandung yang tidak lagi ramah dan semakin berjarak dari warga kotanya – khususnya anak-anak. KSK menggerakan sesama muda melakukan hal positif menjadi fasilitator dan mendampingi anak-anak di Bandung untuk mengenal kotanya lebih dekat. Anyi dan Ibut datang dari sudut pandang yang sangat berbeda – bergerak dari bagaimana musik menjadi komoditi industri – bukan lagi sebagai media ekpresi dan mengapresiasi kehidupan – terutama dalam proses pendidikan anak-anak. Save Our Music – musik kitapun harus kita selamatkan. Sedangkan saya berbagi cerita bagaimana Rumah Belajar Semi Palar dibangun agar menjadi wadah pendidikan anak-anak secara utuh (holistik) – supaya anak-anak bisa berkembang dengan segala potensinya secara utuh – di dalam sebuah lembaga pendidikan formal (sekolah).

Dari sudut lain, segala keprihatinan yang mendorong teman presentan untuk melakukan apa yang dilakukannya sekarang di komunitas / institusinya seperti menjadi gambaran bagaimana dunia pendidikan di Indonesia memiliki masalah di berbagai sudutnya. Bahkan untuk anak-anak yang memiliki kesempatan bersekolah. Dunia pendidikan memang kompleks luar biasa. Sepintas tampak sederhana dan sangat terprediksi segala sesuatunya. Tapi dengan mudah kita menemukan sudut-sudut yang bermasalah, tidak terperhatikan, atau perlu dibenahi. Ibarat puncak gunung es yang bisa kita lihat / amati di atas permukaan, sementara kita tidak tahu apa yang tersembunyi di kedalaman lautan. Kita perlu mengatasinya bersama, bekerja sama mengolahnya dari berbagai arah. Kenapa forum-forum seperti ini jadi kebutuhan besar bagi banyak dari kita, semestinya karena memang pendidikan di Indonesia dalam banyak hal harus diperbaiki.

Satu hal yang menjadi kesamaan adalah teman-teman semua (termasuk Rumah Belajar Semi Palar) mengawali langkah dengan berpijak dari sebentuk keprihatinan. Saya yakin teman-teman presentan (Puti, Kandi, Anyi dkk.) ingin membagikan hal yang sama, apapun yang bisa kita lakukan, di manapun adanya, bagaimanapun caranya, sebesar atau sekecil apapun, mendidik, membangun orang lain adalah hal sangat bisa kita lakukan. Kalau kita punya secuil keprihatinan, kita perlu berhenti mengomel atau berkeluh kesah dan melakukan sesuatu yang nyata, melalui apa yang kita bisa.  Seperti kata Anyi, daripada kita berpikir mencari-cari apa yang mendorong kita harus melakukannya, kita perlu berpikir sebaliknya, hal apa yang membuat kita tidak berbuat sesuatu?

Saya pribadi berpikir, kalau pertemuan-pertemuan semacam ini bisa menyalakan sepercik semangat dan keyakinan dalam diri teman-teman yang hadir, memberikan seberkas inspirasi dan motivasi untuk mulai melakukan sesuatu – melalui pendidikan, forum ini sudah memberikan hasilnya. Sebesar apa hal yang dilakukan saya kira hal itu tidak penting. Kalaupun ada seorang yang terinspirasi untuk mendampingi satu orang di luar dirinya (misalnya seorang anak di lingkungan sekitar rumah tinggal kita) saya kira hal itu sudah luar biasa. Kita bisa menjadi cahaya cahaya buat lingkungan sekitar kita. Memang di akhir pertemuan saya dan beberapa teman sempat berbincang dan beberapa teman bercerita tentang apa yang sudah dan ingin mereka lakukan. Senang sekali saya mendengarnya.

