Saturday, December 7, 2013

[berbagi gagasan] Kartu Pesepeda Bandung

Sejak awal, sudah terbaca jelas visi Pemkot Bandung di bawah pimpinan Ridwan Kamil untuk menjadikan kota Bandung ramah pesepeda. Sasaran-sasarannya saya kira sangat jelas dan logis, salah satunya untuk mengurangi kepadatan kendaraan bermotor pada saat yang sama mengurangi konsumsi BBM dan emisi CO2 yang hari demi hari bertumpuk dan meracuni kita sendiri warga kota Bandung.

Belajar dari kota-kota terbaik di dunia, seperti Melbourne, Copenhagen, Amsterdam, mereka punya budaya bersepeda dan pejalan kaki yang sangat tinggi. Ruang kota nyaman dan tertata baik, dan memang memanjakan warga pejalan kaki (pengguna angkutan umum) dan pesepeda dengan segala fasilitasnya.

Menuju ke sana memang tidak mudah, tapi layak diperjuangkan. Memotivasi berbagai lapisan masyarakat untuk bersepeda saya kira menjadi salah satu kuncinya. Saya sendiri yang sejak tahun 2006 berusaha memaksimalkan diri bersepeda untuk bepergian di Bandung mengalami kendala besar dalam hal keamanan bersepeda di jalan raya. Lambat laun memang kita akan terbiasa dan akan menemukan cara untuk mengatasi situasi lalu lintas yang sangat padat dan sangat menantang bagi para pesepeda. Bagaimanapun ini akan menjadi kendala terbesar bagi para pemula, dewasa, apalagi anak-anak.

Yang saya kira penting dilakukan sejalan dengan segala kampanye dan gerakan yang sudah digaungkan adalah bagaimana  membangun persepsi masyarakat bahwa Pemkot Bandung serius dengan gerakan ini dan mendukung mereka yang sudah dan ingin bersepeda di kota kita ini - yang notabene banyak sekali sumbangsihnya terhadap upaya menjadikan kota Bandung nyaman bagi segenap warganya.

Salah satu yang terpikirkan oleh saya adalah apakah mungkin PemKot Bandung menerbitkan sejenis kartu tanda pesepeda bagi setiap warga Bandung yang menggunakan sepeda. Kartu Tanda ini dikaitkan dengan semacam jaminan keamanan dalam bentuk 'asuransi' saat pesepeda tersebut mengalami kecelakaan di jalan raya. Pemkot dapat mengalokasikan sejumlah dana dan sebuah sistem di mana kalau terjadi kecelakaan di jalan raya, pesepeda dapat segera dibawa ke klinik / rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Pemegang kartu mendapatkan sticker yang dapat ditempelkan di sepeda / helmnya sebagai tanda bahwa ia adalah bagian dari program ini kemudian perlu segera ditolong. Selanjutnya Pemkot yang akan membayarkan sejumlah biaya untuk pengganti biaya pengobatan tersebut. Mekanismenya tentu perlu diolah lebih lanjut, tapi gagasan utamanya adalah seperti yang saya ungkapkan di atas tadi.

Saya kira hal ini akan menjadi gestur yang sangat jelas bagi warga Bandung dan akan membangun persepsi bahwa seluruh warga kota melalui pemkotnya mendukung penuh warga kota untuk bersepeda dan ikut menjaga dan keselamatan para pesepeda. Manfaatnya, sekali lagi akan kembali bagi kenyamanan warga Bandung secara keseluruhan. Bagi para pesepeda Bandung, tentunya hal ini akan menjadi penambah motivasi, mengingat sudah cukup banyak catatan peristiwa kecelakaan yang menimpa para pesepeda Bandung. Bagi yang berpikir akan mulai bersepeda hal ini tentunya akan menjadi dorongan besar. Bagi para orangtua, tentunya akan lebih legowo mendorong anak-anaknya pergi ke sekolah dengan bersepeda.

Demikian gagasan dan pemikiran ini saya sampaikan - sebagai masukan bagi kang Emil dan jajarannya. Selanjutnya semoga bisa diolah lebih lanjut dan apabila memang memungkinkan direalisasi, tentunya ini akan jadi berita yang sangat menggembirakan bagi kita semua warga Bandung. Terima kasih.

