Saturday, November 5, 2011

Memandang Situasi (Permasalahan) Pendidikan di Indonesia


Pendidikan: satu kata ini punya bobot dan kompleksitas luar biasa tertanam di dalamnya. Sangat sulit apabila kita mencoba menguraikan atau mendefinisikan apa yang direpresentasikan oleh satu kata ini. Sama halnya seperti saat kita bicara tentang manusia. Kompleks, luar biasa kompleks. Kata ‘pendidikan’ di dalam benak saya mencakup di dalamnya kata-kata besar lainnya seperti : masa depan, manusia, proses, holistik, budaya dan masih banyak lainnya. Pendidikan sama sekali bukan satu hal yang sederhana, mudah diolah dan bisa dengan sekejap dipahami. Dengan demikian, apabila pengelolaan pendidikan tidak dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati secara tepat dan sesuai dengan kompleksitasnya, semestinya pendidikan juga berpotensi memunculkan banyak masalah. Walaupun dari sisi sebaliknya, pendidikan berpotensi menyelesaikan berbagai masalah kalau pertama-tama ia bisa dipandang secara tepat dan menyeluruh (holistik). Cara pandang, paradigma atau mind-set menjadi pijakan yang menentukan bagaimana kemudian kita bisa mengambil sikap dan tindakan (action) dalam konteks mengelola pendidikan.

Sejauh pengamatan selama ini, di republik ini tampaknya hampir segala permasalahan didekati dan dipandang dengan sudut pandang yang simplistik dan parsial. Hal ini sepertinya terjadi di semua level, dari pembuat keputusan dan penentu kebijakan (level birokrasi), lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, masyarakat, guru, orangtua murid. Masing-masing tampaknya punya kesulitan untuk memandang persoalan pendidikan secara tepat.  

Contoh sederhana – situasi yang sejak dulu kita alami – adalah bagaimana pemerintah memberlakukan Kurikulum Nasional, di mana segala sesuatunya distandarisasikan. Mulai dari materi – kurikulum, buku pegangan, tema, panduan pembelajaran, segala sesuatu ditentukan pemerintah – dengan sudut pandang meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini dilakukan tanpa meninjau lebih dalam substansi dan implikasi dari apa yang ditetapkan. Secara sepintas standarisasi merupakan solusi yang tepat untuk membangun pendidikan yang berkualitas. Tapi implikasinya luar biasa besar, karena di dalam pendidikan, banyak permasalahan yang perlu ditelaah sesuai konteksnya, banyak hal yang sifatnya kualitatif, dan tidak bisa dengan mudah distandarisasi. Contohnya, saat keberhasilan pendidikan hanya dipahami sebagai jumlah peserta didik yang lulus sekolah formal, memegang ijazah atau melek huruf - sesederhana itu - maka akan banyak hal penting bahkan esensial yang kemudian hilang dan terabaikan. Bahayanya, kita semua merasa proses pendidikan sudah berhasil dijalankan dan hasilnya seakan berkualitas, tapi karena substansi pendidikan yang sesungguhnya tidak tersentuh tentunya dengan segera bisa disimpulkan bahwa upaya pendidikan yang dijalankan adalah gagal.

Seragam nasional - salah satu contoh favorit saya - adalah salah satu contoh pendekatan simplistik. Kebijakan ini diterapkan pemerintah untuk ‘menghilangkan persepsi perbedaan’ di kalangan siswa. Tujuannya adalah supaya semua pelajar – di manapun juga – tampil serba sama. Walaupun kita tahu bahwa hakekatnya, perbedaan itu tetap ada dan sangat perlu dipertanyakan apakah perbedaan itu perlu dihilangkan? Apakah kecerdasan para siswa bisa dikelabui dengan cara ini, tentunya tidak. Secara substansial, kalau bicara pendidikan, semestinya yang dilakukan para pendidik adalah mengajak peserta didiknya untuk menerima dan menghargai perbedaan. Bagi mereka yang lebih mampu, kepekaan sosial dan empati adalah hal yang perlu ditumbuhkan. Sebaliknya bagi para murid yang secara ekonomi memang terbatas atau tinggal di pelosok, tantangan pendidikan bagi para guru adalah bagaimana membangun percaya diri dan keyakinan bahwa dengan belajar dan berusaha mereka bisa maju dan menjadi cerdas dalam konteks kehidupannya di desa.