Suatu kehormatan bisa berbagi di Bincang Edukasi. Sebuah forum terbuka untuk pendidikan Indonesia yang diinisiasi Kreshna Aditya dan teman-teman. Sungguh menyenangkan melihat bahwa semua yang hadir membawa sesuatu ke pertemuan tadi. Ada satu energi yang mengikat semua yang hadir tadi. Saya yakin apa yang mendorong semua yang hadir di forum tadi, mulai dari para pengunjung, kurator, presentan, adalah semangat untuk pendidikan Indonesia. Bagaimanapun caranya, sebesar apapun skalanya. Terima kasih buat semuanya.



Thursday, March 8, 2012

menuju Earth Hour 2012 : sebuah refleksi

Hari Minggu yang lalu, tanggal 4 Maret 2012, sekelompok manusia berkaos hitam bergambar huruf besar 60+ berkumpul di area Car Free Day - Dago. Tulisan ini bukan melambangkan usia 60 tahun ke atas, tapi kelompok ini berada di sana untuk mengampanyekan gerakan global Earth Hour... 60 menit dari waktu kita untuk sebuah langkah bersama membangun kesadaran tentang planet kita, planet bumi : Earth Hour.

Sederetan teks pendek di layar hape-ku yang aku terima dari seorang teman mendorong aku untuk menuju ke tempat yang sama. Pagi-pagi sepeda kesayangan aku siapkan dan menggoweslah aku ke Dago untuk bergabung dengan teman-teman di sana.

Sudah sejak tiga tahun ini aku bersama keluargaku di rumah ikut mematikan lampu - satu jam dari jam 20.30 sampai jam 21.30, seperti jutaan manusia penghuni bumi di banyak tempat di seluruh dunia... Sepertinya bukan hal sulit, tapi dilihat-lihat tidak banyak juga yang melakukannya. Banyak wajah-wajah penuh tanda tanya (dan curiga) yang muncul pada saat mereka bertemu dengan para volunteer Earth Hour ini. Tentunya ini menjadi alasan utama kenapa rekan-rekan dari berbagai komunitas - maupun individu berkeliaran di Dago membawa papan2 informasi dan mengajak pengunjung Car Free Day untuk paling tidak mulai mengenal apa yang disebut Earth Hour... 

teman-teman volunteer Earth Hour 2012

komitmen-komitmen yang diberikan untuk Earth Hour dan gerakan hemat energi...

Pak Sariban, tokoh lingkungan hidup kota Bandung yang membawa semangat luar biasa...
Buat aku pribadi, Earth Hour akhirnya bukan sekedar mematikan lampu. Waktu 60 menit ini setiap tahun ibarat menjadi momen perenungan, kontemplasi, tentang relasi aku sebagai manusia-satu individu penghuni planet bumi dengan planet bumi yang menjadi tempat berpijakku sepanjang hidup. Memang menjadi pas, saat kita mematikan lampu dan segala peralatan elektronik. Suasana menjadi hening, gelap... beralih dari suasana yang biasanya didominasi benderang cahaya lampu, kilau layar bergambar dan segenap suara yang muncul dari kotak kaca di ruang keluarga...

Saat kita mematikan lampu dan segala peralatan elektronik, seakan kita kembali ke situasi primitif saat  setiap malam setelah beraktifitas manusia berada dalam situasi hening, kontemplatif, di mana dengan segera manusia merasa kecil berada di tengah kebesaran alam semesta dan Sang segala Pencipta. Teknologi memang mudah membuat manusia menjadi pongah dan arogan, karena manusia menjadi mampu memotong jarak, menghilangkan waktu, membongkar keheningan, merasa kuat dan perkasa. Akibatnya, manusia jadi kehilangan kebijaksanaannya, lupa diri, lupa pada kedebuannya. Lupa bahwa manusia adalah hanya sebagian kecil dari kebesaran alam semesta dan penciptanya... 

Konon planet bumi-pun punya jiwa, punya spirit, apa yang dikenal sebagai Gaia. Bumi adalah sesuatu yang 'hidup'. Aku percaya itu. Karenanya apabila kita tidak cukup memberi perhatian untuk planet kita ini, relasi kita akan terputus, dan siklus kehidupan (circle of life) pada akhirnya akan terganggu juga. Global Warming adalah salah satu gejalanya. Aku sering mengistilahkannya sebagai bumi yang sedang sakit (meriang) - sedang demam. Karena kita semua, umat manusia melalui segala bentuk aktifitasnya terus memborbardir planet bumi sendiri dengan racun dalam berbagai bentuk limbah. Sementara organ-organ tubuh yang penting buat planet bumi terus kita hilangkan keberadaannya (fungsinya) - seperti gambar di samping ini. Hutan (paru-paru dunia) terus rusak, sampai suatu waktu bumi termasuk segala mahluk hidup di atasnya tidak bisa bernafas lagi... Melelehnya tumpukan es di kawasan Kutub Utara yang berfungsi sebagai regulator suhu bumi sekaligus meregulasi iklim bumi melalui pergerakan air laut di samudera-samudera di berbagai bagian bumi menjadi penyebab krisis iklim. Bencana alam yang semakin hari semakin kerap dan tidak terprediksi. Bumi kita sedang sakit.

Manusia perlu kembali ke kesadaran mendasar bahwa ia adalah bagian dari jejaring kehidupan di bumi dan alam semesta ini. Manusia bukan penguasa planet bumi, bukan pemiliknya, ia tidak berdiri di puncak piramida kehidupan di planet bumi, tapi bagian dari lingkaran / jejaring mahluk hidup di dalamnya. Manusia dengan anugerah kecerdasannya, semestinya mampu menjaga dan memelihara bahwa lingkaran kehidupan semua mahluk di planet bumi ini tetap lestari, alih-alih menguasai dan mengekploitasi planet bumi dan segala isinya. Kalau direnungkan, manusia-lah satu-satunya spesies mahluk hidup yang meracuni dan merusak tempat hidupnya sendiri. Betapa arogannya kita umat manusia...
manusia adalah bagian dari lingkaran kehidupan di muka bumi ini...
Entah seberapa jauh Earth Hour ini bisa membangun kembali kesadaran kolektif kita mengenai keberadaan manusia di planet bumi ini. Kalau kita di seluruh muka bumi berhasil bersepakat, bergerak bersama untuk mematikan lampu dan peralatan listrik walaupun hanya satu jam, ini menjadi sebuah penanda yang menggembirakan. Bisa jadi ini juga mencerminkan kesadaran kita bersama tentang ketidak-bijakan kita mengenai pemakaian energi - yang melukai dan merusak tempat hidup kita sendiri. Kalau memang itu perkaranya, tampaknya kita masih punya harapan, planet bumi ini masih punya harapan. Mudah-mudahan.

Sunday, January 15, 2012

belajar etos kerja dari montir bengkel

Sudah hampir 3 minggu, AC mobilku rusak. Sadar betul sih pemakaian AC itu tidak ramah lingkungan, tapi ternyata kendaraan2 jaman sekarang tidak dirancang agar dapat digunakan tanpa AC. Begitu AC rusak, jendela ditutup di saat hujan turun, kaca jendela jadi berembun dan kita tidak bisa melihat keluar... Mobilku yang dulu, VW kodok tahun 68, aman-aman saja saat dikendarai tanpa AC (karena memang tidak ada AC-nya) saat hari hujan. One ingenious design, that Volkswagen.


Tapi ini bukan cerita tentang mobil. Sabtu kemarin aku membawanya ke satu bengkel kecil di Jln. Abdurrahman Saleh. Bukan Authorized Service Center, bukan bengkel resmi maksudnya, tapi penanda di depannya menyebutkan Service AC. Akupun ke sana di pagi hari dan disambut dua orang montir dengan pakaian khasnya (werkpak) menanyakan apa yang perlu dibantu.

Di awal sepertinya biasa-biasa saja. Cukup meyakinkan kelihatannya, tapi mulai berbeda saat mereka mulai membongkar bagian bagian dari komponen AC yang bermasalah. Dua montir ini, pak Enjang dan kang Toni, mulai memperlihatkan keahliannya. Tapi bukan sekedar keahliannya, tapi juga kehati-hatian mereka terhadap yang dilakukan. Teliti, berhati-hati, sabar... Etos kerja yang sudah tidak lagi banyak terlihat. Mereka menggunakan alat yang tepat untuk berbagai kegiatan. Sangat teliti, bahkan mereka mencatat, beberapa sekrup yang sudah tidak lagi lengkap. Hal yang sudah semakin sulit kita temukan.