Salam Bandung Juara.

gagasan ini disampaikan kepada Pemkot Bandung melalui situs BandungJuara.com | kolom Aspirasi | 8 Desember 2013

Sunday, November 10, 2013

menjadi pahlawan... [refleksi hari pahlawan]

Dalam perjalanan saya lebih dari sepuluh tahun terakhir, di bidang pendidikan, saya memang banyak berjumpa dengan berbagai sosok guru... Yang berjuang bersama - di sekolah kecil yang disebut Rumah Belajar Semi Palar maupun juga para pendidik yang saya temui di luar Semi Palar. Dulu di bangku sekolah, guru sempat mengajari kita semua sebuah lagu berjudul Himne Guru, yang lirik awalnya adalah "Terpujilah wahai engkau Ibu, Bapak Guru." Saat sekarang mengelola sebuah sekolah, entah kenapa ada perasaan tidak pas dengan gagasan mengajarkan lagu tersebut kepada murid-murid di sekolah. Terasa seperti ada sebuah 'narsisme' saat kita sebagai pendidik mengajarkan anak-anak kita lagu tersebut - terlepas bahwa lagu itu lagu yang lirik dan isinya cukup baik. Tapi ya entah, kok perasaan itu cukup kuat muncul dalam diri saya.

Hari ini peringatan hari Pahlawan 10 November. Kita mengenang jasa-jasa para pahlawan kita yang memungkinkan kita hidup dalam situasi hari ini. Sebuah posting pendek di grup fb - Rumah Belajar Semi Palar dari seorang murid berbunyi "Selamat Hari Pahlawan". Entah kenapa saya tergelitik untuk meresponnya. Mungkin ada hubungannya dengan apa yang tertulis di atas tadi.

Merefleksi Hari Pahlawan yang diperingati hari ini, kata 'ikhlas' menjadi satu kata yang ingin saya ulas di sini. Kalau dipikir, keikhlasan menjadi sirna saat kita sendiri yang mengatakannya. Sebuah kata yang tidak bisa kita sebutkan atau kita gunakan untuk melabeli apapun yang kita lakukan. Teringat sesuatu yang disampaikan pemateri di satu sesi kuliah ECF (Extension Course - Filsafat) di Unpar beberapa waktu lalu, bahwa saat kita berkata "Ngga kok, saya ngga minta apa-apa, Tuhan tahu apa yang saya lakukan" - apa yang sepertinya ikhlas juga akhirnya pupus nilai keikhlasannya - karena kita menyimpan harapan Tuhan tahu apa yang kita lakukan. Kita masih mengharapkan imbalan. Sepertinya kita perlu belajar dari para pahlawan kita - yang bahkan sampai mengorbankan jiwa raganya - bahkan dengan pengetahuan bahwa mereka tidak akan menikmati hasil perjuangan itu, proses itu - perjuangan itu tetap mereka lakukan, jalan itu tetap mereka ambil.

Saat ini banyak hal begitu lebur dengan segala teori, sistem, jargon dan cara berpikir modern - yang setelah dipikir-pikir justru sangat terbelakang. Dalam pola pikir masyarakat modern, saat kita bekerja, kita banyak mengukur apa yang kita lakukan dengan profesionalisme. Supaya profesional, harus dihargai dong... supaya berkualitas, ada harganya dong yang harus dibayar, dan seterusnya - dan seterusnya. Di jaman sekarang ini, hal-hal yang diwarnai keikhlasan - yang notabene nilainya tinggi (tidak terbayarkan) memang sudah sulit ditemukan. Di sebuah forum di Gedung Indonesia Menggugat - beberapa waktu lalu - kang Tjetje sempat menyampaikan, dulu kalau pimpinan mengatakan harus pindah tugas, kita segera bergerak - siap melaksanakan tugas. Sekarang apa yang diributkan adalah Biaya Perjalanan Dinas lah, ini lah, itu lah... Dulu mempertanyakan hal-hal tersebut - seperti istilah kang Tjetje adalah HINA!

Orang sering lupa bahwa mereka yang betul-betul bekerja dengan keikhlasan-lah - yang sungguh-sungguh sepenuh hati merekalah yang akhirnya memunculkan performa dan profesionalisme yang tinggi. Pada saat yang sama karena mereka tidak berhitung dan tidak mengukur, dedikasi dan integritasnya justru melimpah tidak terukur. Sebagai catatan, sama halnya dengan keikhlasan, dedikasi atau integritas-pun adalah sesuatu yang tidak berbunyi / kosong saat kita sendiri yang mengucapkannya sendiri - bagaimanapun cara mengungkapkannya...

Saya beruntung masih bisa bertemu dengan mereka yang betul-betul bekerja dengan dasar keikhlasan - beberapa di antaranya menjalani profesi sebagai guru. Kalaupun bukan guru, buat saya mereka adalah guru karena sangat menginspirasi. Bagi saya mereka adalah pahlawan, dan saya tidak perlu menyebut siapa namanya, karena saya yakin mereka ini-pun tidak peduli... Banyak peristiwa di hari-hari ini yang mendorong munculnya catatan refleksi ini. Jujur ada kegelisahan saat keikhlasan semakin langka ditemukan hari-hari ini. Karena saat inspirasi juga sulit ditemukan, dari mana anak-anak kita kelak mendapatkan keteladanan?

Peringatan Hari Pahlawan - 10 Nopember 2013 - pukul 10 malam... 




Sunday, September 22, 2013

memetakan situasi anak-anak kita hari Ini.

Belum lama ini saya diminta oleh rekan-rekan KAIL (Kuncup Padang Ilalang - sebuah kelompok pemberdaya komunitas di Bandung) untuk menyusun sebuah tulisan dengan judul Menilik Realitas Anak Jaman Sekarang. Tulisan tadi sangat berhubungan dengan apa yang saya ulas lebih jauh di sini.

Sebetulnya hal ini sudah jadi pemikiran yang cukup panjang. Semakin jauh berbagai hal semakin terlihat saling terkait, sehingga untuk mengatasi persoalan ini perlu juga solusi yang komprehensif dan saling mendukung. Berikut ini mind-map yang saya coba buat untuk memetakan situasi yang sekarang ini ada dan dihadapi anak-anak kita.


Create your own mind maps at MindMeister

Friday, September 13, 2013

promosi gratis (bagi) produk2 ramah lingkungan

Masyarakat modern sekarang ini sudah sangat beralih dari pola hidup memproduksi ke pola mengkonsumsi. Sekarang hampir semua kebutuhan hidup kita beli, nyaris tidak ada lagi yang kita buat / hasilkan sendiri. Hal-hal yang hand-made atau homemade jadi hal-hal yang langka. Sesuatu yang tidak banyak lagi kita lihat. Kalau kita ingat, nenek, atau mungkin ibu kita dulu memasak sendiri makanan kita sehari-hari. Saat ini, bahkan 'masakan rumah'- pun dijadikan jargon untuk berjualan.

Dulu ibu kita menjahitkan baju-baju kita sehari-hari. Beliau menjahit kemeja dan baju sekolah bagi kita anak-anaknya. Waktu kemudian beranjak di mana ibu kita punya langganan tukang jahit yang bisa dipanggil ke rumah atau kepada siapa beliau menitipkan baju jahitan kita. Sekarang lemari baju kita dipenuhi baju-baju yang kita beli di toko, di department store FO ataupun kalaupun lebih keren lagi di Distro dan di butik-butik. Sudah tidak ada lagi baju kita yang tanpa label merek. (Hampir) semua kita dapatkan dengan membeli.

Lalu apa maksud tulisan ini? Tulisan ini bukan bertujuan romantisme, tapi lebih jauh mengajak kita sadar bagaimana pola konsumerisme ini berdampak ke alam lingkungan kita. Segala sesuatu yang kita beli pasti membawa bersamanya sampah. Membeli tahu isi dan cireng-pun pasti menggunakan kemasan. Pedagang pasti menyiapkan kantong kertas dan setidaknya kresek kecil untuk para pembeli. Sementara bendanya kita manfaatkan, kemasan / atau bungkus hampir tidak kita gunakan dan akhirnya kita buang ke tempat sampah dan akhirnya ke timbunan sampah raksasa di suatu tempat di atas muka bumi ini... tempat tinggal kita dan lain2 penghuninya. Tidak ada sebetulnya yang namanya membuang sampah (getting rid of), karena kita hanya memindahkan sampah, mengalihkannya dari dekat tempat tinggal kita, ke suatu tempat.

Beberapa waktu lalu di Jakarta, di sebuah acara kumpul keluarga, tersaji hidangan Nasi Begana dan Nasi Langgi yang dibungkus daun pisang. Lama sekali saya sudah tidak menjumpainya. Senang sekali saat melihat bahwa tidak ada kemasan styrofoam atau kardus sekalipun yang digunakan. Artinya, setelah makan, kita tidak lagi membebani lingkungan kita dengan bahan-bahan yang tidak terurai seperti plastik atau styrofoam.
Apa yang dari alam (organik) akan betul-betul kembali ke alam - akan terurai dan kembali menjadi bagian dari siklus alamiah kehidupan di muka bumi ini.


Kemudian sebuah gagasan muncul, bagaimana jika kita para konsumen membantu mempromosikan bentuk-bentuk usaha yang seperti ini. Mereka yang tidak sekedar mencari kepraktisan / kemudahan tetapi juga memikirkan dampaknya bagi lingkungan hidup. 

Ayo kita promosikan - lewat jejaring sosial - agar perusahaan-perusahaan ini juga melihat bahwa hal-hal seperti ini kita apresiasi. Dan upaya - kerepotan mereka terbayarkan dengan kita para konsumen yang ikut mempromosikan produk mereka secara gratis. Di sisi lain, kita bisa berharap bahwa produk-produk lain yang belum melakukannya termotivasi untuk beralih ke kemasan-kemasan yang semakin ramah lingkungan. 

Kita bisa foto produknya, dan sebutkan bagaimana produk tertentu ini ramah lingkungan - lalu postingkan di jejaring sosial ,facebook misalnya. Untuk produk elektronik sebagai contoh, sudah cukup banyak produk-produk yang sudah tidak menggunakan styrofoam untuk pengaman produknya, tapi menggunakan limbah kertas yang dicetak. Tentunya ini sangat lebih baik dibandingkan styrofoam. 

Lalu manfaatnya? Tentunya manfaatnya untuk kita semua, untuk planet kita ini, tempat tinggal kita satu-satunya, tempat tinggal anak cucu kita... Kenapa kita perlu melakukannya? karena ...


ini bukan masalah orang lain... 

Sunday, September 1, 2013

ngabandungan tema Pendidikan bersama kang Emil

Hari Minggu tanggal 1 September di Gedung Indonesia Menggugat, kang Emil (Ridwan Kamil - walikota terpilih kota Bandung) kembali menggelar even ngabandungan kali ini dengan tema Pendidikan - menyusul tema-tema lain yang mendahuluinya. Saya menyempatkan hadir - karena tidak seperti calon-calon walikota lainnya kang Emil setidaknya bagi saya pribadi membawa harapan besar bagi perubahan di kota Bandung, tentunya besar juga harapan bahwa reformasi akan terwujud di bidang Pendidikan. Dalam pembukaannya Kang Emil berkisah bahwa ia datang dari keluarga pendidikan. Pendidikan jugalah yang menjadikannya seperti manusia dan pemimpin di hari ini. Sayapun meyakini kang Emil memahami dan menghayati betul pentingnya mendapatkan pendidikan yang baik. 

Menjelang pukul 9 pagi, ruang utama sudah dipenuhi pengunjung. Guru, orangtua, dosen, praktisi pendidikan, aktifis komunitas, pemerhati juga anak-anak hadir di sana. Saya kira semua yang hadir membawa antusiasme yang sama bagi kang Emil dan tentunya berharap menyampaikan aspirasi mereka kepada kang Emil.


