Saturday, November 14, 2009

The Story of Stuff

this is an important website to look at. there are things we are taking for granted related to our lifestyle, our understanding of all the stuffs around us. we are not paying the full price of most of the stuffs that we pay.
we need to be better informed. check-out the site, get educated...

">

Sunday, November 8, 2009

gersangnya Bandung Utara





gambar ini diambil waktu pergi bersepeda bersama rombongan B2W setelah Idul Fitri tahun 2008. Ceritanya silaturahmi di atas sepeda... Dalam perjalanan sebelum gowes inilah yang saya lihat. Lokasinya adalah di daerah utara Padasuka (jalan masuk ke Saung Udjo)
Menghawatirkan sekali. Dan ini adalah bagian kecil Bandung Utara yang kebetulan terlihat.
Kabarnya bagian2 yang lain sama juga kondisinya. Apa yang bisa kita lakukan?
Tidak heran kota Bandung semakin panas...

Wednesday, October 28, 2009

kusir delman

kusir delman

Waktu gambar ini aku ambil, posisi si bapak cukup jauh, ada di seberang jalan. waktu itu aku sedang berhenti di tengah keramaian Malioboro. Entah kenapa pandangan aku tertarik ke bapak ini. Mungkin ekspresi wajahnya, entah apa...
Kamera aku nyalakan dan mencoba mencari momen di tengah seliwerannya kendaraan di antara aku dan si bapak ini.
Entah kenapa wajah2 seperti ini selalu banyak bawa kesan, mungkin karena raut wajahnya merefleksikan pengalaman hidupnya sampai saat ini, seperti sketsa yang muncul dari garis-garis di wajah mereka...

Sunday, October 18, 2009

350 Riders

Saturday, October 10, 2009

Star Tux -- haha so funny!

Friday, October 9, 2009

oma tua dan nona pengendara CRV

Kita lagi di jalan menuju suatu tempat dan mampir di depan warung Mie untuk beli dua bungkus Yamien pesanan seseorang. Saat itu kita di Jalan Sadewa. Lyn turun untuk beli Mie Baso, akupun cari tempat teduh untuk parkir di tepi jalan. Setelah parkir, buka jendela mobil dan menunggu Lyn selesai 'bertransaksi'.

Sambil SMS-an, akupun melihat di spion, seorang oma tua berjalan pelahan di sebrang jalan. Dengan dandanan tipikal oma2 yang klasik: pake sendal jepit, memegang payung di tangan kirinya karena hari panas, tangan kanannya membawa keranjang belanja yang ditutup lap serbet kotak2, entah apa isinya...

Sebentar kemudian aku mendengar suara klakson berulang2. DIN, DIN-DIN, DIN... seperti orang yang tidak sabar. Aku liat di spion lagi, sebuah mobil CRV warna silver ternyata mengelaksoni si oma tadi yang memang sedang melewati beberapa mobil yang diparkir di pinggir jalan. Klakson CRV itu bunyi terus, memang jelas pengemudinya ga sabar, karena dia tidak bisa melewati si Oma yang berjalan pelan tadi...

Akhirnya si Oma itupun bergeser ke pinggir jalan dan mobil CRV itupun berlalu tancap gas melewati mobilku. Pengemudinya, seorang nona modis berkacamata hitam, yang sedang asik ketawa-ketiwi ngobrol menggunakan hapenya...

Ya ampuun, kok bisanya ya? si nona meliat oma tua tadi sebagai apa ya? Atau jangan2 sama sekali tidak nampak di matanya? Kesannya hebat sekali ya dia, dan sudah hilang sama sekali respeknya terhadap orang lain, seorang ibu yang sudah sepuh, yang berjalan-pun sudah susah, di tengah terik siang hari, sementara si nona tadi tanpa sedikitpun peduli hanya merasa bahwa ada orang lain yang menghalangi jalan mobilnya... Masih adakah yang namanya kepekaan, respek dan empati?

Kalau itu potret masyarakat kita, generasi muda kita, mau jadi apa bangsa kita? Mudah2an peristiwa yang aku saksikan itu hanya satu peristiwa saja.





Powered by ScribeFire.

Thursday, September 17, 2009

bertautan

bertautan
dah lama ga posting jepretan2 iseng aku. yang ini aku potret di rumah.
kebetulan jadi sesuatu yang menarik perhatian saat bilah2 daun palem sebelum daunnya betul2 mengembang
masih terikat satu sama lain...