Sehari kemarin, mereka kerja penuh, bahkan melewatkan waktu istirahatnya. Hal-hal kecil yang sebetulnya bukan pekerjaan mereka-pun sempat mereka perhatikan. Sekrup yang tidak ada dilengkapi. Jalur-jalur selang yang sudah berubah dikembalikan ke posisinya semula. Mereka bekerja sangat fokus. Profesional. Saluran-saluran AC yang dibersihkan tidak ada yang terlewat bahkan untuk posisi-posisi yang sulit dijangkau atau dikerjakan sekalipun. Mereka bahkan sempat menawarkan untuk membubuhkan pewangi kendaraan di dalam saluran AC untuk menghilangkan bau bensin yang dipakai untuk membersihkan saluran-saluran AC. Setelah selesai, semua bagian mobil yang kotor karena tangan-tangan mereka yang berminyak mereka bersihkan.

Di akhir hari, setelah pekerjaan semua selesai, mereka baru bercerita, "biasana mah dinten Sabtu tos beres tabuh tilu-an, Pa." sementara waktu sudah menjelang 5 sore. Yang menarik buat aku, hari itu bos mereka tidak ada di tempat sejak awal sampai selesai mereka mengerjakan semuanya. Tidak ada yang mengawasi, tapi mereka melakukan pekerjaan dengan cara bekerja yang buat aku cukup mengagumkan.

Jadi ya begitulah, satu hari itu walaupun aku harus 'nongkrong' di bengkel seharian, aku belajar sesuatu dari teman2 baru, dua orang montir yang setelah satu hari menjadi teman ngobrol dan jadi guruku hari itu. Semoga aku ingat pengalaman hari ini, saat menyalakan kembali AC mobil yang sudah kembali jadi dingin.

Saturday, January 14, 2012

menerima, belajar dan berbuat


Menerima, to accept atau nrimo (boso jowo) rasanya jadi kata kunci dari seluruh proses yang aku jalani selama membawa Rumah Belajar Semi Palar sampai di titik ini. Kata kedua yang sejak dulu berusaha aku pegang adalah belajar. Pertama, pembelajaran adalah sesuatu yang berjalan sepanjang hayat. Ditambah lagi, bahwa Semi Palar menjadi pilihan untuk memfasilitasi pembelajaran anak-anak tentunya hal belajar menjadi esensi dari segala apa yang kita lakukan di dalamnya. Seperti kata Bpk. Komaruddin Hidayat, “guru (pendidik) yang berhenti belajar harus berhenti mengajar”. Kalimat ini adalah oleh-oleh para kakak (Kak Caroline, kak Wienny dan kak Taufan) dari Konferensi Guru Nusantara bulan November 2011 yang lalu di Jakarta. Lalu belajar apa? Nah ini sangat berkaitan dengan kata pertama ‘menerima’. Menerima bahwa segala sesuatu yang masih belum, kurang atau tidak semestinya, semuanya adalah bahan pembelajaran buat kita. Untuk menerima, tentunya kita harus sangat terbuka terhadap hal-hal tersebut. Setelah mampu menerima, kita baru punya peluang untuk belajar. Kemudian setelah belajar dengan mengolah, memahami dan menghayati tentunya kita harus belajar untuk berbuat – melakukan sesuatu.

Menerima kemudian aku sadari berkaitan erat juga dengan hal mensyukuri. Hal ini juga menjadi bahan renungan dan banyak obrolan di jeda akhir tahun ini. Pada saat kita tidak menerima suatu situasi, akhirnya memang tidak mungkin juga kita mensyukurinya. Kalau kita yakini bahwa segala sesuatu yang terjadi membawa makna (everything happens for a reason) tentunya segala sesuatu peristiwa itu baik adanya. Akupun semakin menghayati bahwa segala proses yang berjalan sudah ada yang mengaturnya; akhirnya semua kembali ke sejauh mana aku bisa menghayati situasi-situasi yang ada, dan melangkah.

Biasanya kita hanya bersyukur atas hal-hal yang baik yang kita terima atau alami.  Jarang sekali kita mensyukuri hal-hal yang sebaliknya. Kesadaran kita akan kekurangan yang ada adalah pijakan luar biasa yang disediakan bagi kita untuk melangkah maju. Kita juga sering lupa mensyukuri hal-hal yang biasa. Hal-hal sehari-hari yang rutin dan senantiasa ada di depan kita sering lepas dari perhatian kita. Kita mudah sekali untuk ‘taking things for granted’. Tapi sepertinya begitulah manusia. Kalau direnungkan kembali, bahwa Semi Palar – dengan segala kekurangannya – di tahun ini masih diberi kesempatan untuk sehari-hari memfasilitasi anak-anak yang semangat belajar untuk terus berkembang – menemukan bintang mereka masing-masing, adalah sesuatu yang luar biasa. Dan selama eksistensinya, menerima, belajar dan berbuat adalah jadi kata-kata kunci yang terus harus dihayati.

Aku meyakini, segala kesulitan dan tantangan yang ada adalah satu paket dengan pilihanku di titik awal perjalanan ini, bahwa ini adalah arah perjalanan yang aku ambil. Aku berdoa semoga semua teman2 yang juga memilih untuk melangkahkan kaki di jalan yang sama : menjadi pendidik di Semi Palar bisa menghayati hal yang sama juga.
Catatan pendek ini aku jadikan posting pertama di tahun 2012. Semoga semua yang berjalan di tahun ini bisa aku jalani berdasarkan keikhlasan menerima, belajar dan berbuat.

Thursday, December 8, 2011

Guru, Prajurit dan Ulama


Tulisan ini terinspirasi dari obrolan beberapa minggu lalu di kediaman Abah Iwan bersama Abah, kang Erik, kang Aat, mas Ipong, dan mas Imam Suryantoko. Saya kebetulan mampir ke tempat Abah dalam rangka minta kesediaan beliau sharing di Semi Palar kepada orang tua – sebagai para pendidik.

Abah berkisah bahwa masyarakat Baduy Dalam, misi hidupnya adalah "tapa saendeng-endeng kanggo bangsa jeung nagara"; (mudah-mudahan saya tidak salah tulis). Terjemahan bebasnya kira-kira, bertapa seumur hidup bagi bangsa dan negara. Buat saya ini sesuatu yang luar biasa mengetahui ada sekelompok kecil masyarakat tradisi yang secara sadar menentukan – secara kolektif – pilihan hidupnya adalah untuk keberlangsungan suatu bangsa. Dalam pola pikir masyarakat modern, sekilas hal ini akan tampak konyol, bahkan bodoh, tidak masuk akal.

Obrolan kamipun berlanjut, sampai akhirnya muncul semacam kesimpulan, bahwa semestinya ada tiga komponen bangsa yang seharusnya berperan seperti masyarakat Baduy Dalam itu : Guru, Prajurit (militer) dan Ulama. Kalau ketiga komponen bangsa ini bisa kuat, kokoh, mereka inilah yang akan menjadi pilar utama konstruksi sebuah bangsa agar bisa menjadi bangsa yang kuat dan besar. Tapi kemudian tantangannya menjadi luar biasa, ibarat apa yang diungkapkan masyarakat Baduy Dalam sebagai "tapa saendeng-endeng kanggo bangsa jeung nagara". Perlu ada kesadaran diri luar biasa bahwa apa yang dilakukan sebagai pilihan hidup adalah bukan untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk kepentingan individu, tapi untuk orang lain untuk lingkaran di luar diri mereka… Seperti mas Anies Baswedan (pendiri gerakan Indonesia Mengajar) mengistilahkan para guru sebagai orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

bersambung...