Terlalu panjang menguraikan apa saja yang disampaikan oleh rekan-rekan yang hadir. Sayapun menduga forum akan menjadi luapan aspirasi masyarakat pendidikan Bandung karena selama ini, pimpinan kota hampir tidak menaruh peduli pada dinamika yang terjadi di dunia pendidikan di Bandung. Memang situasinya seperti balon udara yang terus menerus dipompa dan mendadak dilepaskan sumbatannya. Jenuh, dan kemudian membeludak. Sayapun memutuskan untuk juga ikut ngabandungan (mendengar dengan segenap hati) dan berharap bisa membaca situasi dari apa yang muncul di forum ini. Hasilnya saya tuangkan dalam mind-map di bawah ini. (Mind-map ini mudah-mudahan bisa saya update dari waktu ke waktu)


Create your own mind maps at MindMeister

Secara umum, memang di tataran birokrasi pendidikan sendiri pengelolaan pendidikan Bandung memendam banyak masalah. Birokrasi sebagai struktur / tiang-tiang pendukung penyelenggaraan pendidikan, bahkan pondasinya pun tidak dibangun dengan kokoh. Tidak punya kekuatan, hampa, keropos, miskin integritas, akibatnya memang struktur ini tidak mampu mendukung penyelenggaraan pendidikan yang bermutu di kota Bandung. 

Memang tidak terlalu mudah dibaca dari mind-map di atas, tapi saya memperkirakan bahwa apa yang diungkapkan para hadirin 90-95% adalah masalah masalah yang berkaitan dengan manajemen pendidikan di Bandung. Baru sekitar 5-10% konten  bicara substansi pendidikan - seperti mengenai UN misalnya. Inilah realita pengelolaan pendidikan di kota Bandung. Seperti kang Emil sampaikan, ini harus dibangun ulang mulai dari pondasinya dan tentunya perlu waktu sebelum menampakkan hasilnya. Pondasi, kita semua tahu, tertanam di dalam tanah dan tidak terlihat, tapi merupakan bagian bangunan yang paling penting karena menentukan bangunan seperti apa yang bisa kita bangun di atasnya kelak.



Dari forum hari ini, kita (kang Emil) mencatat ada tambahan sekitar 120 poin masukan dari pertemuan singkat yang hanya 2 jam. Pekerjaan memang banyak - dan saya sependapat, ini bukan pekerjaan kang Emil seorang. Ini adalah persoalan warga kota sekaligus pekerjaan warga kota juga, apalagi kita bicara pendidikan. Saya bersepakat untuk satu frasa, apabila kita bukan bagian dari solusi, maka kita adalah bagian dari permasalahan (if you are not part of the solution, then you are part of the problem).

Apabila kita bisa membantu kang Emil memetakan permasalahan pendidikan di Bandung sekaligus juga memetakan potensi warga - di mana kita, individu maupun kelompok sudah melakukan inisiatif-inisiatifnya secara mandiri maka kita akan punya peluang besar mengatasi masalah ini. Pemetaan masalah dan potensi seperti yang dilakukan kang Emil - salah satunya melalui forum-forum seperti ini adalah pijakan awal untuk kolaborasi dan sinergi antara seluruh komponen warga kota. Semoga kita bisa. 

Tuesday, June 25, 2013

Morning sun

Well this is what I see when I opened up our tent...
The tune 'what a wonderful world' sprung to my mind... 

Bulan gemilang

Malam ini aku, Rico, Gio dan Obi tidur di dalam tenda di bawah sinar bulan yang gemilang. Langit luar biasa jernih dan bulan yang begitu terang menyirami kami dan segala di sekitar kita dengan cahayanya yang lembut. Di luar suara kodok dan jangkrik mengerik bersahutan melengkapi suasana malam yang tenang.

Begitu jarang kita berada dalam suasana seperti ini. Tenda masih terbuka, rumput basah dengan mudah kita sentuh dalam jangkauan jemari tanpa tubuh kita harus beranjak. Udara malam dihembuskan angin yang bertiup perlahan membelai wajahku.

Betapa nikmatnya, betapa indahnya momen-momen sepert ini di mana kita betul-betul merasa ada di dalam genggaman semesta.

Waktu menunjukkan 23.18. Cahaya lilin di luar tenda semakin temaram. Tubuhpun memanggil untuk beristirahat. Semoga istirahatku sempurna malam ini.

Suka Ampat, Lembang.

Friday, March 29, 2013

Create and Live

Saya percaya manusia, setiap yang manusia dianugerahi hidup, dikaruniai kehidupan oleh Sang Kuasa membawa bersamanya maksud-tujuan-pemaknaan Ilahiah tertentu.

Kehidupan sebagai buah kreasi Ilahi, adalah sebuah rangkaian keajaiban yang tidak ada habisnya. Kita mulai dari proses tumbuh kembang janin di dalam rahim seorang ibu, yang kemudian lahir sebagai bayi dan selanjutnya berkembang menjadi manusia dewasa. Proses kelahiran dipicu oleh munculnya hormon dalam tubuh ibu dan sang janin, saling menandai saat mana sang Ibu dan sang janin - keduanya sudah siap masuk ke dalam proses persalinan. Proses yang menghantar sang janin lahir ke dunia. Perjuangan si kecil menerobos jalan lahir dari rahim sang ibu lahir ke dunia fana ini juga tidak kalah menakjubkan - karena ternyata di sinilah proses kehidupan manusia kecil ini dimulai, perjuangan di jalan lahir inilah yang akan menyiapkan sang bayi menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan di kehidupannya kelak. Sebelum proses kelahiran ini, selama 9 bulan terjadi sebuah proses luar biasa bagaimana sang janin berkembang dari satu sel menjadi manusia kecil yang serba kompleks - dengan segala fungsi jasmaniah yang membalut raganya, dengan kecerdasan otaknya yang mampu memahami semesta, dengan ragam perangai yang tak terhitung jumlahnya, dengan kesadaran-kesadaran dirinya yang tak mungkin terdefinisikan...

Rangkaian keajaiban tadi dimulai saat bertemunya satu dari jutaan sel sperma dengan sel telur, setelah melalui proses yang tidak kalah luar biasanya, setelah bertemunya dua orang dari sekian banyak individu di muka bumi ini - yang dalam balutan cinta kasih kemudian saling meyakini bahwa dialah pasangan hidupku.

Lalu untuk apakah kehidupanku saat aku sudah bisa berdiri, berpikir, bersikap dan bertindak...

Orang jawa bilang 'urip mung mampir ngombe'... mungkin ada benarnya, tapi ungkapan ini juga ada yang kurang, karena lalu apa maknanya segala proses keajaiban yang kita lalui hanya kita jalani tanpa membuat perubahan di muka bumi ini?

Create and Live. Kata-kata yang saya pilih untuk menamai blog saya ini adalah keyakinan saya bahwa seperti halnya hidup adalah kreasi ilahi, sebaliknya hidup kita harus juga menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu, saya yakini adalah kebaikan-kebaikan - apapun wujudnya. Sepanjang kita diberi nafas, kita harus berikhtiar untuk menciptakan kebaikan-kebaikan, bukan untuk diri kita semata, tapi juga untuk semesta, untuk lingkaran di luar diri kita. We all have to leave some legacy. Kita harus meninggalkan sesuatu yang baik untuk generasi mendatang. Sehingga generasi demi generasi, setiap individu yang hadir - dilahirkan di muka bumi ini bisa meyakini bahwa hidup, kehidupan adalah memang buah keajaiban yang dihadirkan Sang Kuasa...

Saat kita berkreasi, mencipta, saat itulah kita hidup... saat itulah hidup kita menjadi bermakna...

Fast Food Junk


Belum lama ini kami sekeluarga memutuskan mampir ke sebuah rumah makan fast food untuk makan pagi bersama. Kalau diingat sudah lama sekali mungkin sudah tahunan tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Fast food memang bukan kegemaran kami. Kalau tidak karena terpaksa fast food sedapat mungkin kami hindari.

Pagi ini, dimotivasi oleh keisengan semata, kamipun mampir ke sana.