Bagai satu kepingan dari satu gambar besar kehidupan bangsa dan bernegara, masyarakat pedesaan juga punya posisi dan kepentingan eksistensinya tersendiri – seperti halnya masyarakat yang hidup di perkotaan. Anak-anak yang tinggal di tepi rimba harus belajar dan menyadari adalah menjadi tugasnya untuk menjaga kelestarian rimbanya. Apakah setiap anak Indonesia harus paham bagaimana mengerjakan soal2 kalkulus, tentunya tidak. Sebaliknya kita butuh anak-anak Indonesia yang betul-betul memahami bagaimana seluk beluk rimba di tempatnya tinggal, bagaimana keragaman hayatinya, dan bagaimana menjaga kelestariannya agar membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan banyak orang. Bahwa anak-anak tersebut tidak bisa berbahasa Inggris atau mengoperasikan komputer, tentunya itu tidak membuat mereka menjadi lebih bodoh dan tidak bernilai.

Masalah dan kebutuhan pendidikan bagi anak jalanan, bagi anak di kota besar, bagi anak2 rimba ataupun yang hidup di gunung – dan sebaliknya di pesisir, tentu berbeda. Berbeda karena kebutuhan dan situasi kehidupan mereka berbeda. Kita tentu sepakat bahwa pendidikan adalah hak untuk semua, tapi apakah sasaran dan tujuan pendidikan harus disamakan untuk semua? Tentunya tidak. Tujuan pendidikan, kalau bisa didefinisikan sederhana sebagai upaya meningkatkan kemampuan individu mengolah kehidupannya menjadi lebih baik, tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan para peserta didiknya. Bisa dibilang, upaya pendidikan dimanapun harus dimulai dari sudut pandang dan pijakan yang sangat lokal. Bagi anak jalanan, kehidupan jalanan tentu adalah pijakan dasarnya – konteksnya. Bagi anak di desa, kehidupan di desa adalah situasi kehidupan nyatanya dan ini mutlak menjadi konteks pembelajarannya agar proses belajar anak2 berakar dan punya makna. (Dalam prosesnya, di satu titik tertentu bagi peserta didik tertentu, konteks pembelajaran bisa dan perlu berkembang menjadi lebih luas, bisa menjadi nasional, bahkan global.)

Sejauh apa yang saya pahami lewat diskusi dengan teman2, berkunjung ke beberapa sekolah maupun komunitas / kelompok non formal, dari mengalami, mengamati dan berusaha memahami seujung kecil dari samudera pendidikan, saya yakin persoalan pendidikan tidak mungkin diatasi dengan pendekatan atau cara pikir simplistik. Tidak ada cara mudah atau sederhana di dalam pendidikan. Kenapa demikian, jawabannya mudah. Karena manusia secara individual adalah entitas ciptaan Tuhan yang maha kompleks. Tempatkan manusia di dalam konteks sosial dan ekologinya, di dalam masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya, kompleksitasnya dengan sendirinya menjadi berlipat-lipat. Sistem pendidikan yang dibangun – dalam skala nasional, tentunya menjadi sangat kompleks.
Dalam skala lokal, sebetulnya bisa sangat sederhana. Saya kira penyelenggaraan pendidikan justru akan lebih berhasil apabila pemerintah berperan mengelola segala kerenikan lokalitas masyarakat kita dalam satu sistem pendidikan yang sifatnya memberdayakan lokalitas setiap daerah. Belum lama ini, Departemen Pendidikan Nasional kembali berubah nama menjadi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kebudayaan daerah yang begitu kaya dan beragam adalah sumber luar biasa bagi proses pendidikan masyarakatnya. Konsep-konsep otonomi pendidikan bisa sangat nyata diwujudkan di sini.

Buat kita, penting untuk kita sadari bahwa kita semua adalah output / keluaran dari proses pendidikan simplistik yang selama ini kita terima. Masyarakat kita adalah masyarakat yang pola berpikirnya simplistik, dan oleh karenanya tidak pernah pikir panjang – dan sulit berpikir komprehensif – sebagai hasil pola pendidikan yang dulu kita terima. Ke-instan-an sebagai salah satu dampaknya adalah suatu pola yang jadi biasa. Ingin serba cepat dan tidak sabar berproses. Kemudian soal dampaknya, bagaimana nanti… Hal itu yang terus terjadi. Dikombinasikan dengan budaya yang serba mementingkan kemasan dan penampilan, lengkaplah sudah kelemahan mendasar masyarakat kita. Saat pola pikir ini juga dibawa dalam pola-pola membangun sistem pendidikan bagi bangsa ini, kita akan terus terperangkap dalam situasi yang serba sama, terjebak dalam pusaran permasalahan bangsa yang itu-itu juga. Saya kira kesadaran ini penting dibawa oleh siapapun yang mengelola pendidikan dalam berbagai skala dan tingkatan, dari mulai pemerintah sampai keluarga. Dari kesadaran itulah kita punya harapan untuk bisa keluar dari pola pikir simplistik yang terus menjebak bangsa kita dan menghambat kita semua untuk maju.

No comments: