Friday, December 18, 2009

berobat alternatif

Beberapa minggu lalu saya mengantar istri ke satu tempat praktek pengobatan alternatif di sekitar jalan Gunung Batu - sekitar 2 kilometer dari pintu tol Pasteur menuju Cimahi. Ahli pengobatannya dikenal sebagai pa' Yeyep. Setelah mencari2 menerobos gang kecil (yang lebih kecil dari gang senggol) dan berliku-liku (seperti labirin) akhirnya tempatnya ketemu juga. Setelah parkir kendaraan kamipun diantarkan oleh seorang anak muda ke tempat pengobatan tersebut. Kami harus berjalan kaki memasuki gang2 kecil sempit dan belak-belok untuk menemukan tempat tersebut. Di sana sudah cukup ramai menunggu para pasien. Sayapun cari tempat menunggu dan duduk di sana.

Tempatnya sangat sederhana. Sebentar kemudian saya mulai ngobrol dengan seorang bapak yang ada di sana. Beliau datang dari Padalarang. Tak lama pembicaraan bergeser ke pengobatan alternatif vs. berobat ke dokter. Obrolan pun tambah seru setelah bergabung lagi seorang bapak dari Majalaya, lalu seorang lagi yang tinggal di daerah Cipedes. Intinya sih mereka sudah tidak cocok lagi pergi ke klinik, atau ke dokter (baca : pengobatan modern) Akhirnya merekapun berobat ke sini (baca : pengobatan alternatif). Ada seorang ibu yang bercerita suaminya sembuh dari kanker. Tentunya cukup menarik saat cara pengobatan seperti Pak Yeyep ini mendatangkan pasien dari banyak daerah yang cukup jauh sampai dari Tasikmalaya maupun daerah2 lainnya.

Tanpa disadari kamipun sudah sangat menghindari pergi ke dokter. Kedokteran modern (yang disimbolisasi oleh orang2 memakai jas warna putih, kadang berdasi) memang dibentuk oleh ilmu pengobatan dari Barat. Mereka-lah yang akhirnya mendefinisikan segala sesuatu yang disebut sebagai ilmu pengobatan. Tapi apakah betul ilmu2 tersebut membawa kemajuan? Buat saya ini tanda tanya besar. Dalam hal teknologi mungkin betul, tapi secara pengobatan (medikasi) saya merasa sangat tidak yakin. Setau saya pengobatan dari Barat mendefinisikan kesehatan dengan ketiadaan penyakit (the absence of illness). Tapi ilmu pengobatan Timur mendefinisikan kesehatan secara lebih luas, lebih holistik, termasuk di dalamnya keseimbangan lahir batin, jasmani rohani bahkan menelaah keharmonisan individu dengan lingkungan sosialnya.

Mendengar dan melihat sendiri Pa Yeyep in action, it's like magic. Seperti ga masuk akal! Tapi ya itulah kelebihan dia. Salah satu manusia yang dianugerahi kelebihan2 natural untuk melihat dan mendeteksi kelainan2 kesehatan pasien2nya, beliau mampu mendeteksi kesehatan tubuh melalui telapak kaki pasiennya. Dengan 'membaca' aliran darah pasiennya, Pak Yeyep mampu menyebutkan tekanan darah, kadar asam urat, kolesterol dan lain sebagainya dengan akurat. Beliau juga menyarankan pasiennya untuk membandingkan hasil pengukurannya ke lab. Dan dari apa yang saya ketahui, hasil pengukuran Pa Yeyep yang tanpa alat sangat sangat akurat dibandingkan hasil pemeriksaan Lab.

Mengamati bagaimana dokter2 sekarang bekerja, obat2 yang diresepkan, cara dan pendekatan pengobatan yang 'canggih', teknologi yang digunakan, cara kerja Pa Yeyep sepertinya sederhana sekali. Tapi sepertinya disitulah letak keunggulannya. 'Non invasive' mungkin istilahnya. Metode yang tidak menginvasi / menyerang tubuh pasien. Pengobatannya yang dilakukan Pa Yeyep dengan terapi juice, juga terdengar sederhana sekali. Tapi ya itulah kelebihan pengobatan Timur, di mana yang dilakukan adalah mengembalikan kembali keseimbangan metabolisme tubuh; atau aliran energi (Chi) dalam konteks pengobatan Cina. Dan inilah yang menjadikan pengobatan Timur luar biasa, saat seseorang sakit, yang diperbaiki adalah kondisi dan kekuatan tubuhnya dan kemampuan alami tubuh manusia untuk mengobati sendiri tubuhnya (self healing). Pengobatan Barat, sebaliknya mengobati penyakit dengan cara menyerang penyakitnya dengan obat2an (bahan kimia). Dan inilah yang menjadikan penyakit2 baru bermunculan, karena para penyakit-pun berlomba memperkuat diri dan akibatnya merentankan diri terhadap obatan2 yang terus menerus dihadapinya. Obat dan penyakit 'pakuat-kuat' in a neverending circle. Sampai kapan mau berhenti.

Dokter2 saya pikir tidak mesti menang dalam hal skillnya dibandingkan para pengobat tradisional. Mereka hanya punya ijazah saja, that's all. Sudah semakin banyak orang-orang yang pindah berobat karena pengobatan modern tidak mendatangkan solusi dan dalam kondisi tertentu bahkan memperburuk situasi. Di sisi lain memang banyak praktisi pengobatan tradisional yang tidak betul-betul bisa mempertanggung jawabkan teknik pengobatannya, karena memang tidak memiliki lisensi atau sertifikat. Hal ini memunculkan kesulitan tertentu bagi masyarakat yang ingin mencoba pengobatan alternatif.

Bagi para praktisi pengobatan Timur, pada umumnya mereka harus memiliki suatu bakat atau kepekaan tertentu. Tidak semua orang bisa mempraktekkan pengobatan Timur. Ini juga berbeda dengan ilmu pengobatan Barat. Saya sendiri mengalami beberapa kali berhadapan dengan dokter yang dari sudut pandang saya profesionalitasnya sangat tidak oke. Mungkin soal ijazah itu tadi yang membedakan. Asal punya ijazah, orang bisa jadi dokter, walaupun belum tentu dia praktisi pengobatan yang hebat. Apalagi dengan biaya pendidikan menjadi dokter yang sangat tinggi, dokter2 (dan rumah sakit) sekarang jadi sangat komersial karena harus mengejar 'balik modal'. Dedikasi akhirnya jadi tanda tanya besar di sana.

Satu buku yang saya baca dan menggambarkan kelebihan keduanya ( ilmu pengobatan barat dan timur dan kemudian saling melengkapi) adalah buku The Myracle of Enzyme yang ditulis oleh Dr. Hiromi Sinya. Beliau adalah seorang dokter kelahiran Jepang, yang memperdalam ilmu kedokterannya di Amerika Serikat. Menariknya beliau tidak menghilangkan pemahaman2nya tentang kesehatan yang diperolehnya di Jepang dan justru melengkapinya dengan ilmu kedokteran modern (teknologi kedokteran) dari Barat. Hasilnya beliau adalah dokter yang luar biasa. Sangat menarik bahwa Dr. Sinya tidak pernah meresepkan suatu obat atau melakukan operasi kepada pasien-pasiennya, bahkan untuk penderita penyakit2 yang parah sekalipun (terminal illnesses)

Lalu kesimpulannya apa? Dengan tidak berpretensi merendahkan pengobatan modern yang sudah sangat maju, saya lihat keduanya punya tempatnya masing-masing. Ada hal-hal yang menjadi kekuatan / kelemahan masing-masing. Tapi dari sudut pandang ilmu pengobatan Timur yang lebih holistik / utuh, saya pribadi cenderung mendahulukan pendekatan ini.  Dari sudut pandang spiritualitas, sepertinya ilmu pengobatan timur punya penghormatan yang lebih tinggi terhadap tubuh manusia sebagai entitas yang utuh, sakral dan tidak bisa dipilah-pilah. Kita masing-masing yang bisa menentukan pilihan.

Peta Lokasi : 


View Yeyep Juice Therapy in a larger map

Powered by ScribeFire.

6 comments:

irma said...

hi...boleh tau gak setelah berobat kesana, ada manfaatnya gak? Trims...

nday said...

Hi Irma, makasih udah mampir. Kami sudah tiga kali mampir ke sana, yang kali kedua, istri saya sempat kram perut, diare dan muntah2. Kami sempat bingung, ke dokter atau ke pa Yeyep. Akhirnya kamipun memutuskan ke pa Yeyep, segera setelah dipijat-pun rasanya sudah jauh lebih enak. Tentunya dilanjutkan terapi Juice. Kalau kita ke dokter atau rumah sakit, sudah hampir pasti kita diminta periksa lab, lalu diberi obat untuk 'menekan' muntah atau diarenya dst, dst. Begitu. Kalau boleh disimpulkan ya pasti bermanfaat. Makasih ya...

Dadan said...

Mau Coba ah ....

Liez Agustieni said...

assalamualikum pa Nday....menarik sekali dengan postingannya...sya mempunyai niatan jg pengen terapi ksana,sebab teman saya jg terapi kandungan kesana,alhamdulillah berhasil...kira2 bisa memberi info alamt lebih lengkap pak?trims...

puti said...

Pak Nday, boleh tau alamat persisnya dimana? nama gang nya? atau ada no telp yg bisa dihub, kalo sabtu minggu buka ga ya pak? terima kasih

sinetzu harakito said...

saya mau nanya apa benar pak yeyep telah meninggal akibat kecelakaan?