Setelah sarapan sekedarnya, dengan segala perasaan kebingungan, kami mencoba menginventaris sampah yang dihasilkan dari acara santap pagi barusan. Betapa banyak sampah yang dihasilkan hanya untuk menyajikan sarapan yang sekedarnya - yang disantap hanya dalam hitungan menit dan nutrisinya mungkin hanya menguatkan kita sampai siang hari belaka. Sungguh tidak masuk akal.

Foto di bawah ini menggambarkan sampah yang dihasilkan dari satu set pesanan makanan pagi di sebuah restoran siap saji.

Apakah kita akan kembali lagi ke sini? Tentu tidak. Sama sekali tidak. Posting ini hanya untuk mengingatkan bagaimana kenyamanan - kepraktisan hanya akan menimbulkan keburukan pada lingkungan hidup kita. Semoga kita semua belajar untuk lebih peduli dengan mengambil keputusan-keputusan yang berdampak sesedikit mungkin terhadap lingkungan hidup kita. Semoga...

Sunday, March 10, 2013

Aku dan membaca

pengantar : 
Posting ini saya ambil dari tulisan yang saya sharingkan setelah kesepakatan bersama para kakak di Smipa untuk saling membagikan pengalaman membaca setelah kami mendiskusikan bersama betapa pentingnya membaca dalam proses pembelajaran - sebagai sebuah materi di hari Rabu Belajar - Rumah Belajar Semi Palar. Sejalan dengan ini, di sekolah Semi Palar kami mencoba sebuah gerakan bersama membudayakan membaca yang diberi judul kegiatan Jaba Waskita.
 

Sekolah itu Candu | #resensibuku | #kakAndy

Sekolah itu Candu adalah buku pertama tentang pendidikan yang saya baca di sekitar tahun 1999-2000an. Buku ini saya dapatkan dari Toko Buku Kecil - yang dirintis teman saya Tarlen - yang bertempat di salah satu ruangan di komunitas Trimatra Center. Saya mengambil contoh buku ini karena buku inilah yang menurut saya sangat transformatif - mengubah - bukan sekedar cara berpikir saya - tapi juga jalan hidup saya sampai hari ini. Bisa dibilang Semi Palar ada hari ini karena buku inilah yang saya ambil dari rak buku Tobucil dan saya pilih untuk saya jadikan bacaan saya saat itu.

Mengenai isinya, seperti apa yang tertulis sebagai judul, buku ini memang sangat kritis dan (mestinya) memprovokasi pola berpikir pembacanya. Paling tidak buku ini telah memprovokasi pemikiran saya dan dalam proses selanjutnya telah mendorong berdirinya sebuah sekolah yang bernama Semi Palar.

Banyak buku yang merubah cara saya berpikir dan memandang banyak hal. Itulah sebabnya saya menjadi suka membaca buku. Sewaktu saya sekolah dulu, buku sifatnya rekreatif - karena buku membawa imajinasi saya berpetualang ke mana-mana. Buku-buku karya Karl May dengan tokoh legendarisnya Winnetou dan Old Shaterhand adalah buku-buku yang sangat membawa kesan bagi saya.
Mengenai pembelajaran, saya suka bukunya Andrias Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar. Di sisi spiritualitas, pertama saya baca bukunya James Redfield yang berjudul The Celestine Prophecy. Satu hal dari buku ini yang sekarang saya jadikan 'mantra' saya adalah :'Everything happens for a reason' atau 'tidak ada peristiwa yang sifatnya kebetulan', semua punya maksud, semua punya makna...
Setelah itu saya juga sangat terinspirasi buku2 Eckhart Tolle yang berjudul 'The Power of Now', kemudian seperti juga kak Taufan, novelnya Paulo Coelho 'The Alchemist' sangat berkesan bagi saya. Satu lagi juga buku yang buat saya 'powerful' adalah 'Conversation With God' karangan Neale Donald Walsch.

Demikian sharing saya untuk teman2 semua tentang membaca bagi diri saya. Semoga bermanfaat. O iya, kalau ada buku2 yang ingin dipinjam - dengan senang hati. Salam.

Kalau ingin tahu lebih jauh, judul2 buku lain yang saya baca saya simpan link-nya di sini:
Springpad dan Goodreads