Sunday, August 16, 2009

Burung Gereja dan Senapan Angin

Sore hari sepulang aku dari Smipa, anak2 sudah menunggu di depan pintu garasi. Dengan hebohnya mereka meminta aku bergegas turun dan menunjuk ke arah atap gudang sambil bercerita tentang seekor burung gereja yang terluka dan hinggap di sana karena tidak bisa terbang ke mana-mana. Mereka ribut bahwa burung gereja itu luka karena ditembak seseorang. Di sebelahnya terlihat ada lagi seekor burung gereja yang sudah mati beberapa hari yang lalu. Kabarnya karena penyebab yang sama. Anak2 terus meminta aku naik ke atap untuk menolong burung yang masih hidup. Akhirnya aku-pun naik ke atap dan mengambil kedua burung malang itu. Saat mendekat memang mengenaskan sekali, burung yang masih hidup tertembak di bagian kepalanya, bagian mata kiri-nya hancur. Anehnya burung itu masih hidup, waktu aku berusaha menangkapnya, burung itupun masih meronta, badannya masih kuat. Setelah aku menggenggamnya, burung gereja itu-pun mulai tenang.

Lalu akupun mengajak Rico untuk mencari siapa yang bermain senapan angin dan menembaki burung2 gereja itu. Kami-pun berusaha mencari tahu dari petugas keamanan di lingk
ungan kami. Setelah berkeliling dan menemukan siapa yang melakukannya, aku-pun memberanikan diri untuk menegur dan memintanya untuk tidak menjadikan burung gereja sebagai sasaran tembaknya.

Yang bikin aku bingung, kenapa hal sebesar ini, menghilangkan nyawa mahluk hidup - yang tidak berdosa - dan sedikitpun tidak mengganggu, sepertinya ini sesuatu yang sama sekali biasa. Beberapa orang yang aku temui seakan bingung saat aku bilang bahwa aku akan mencoba menyelamatkan burung yang terluka itu. Sehari kemudian, burung yang terluka itupun akhirnya mati, setelah Inka berusaha menyiapkan kandang kecil, tempat tidur, makanan dan air minum untuknya.

Aku sama sekali ga tau apa yang  aku, Rico dan Inka capai dari segala kerepotan dan kehebohan di sore itu. Mudah2an sedikitnya tersampaikan ke beberapa orang bahwa seharusnya kita tidak memperlakukan sesama mahluk hidup sesuka hati kita. Apakah faham atau tidak, aku tidak akan pernah tahu. Buat anak2ku, mudah2an aku sedikitnya mengajak mereka mengalami bahwa mahluk2 hidup yang tidak bisa membela diri kadang perlu pertolongan kita juga. Dan kita, sedikitnya bisa melakukan sesuatu. Mudah2an pengalaman sore itu bawa secuil pembelajaran buat mereka.


Bandung MACET! : hilangnya hak warga Bandung

Weekend ini memang long weekend sehubungan dengan libur 17-an. Dan seharusnya kita sudah tahu bahwa Bandung akan padat - sudah biasa...
Tapi sore kemaren memang luar biasa. Bete banget. Perjalanan dari Pajajaran ke Setiabudi bisa makan waktu hampir 2 jam.
Jalanan padat dipenuhi mobil2 berpelat nomor luar kota. Lalu kita jadi berpikir. Kok kita sebagai warga kota jadi kebagian ga enaknya. Yang enak hanya yang empunya hotel, resto, FO dan tempat rekreasi - mereka yang secara langsung dapat keuntungan besar dari ramainya kota Bandung. Lalu bagaimana dengan sisa warga kota yang lain. Kita hanya kebagian macet, polusi dan sampah yang ditinggalkan orang2 yang datang dari kota lain. Beban lingkungan hidup? Sudah pasti lebih banyak, semakin berat. Padahal sekarangpun di hari2 kerja kota Bandung sudah sangat padat. Semestinya lingkungan kota-pun perlu punya waktu untuk istirahat...
Lalu untuk warga kota ga nyaman? Udah pasti banget...

Memang orang2 Jakarta banyak yang mampir Bandung karena kotanya sendiri ga nyaman. Tapi gimana dengan kita yang kotanya sebetulnya cukup nyaman, tapi kemudiani jadi ga nyaman karena diserbu orang2 luar kota. Banyak dari kita yang jadinya hanya memilih untuk tinggal di rumah. Dan situasi ini semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Mencari SOLUSI?
Apa yang bisa kita lakukan? Apa yang seharusnya pemerintah kota lakukan? Seharusnya ada sesuatu yang bisa dilakukan supaya situasi ini menguntungkan semua pihak dan bukannya merugikan sebagian besar warga kota. Tapi masalahnya apakah pemkot memikirkan hal ini? Mungkin juga mereka ga pernah kena macet ya karena pejabat kota kalo ke mana2 pasti dikawal fore-rider... Melihat ke depan jangan2 ini bakalan semakin sulit diantisipasi kelewat buruk. Saat ini pun sudah sulit membayangkan solusinya apa yang mungkin. Bisa ga sih pemkot membatasi mobil wisata luar kota misalnya hanya di minggu pertama dan ke tiga, supaya warga kota Bandung punya waktu untuk menikmati kotanya sendiri.
Mungkin ga pemkot memberlakukan semacam tiket masuk kota Bandung (Bandung sebagai kota wisata), supaya pemkot punya dana tambahan untuk pembangunan kota atau fasilitas2 umum yang diperuntukkan meningkatkan kenyamanan warga kota atau para wisatawan. Untuk membangun tempat parkir di kawasan Cihampelas misalnya, memberlakukan area pejalan kaki di area2 tertentu, transportasi umum yang lebih OK, dll. Pemkot punya dana, masyarakat Bandung bisa dapat fasilitas baru dan Bandung pun lebih maju.

Pertanyaannya, akankah ada kepedulian ke sana?


Saturday, August 8, 2009

Sharing di Refresher's Training Ibu2 Asuh SOS Kinderdorff



Hari ini aku diminta sharing di SOS Kinderdorff, membawakan materi tentang 'Interaksi Dengan Anak Sebagai Wujud Cinta'. Waktu tau kepada siapa aku diminta sharing aku bingung juga. Apalagi setelah dengar temanya. Tugas berat. Aku tau persis ibu2 asuh di SOS Kinderdorff melakukan apa yang mereka lakukan pastinya karena cinta. Apalagi yang bisa memotivasi mereka mendedikasikan hidupnya untuk menjadi seorang ibu dari anak2 yang bukan anak kandungnya. Anak-anak yang ditinggalkan atau kehilangan orangtuanya sejak bayi atau di usia yang lebih dewasa. Apapun itu, pastinya ada luka di diri mereka dan aku yakin apa yang diberikan oleh SOS Kinderdorff melalui para ibu asuh akan sedikit banyak mengobati luka itu...

Sabtu pagi harinya aku masih bingung mau ngomong apa, apa yang bisa aku sharingkan, karena memang walaupun ada sedikit2 yang aku tahu tentang pendidikan, situasi para ibu dan apa yang aku kerjakan sehari2 sangat berbeda : para ibu sebagai ibu rumah tangga dan Semi Palar adalah sebuah sekolah. Tapi toh kita pasti bicara soal pendidikan, mendewasakan anak2 kita masing2 dengan cara kita masing2. Dan yang aku pikir bisa nyambung adalah proses belajar sebagai sebuah proses penemuan diri. Walaupun proses penemuan diri adalah suatu yang penting / esensial untuk setiap individu, aku pikir justru lebih demikian untuk anak2 asuh Kinderdorff. Mereka harus mampu memahami / memaknai jalan hidup mereka yang hampir pasti bawa pertanyaan atau kesedihan buat mereka. Tapi toh semua peristiwa ada maknanya. Setiap kejadian ada tujuannya. Dan untuk mereka ini jadi sesuatu yang penting dan sangat menentukan untuk perjalanan mereka menjadi dewasa. Tapi dari cerita2 yang aku dapat, banyak kisah hebat dari anak2 asuh Kinderdorff. Apakah jalan hidup mereka lebih sulit, mungkin ga juga, karena pada saat kekosongan diri mereka ada yang mengisi, ada yang melengkapi, kesadaran diri mereka jangan2 bisa lebih mudah mereka temukan.

Seperti yang sempat aku ungkapkan kepada para ibu, bahwa di keluarga2 yang serba berkecukupan bahkan berkelimpahan, banyak anak justru tidak memperoleh hal esensial bagi proses penemuan diri mereka : cinta kasih dan perhatian dari orangtuanya.


Berada di tengah ibu2 asuh ini (yang datang dari banyak daerah, termasuk Bali dan NTT - Flores) aku banyak dapat kesan luar biasa. Di balik kesahajaan beliau2 ini, aku melihat kedalaman pemikiran para ibu ini. Buat aku ini pengalaman luar biasa. Momen pembelajaran yang besar buat aku. Cerita mereka dan pertanyaan2 yang diungkapkan menggambarkan kepedulian yang besar untuk anak2 yang mereka dampingi.

Makasih untuk Hadi, Banteng & Monic yang memberi saya kesempatan.